Blogger Themes

News Update :

Krisis Remaja Kritis-Ideologis

Sabtu, 02 Februari 2008

Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran. (Corrie Ten Boom)

“Turunkan harga sembako..!”
“Turunkan harga BBM..!”
“Hukum Mati Pelaku Korupsi..”!

bukamata1107.wordpress.com - Itulah sebagian tuntutan yang sering disuarakan mahasiswa terhadap pemerintah. Nggak cuman di ibukota, di daerah-daerah juga suara protes mahasiswa lumayan lantang terdengar. Aturan pemerintah yang tak berpihak pada rakyat kecil, jadi sasaran empuk kaum intelektual muda untuk dikritik. Mulai dari konversi minyak tanah ke gas hingga respon pemerintah terhadap korban bencana. Nggak ketinggalan kebijakan rektor yang dianggap merugikan mayoritas mahasiswa juga ikut diangkat sebagai tema aksi. Asal jangan anarkis ya..

Bukan cuman mahasiswa, sikap kritis juga sering kedapetan ngecengin segelintir pelajar. Meski nggak selalu turun ke jalan dan teriak-teriak, sikap kritis tetep mereka tunjukkan. Ada yang dituangkan dalam coretan dinding, majalah tembok, buletin sekolah, atau tulisan dalam blog. Sasaran kritiknya juga lebih banyak situasi kondisi yang dekat dengan kesehariannya. Mulai dari perilaku temen yang nge-bete-in, guru killer, masalah di rumah, atau aturan sekolah yang bikin gerah. Kalo yang nyerempet-nyerempet politik gitu? Hmm.. belon kayanya.

Jangan Bungkam Suara Remaja

Sikap kritis berarti keberanian ngasih masukan berupa opini pribadi, kritikan, saran, atau pembelaan. Sayangnya, sikap kritis remaja nggak selalu direspon positif. Usia yang masih bau kencur sering kali dianggap belum layak ngasih masukan. Apalagi kalo sikap kritis remaja ditujukan ke orang yang usianya di atas mereka atau ’ngompol’ alias ngomong politik. Malah dibilangin sok tahu, sok pinter, dan dipandang sebelah mata. Kaya gini nih yang bikin remaja jadi males berikap kritis. Masih untung ketika suara mereka dicuekkin, mereka tuangkan dalam tulisan. Lha kalo lebih memilih kabur dari rumah, bolos sekolah, atau bikin masalah yang pastinya dapet perhatian, kan repot tuh!

Tragis banget ya, ketika sikap kritis remaja ’dibunuh’ justeru oleh orang-orang yang seharusnya jadi teladan remaja. Padahal sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. aja pernah bilang, “…lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan..”. Tuh kan?

Nggak ada salahnya kan dengerin suara remaja. Ngasih kesempatan mereka untuk mengeluarkan dan mendiskusikan pendapatnya. Sama-sama nyari kebenaran, bukan pembenaran. Kalo gitu kan enak. Remaja jadi berani bersikap, punya prinsip, mandiri, dan tentunya lebih siap jadi pemimpin di masa depan. Bukannya ini yang kita sama-sama harepin?

Dan untuk kita selaku remaja, mending selalu positif thinking dengan respon buruk atas sikap kritis kita. Anggap saja sebagai pelecut semangat. Mungkin bukan sikap kritis kita yang salah, tapi cara penyampaiannya yang kurang etis. Jadinya ada yang salah tangkep. Niatnya cuman ngingetin, tapi dinilainya ngerecokin. Berabe kan?

Walau Kritis Tetep Etis

Biar orang laen enak dengan sikap kritis kita, boleh juga pake aturan maen sikap kritis yang etis. Ini beberapa tips dari kita:

Pertama, bukan untuk menjatuhkan apalagi melecehkan. Kita nggak maen vonis bersalah ama orang lain. Soalnya, boleh jadi kesalahan orang lain dimata kita, ternyata itulah hal terbaik yang bisa dia perbuat seperti yang dia pahami. Cari tahu dulu alasan dia berbuat itu sebelum ngasih masukan. Ajukan pertanyaan ’ada apa?’, bukan ’kenapa?’. Biar orang nggak merasa disudutkan. Ok?

Kedua, kritisi cara berpikirnya bukan orangnya. Sikap kritis udah sepantasnya jadi ajang persahabatan, bukan permusuhan. Kalo beda pendapat, teteplah berdiskusi dan beradu argumen dalam ruang adu pendapat. Jangan bawa-bawa kekurangan fisik lawan bicara atau masalah pribadi dia ke arena diskusi. Nggak fair tuh!

Ketiga, siap terima umpan balik. Niatkan dari awal, kita bersikap kritis untuk meraih ridho Allah dan merekatkan ukhuwah. Sehingga kita lebih siap ngadepin apapun resiko dari kebenaran Islam yang kita sampaikan. Kalo responnya positif, alhamdulillah itu yang sangat diharapkan. Tapi kalo responnya ternyata buruk, menuai protes, bahkan mengancam jiwa, tetep cool, calm, and confident. Jangan terpancing bertindak anarkis. Karena anarkis, hanya akan mengubur akal sehat dan menodai sikap kritis kita. So, jadi remaja kritis nggak pake anarkis!

Keempat, punya prinsip. Bakal banyak pendapat dan argumen saat kita bersikap kritis. Saat itu, kita dituntut untuk berani bersikap. Pilihan yang disodorkan, setuju atau tidak setuju. Nggak ada pilihan ragu-ragu. Lumayan dilematis juga ngadepin situasi kaya gini. Kalo tidak setuju dan tetep pegang pendapat sendiri tapi nggak bisa ngejelasinnya, entar dibilang ngeyel. Kalo setuju terus pindah ke lain hati, malah dianggap plin-plan. Disinilah pentingnya punya prinsip. Biar nggak gampang dihantui dilema dan rasa ragu. Untuk itu, pilih prinsip yang pasti-pasti aja deh. Dan sebagai muslim, cuman prinsip Islam yang udah pasti. Pasti anti ragu bin dilema, pasti diridhoi Allah swt, dan pastinya selamat dunia akherat. Asyik kan?

Kelima, kritik ‘cantik’. Biar kendengerannya sopan, terkadang sikap kritis kita tunjukkan dengan terlebih dahulu ngasih pujian yang disisipi kata sambung ’tapi’. Misal, “saya seneng deh denger kamu nyanyi. Tapi saya jauh lebih seneng kalo kamu nyanyinya dalam hati saja”. Waduh! itu mah sama saja melambungkan lawan bicara ke angkasa lalu menghempaskannya ke atas bumi. Sakit banget pren. Pujiannya jadi kaya gak ikhlas gitu. Jauh lebih etis kalo kita ganti kata sambung ’tapi’ yang artinya bertolak belakang dengan ’dan’ yang artinya sejajar. Jadi, “saya seneng deh denger kamu nyanyi dan saya yakin suara kamu pasti akan lebih merdu lagi dengan terus berlatih. Tetaplah bernyanyi…”. So sweet…!

Keenam, sodorkan bukti. Jangan sampai sikap kritis kita mencoreng nama baik atau dianggap provokator. Entar kena somasi repot deh. Kalo mengkritisi kebijakan pemerintah yang bikin rakyat sengsara dunia akherat misalnya, sertai bukti yang kuat dan akurat. Jangan cuman bermodalkan megaphone, poster, atau spanduk aja saat demonstrasi. Kalo ada bukti, cukup sedikit bicara tapi mengena. Cocok!

Ketujuh, kritisi dengan solusi. Terutama kalo menyangkut kepentingan umum, siapkan solusi yang ngasih kebaikan untuk semua. Bukan solusi yang malah nambah masalah baru. Seperti dalam masalah HIV/AIDS. Kondomisasi atau pembagian jarum suntik steril sering jadi andalan pemerintah dah LSM untuk mengerem penyebaran wabah HIV. Padahal solusi itu malah kian melestarikan budaya seks bebas dan penggunaan narkoba. Bagusnya, negara pake aturan Islam yang sempurna untuk ngatur rakyatnya. Karena hanya ketegasan aturan Islam yang bisa mengeliminasi budaya seks bebas dan peredaran narkoba dari masyarakat. Itu baru solusi mak nyus!

Tanda Peduli dan Cinta

Punya sikap kritis emang perlu. Sayang banget kalo kita mengkarantina sikap kritis dalam hati saja. Soalnya, sikap kritis bagus untuk kesehatan jiwa. Bisa memupuk jiwa sosial karena kepekaan kita dengan lingkungan sekitar. Bisa juga melatih kita untuk berani ngomongin pendapat. Jarang-jarang lho ada remaja berani bersuara. Kebanyakan adem ayem aja sibuk dengan dunianya sendiri.

Punya sikap kritis, bukan berarti kita ngerecokin urusan orang lain lho. Lebih pas kalo sikap kritis dimaknai sebagai wujud kepedulian dan ekspresi cinta. Bayangkan kalo selama hidup nggak ada yang mengkritik kita. Nggak ada yang ngingetin kita. Nggak ada yang ngasih advice alias saran untuk perbaikan diri kita. Itu artinya, nggak ada yang peduli dan merhatiin kita. Idih, sedih banget deh pastinya.

Karena itu, sikap kritis juga berfungsi sebagai kontrol. Baik kontrol sosial maupun kontrol secara personal. Adanya sikap kritis, membantu kita menjaga masyarakat agar tetep beradab. Kalo nggak ada yang kritis terhadap gaya hidup remaja yang hedonis, alamat remaja makin terancam masa depannya. Kalo nggak ada yang kritis saat ngeliat retsleting celana kita yang terbuka, kita bisa tengsin berat. Itu berarti, sepedas apapun kritikan yang disampaikan, akan ngasih kebaikan untuk kita semua. Pastinya!
Sebagai muslim, sikap kritis akan menjauhkan kita dari kerugian dunia akherat. Allah swt juga menegaskan dalam firman-Nya:

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(QS. Al-Ashar [103]: 2-3).

Kalo nggak kritis, apalagi ditengah kerusakan sistem kapitalis sekuler yang tengah mengatur hidup masyarakat kaya sekarang, kita bakal kebagian getahnya euy. Rasul mengingatkan dalam sabdanya:

“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan yang melanggarnya adalah bagaikan suatu kaum yang mengadakan undian untuk naik sebuah kapal, maka jadilah sebagian mereka ada di atas dan sebagian lagi di bawah. Lalu orang-orang yang ada di bawah jika mereka hendak mengambil air maka harus melewati orang yang di atas mereka. Maka mereka berkata: “Seandainya kami melubangi kapal ini maka kami tidak mengganggu orang yang di atas kami.” Jika para penumpang kapal itu membiarkan apa yang mereka kehendaki itu maka semuanya akan binasa. Tetapi jika mereka mencegahnya maka selamatlah dan selamat semuanya.” (HR. Al-Bukhari)

Untuk ngasih nilai lebih pada sikap kritis kita, ekspresikan bukan hanya untuk kepentingan sendiri. Tapi untuk kepentingan bersama. Bukan hanya kritis ama temen sekolah atau sikap anggota keluarga dirumah, Kritisi juga situasi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, atau budaya yang mengancam kehidupan umat. Nggak berat kok. Hanya perlu sedikit kepedulan kita aja. Biar nggak asal kritis, pake kacamata Islam untuk ngeliat kondisi yang layak dikritisi.

Dan jangan lupa, selalu sertakan Islam ideologi sebagai solusi dari setiap masalah yang dikritisi. Tak hanya akhlak dan moral aja yang jadi penawar. Biar pemecahannya bisa tuntas..tas..tas. Disini pentingnya kita mengenal Islam lebih dalam. Ikut ngaji gitu lho. Dengan ikut ngaji, bisa menumbuhkan sikap kritis, penyampaiannya lebih etis, nggak pake anarkis, dan solusi yang ditawarkan juga ideologis. Inilah karakter remaja kritis yang ideologis. Mantap! [hafidz341@gmail.com]



Umat Islam Sumsel Tolak Miss Indonesia

Sekitar 200 massa yang tergabung dalam MASSIP (Masyarakat Sumatera Selatan Anti Sipilis – Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme) melakukan aksi turun ke jalan menentang rencana pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyelenggarakan acara Pemilihan Miss Indonesia di Palembang. Aksi damai ini dimulai dari Monumen Penderitaan Rakyat (Monpera) menuju kantor DPRD Sumsel. Pada hari itu pekikan takbir bergema dari ratusan massa yang juga diikuti oleh abang becak kota Palembang.

Mereka menolak Palembang Darussalam dijadikan ajang maksiat mempertontonkan porno aksi seperti Miss Indonesia. MASSIP meminta agar dana sebesar 1,9 Milyar Rupiah yang dianggarkan untuk kegiatan maksiat tersebut dipergunakan untuk kegiatan yang bermanfaat bukan dihambur-hamburkan untuk mempertontonkan aurat. Mereka juga menolak Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme berkembang di provinsi para wali ini dan mendesak diterapkannya Syariat Islam dalam bingkai Khilafah.

Setiba di Kantor DPRD, utusan massa diterima oleh Bpk. Syaiful Islam dari Komisi IV. Para utusan yang menyampaikan pendapatnya di depan Dewan adalah Ust. Mahmud Jamhur, Ust. Legawan Isa, Ust Umar Said, Ust. Syahrul Mustain, KH. Drs Zainal Bahry Bey dan Ustadzah Syafrida. Pernyataan sikap MASSIP dibacakan oleh Ust. Mahmud Jamhur sebagai koordinator aksi. Dalam paparannya beliau menambahkan agar DPRD & Pemprov Sumsel tidak hanya membatalkan Miss Indonesia tetapi juga harus membatalkan semua rangkaian acara visit musi yang tidak sesuai dengan Islam seperti: festival imlek, festival barongsai, lombah lukis telur paskah, prosesi waisyak, doa bersama antar agama dan ziarah di monumen silk air. Ketua DPD Hizbut Tahrir Sumsel ini meminta agar syariat Islam segera diterapkan sehingga masyarakat terlindungi dari segala macam ancaman.

Aktivis Forum Anti Pemurtadan, Ust. Legawan Isa mengingatkan Pemerintah dan Dewan agar berhati-hati dalam mengambil kebijakan, karena semua itu akan menghadapi pengadilan Allah diakhirat kelak. Orang yang pertama masuk neraka adalah penguasa. Bila penguasa tidak membatalkan acara Miss Indonesia di Palembang maka tunggulah azab Allah kelak. Demikian paparnya.

Ust. Umar Said dari KAHMI menambahkan agar Pemerintah dan Dewan meninjau ulang seluruh agenda Visit Musi yang akan melemahkan aqidah umat. Beliau yang juga merupakan Pengurus Forum Ukhuwah Ulama Umara Sumsel ini mempertanyakan sikap pemerintah yang baru membatalkan setelah adanya tekanan dari Ormas Islam. “Seharusnya pemerintah tidak perlu menunggu demonstrasi massa baru membatalkan. Pemerintah seharusnya mengerti mana budaya yang Islami dan mana budaya penjajah” ungkapnya.

Selanjutnya Ust. Syahrul Mustain meminta Pemerintah dan DPRD segera kembali ke Syariat Islam dengan menerapkanya dalam setiap aspek kehidupan. Menurut pengasuh pondok pesantren Sultan Mahmud Badaruddin II ini bahwa segala malapetaka yang terjadi di negeri ini adalah akibat tidak diterapkan Syariat Islam dalam bingkai Khilafah untuk itu sudah saatnya pemerintah bertobat dengan menerapkan Islam.

Setelah mendengarkan semua masukan dari utusan massa , anggota DPRD Bpk Syaiful Islam, sepakat dengan MASSIP untuk menolak diselenggarakannya Miss Indonesia di Palembang. Beliau berjanji akan segera melakukan rapat pleno pembatalan acara tersebut yang merupakan salah satu rangkaian Visit Musi 2008. ”Saya akan perjuangkan aspirasi ini sampai mati” demikian pungkasnya. Rangkaian acara dilanjutkan dengan penandatanganan kesepakatan dari DPRD Sumsel, pernyataan Resmi DPRD tentang penolakan Miss Indonesia dan penyerahan tanda-tangan masyarakat sumsel. Akhirnya acara ditutup dengan doa oleh KH. Drs Zainal Bahry Bey yang merupakan ketua MUI Sumsel. Sebelum aksi damai ini dilaksanakan, MASSIP telah membuka posko di Pelataran Masjid Agung Palembang selama 2 hari untuk mengumpulkan tanda-tangan masyarakat yang menolak Miss Indonesia. Dari kegiatan ini terkumpul kurang lebih 1.800 tanda-tangan.

Sehari sebelum aksi damai turun kejalan ini dilaksanakan, Gubernur Sumsel yang sebelumnya ngotot diselenggarakannya Miss Indonesia di Palembang akhirnya membatalkan acara tersebut. Hal ini disambut positif oleh kalangan Ormas Islam. MASSIP merupakan gabungan ormas-ormas islam di Sumatera Selatan yaitu: Hizbut Tahrir Indonesia Sumatera Selatan, KAHMI Kota Palembang, Gerakan Muslimat Indonesia (GMI Kota Palembang), Ukhuwah Centre Sumatera Selatan, Forum Muslimah Peduli Syariat Islam (FMPSI Sumsel), Majelis Taklim Al Ikhsanul Ikhwan Sumsel, Majelis Taklim Al Hidayah Sumsel, Majelis Taklim As Sakinah Palembang, Wanita Shufiyah Indonesia Sumsel, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI Orwil Sumsel), Forum Pemuda Bangkit Sumsel (FPB-SS), PII Cabang Palembang, FAKTA, HMI Cabang Palembang, KOHATI Cabang Palembang, Syarikat Islam Sumsel dan juga MUI Sumsel (Budianto Haris/Humas HTI Sumsel).

Soal Jawab : Komisi Pembeli

Pertanyaan:

Sebuah perusahaan perdagangan produk kesehatan melakukan muamalah dengan pelanggannya sebagai berikut: Apabila pelanggannya membeli produk kesehatan darinya, maka pelanggan itu memiliki hak untuk mendapatkan umรปlah (komisi) dari dua orang pembeli yang dia ajak kepada perusahaan. Berikutnya, kedua orang yang diajak itu –dengan sekadar membeli produk kesehatan dari perusahaan– masing-masing juga memiliki hak untuk mengajak dua orang lagi dan berhak mendapatkan komisi dari dua orang yang diajak.

Karena digabungkan kepada hak pembeli pertama, maka dia pun mendapatkan komisi jaringan (umรปlah mukhfadhah) dari empat orang yang diajak oleh dua orang; yang keduanya itu diajak oleh pembeli pertama. Demikian seterusnya. Apakah hal itu boleh?

Jawaban:

Sesungguhnya akad-akad dalam Islam itu jelas dan mudah, tidak samar di dalamnya. Secara keseluruhan, muamalah itu harus diketahui sisi fakta dan apek perjanjiannya, kemudian dipelajari dan dikaji nash-nash yang berkaitan dengannya, dan digali hukumnya dengan ijtihad yang shahih. Dengan mengkaji fakta yang diajukan dan nash-nash yang berkaitan, jelaslah bahwa:

a. Pembelian Anda terhadap produk kesehatan dari perusahaan itu tidak masalah. Hal itu termasuk dalam cakupan al-bay’ atau jual beli. Allah Swt berfirman: Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS al-Baqarah [2]: 275).Oleh karena itu sah. Demikian pula anda mendapatkan sejumlah uang atau bonus dari perusahaan karena mengajak dua orang untuk membeli produk kesehatan itu. Hal itu termasuk dalam cakupan samsarah yang diperbolehkan berdasarkan taqrรฎr Rasulullah saw pada samsarah yang telah dikenal. Yaitu suatu akad di antara dua pihak, yakni: perusahaan (di sini) satu pihak, dan dua orang pembeli yang diajak sebagai pihak lain. Dan yang di sini itu adalah pembeli pertama; imbalan upah dibayarkan kepada pembeli pertama (yang menjadi simsar atau makelar).

Masing-masing akad itu diperbolehkan. Yakni pembelian dari perusahaan; dan aktivitas mengajak dua orang pelanggan bagi perusahaan untuk membeli produk darinya. Kemudian pembeli pertama (yang mengajak dua orang pembeli) itu mendapatkan sejumlah uang dari perusahaan sebagai komisi dari mengajak dua orang pelanggan itu (samsarah). Namun demikian, semuanya harus memenuhi dua syarat berikut:

  1. Harga barang perusahaan itu tidak terkatagori ghabn fรขhisy, yakni tidak ada penambahan harga yang keterlaluan dari harga pasar. Misal, harganya tidak boleh seribu atau dua ribu, sementara harga di pasar hanya lima ratus saja. Yang rรขjih (lebih tepat), dalam perdagangan ini telah terjadi ghabn fรขhisy. Kendati demikian, pembeli bersedia membeli dengan harga berapa pun karena berharap akan memperoleh sejumlah uang dari hasil mengajak dua orang pembeli ke perusahaan. Begitu seterusnya. Atas dasar itu, ghabn fรขhisy itu haram kecuali pembeli mengetahui harga pasar, pada saat yang sama pembeli sepakat utuk membelinya dengan harga mahal dari perusahaan. Berarti syarat ini telah terpenuhi. Sebab, pembeli mengetahui harga pasar, namun pada saat yag sama dia mau membeli dengan harga yang tinggi dari perusahan karena dia berharap akan mendapatkan uang setelah itu.
  2. Pembelian tidak boleh dijadikan sebagai syarat bagi samsarah. Yakni tidak boleh ada dua akad yang satu sama lain menjadi syarat. Akad pembelian dan akad mengajak dua orang pelanggan untuk mendapatkan komisi itu telah menjadi persyaratan bagi satu sama lain, sehingga seperti satu akad. Dalam hal ini tidak sah karena termasuk dalam shafqatayn fรฎ shafqah wรขhidah (dua akad dalam satu akad). Rasulullah saw telah melarang shafqatayn fรฎ shafqah wรขhidah. Seperti saya berkata kepada Anda: Jika kamu menjual kepadaku, aku akan menyewa dari Anda atau aku mengangkatmu menjadi makelar, atau saya membeli dari Anda..dst. Dan hal itu telah tampak terjadi dalam muamalah ini (sesuai dengan pertanyaan). Jual-beli dan samsarah itu dalam satu akad. Yakni, Anda membeli dari perusahaan dan mengajak orang kepadanya.

Apabila pembelian itu terbebas dari dua hal tersebut, yakni:

(1) jika pembeliannya tidak ghabn fรขhisy atau terjadi ghabn fรขhisy namun dengan sepengetahuan pembeli terhadap harga pasar dan dia ridha dengannya; dan

(2) apabila samsarah tidak disyaratkan harus membeli. Yakni, jual beli itu terpisah dengan samsarah. Dalam samsarah, jika pembeli itu dapat mengajak para pelanggan dan perusahaan sepakat memberikan komisi, maka perusahaan itu harus memberikannya. Dan jika pembeli itu tidak bisa mengajak orang atau perusahaan tidak sepakat untuk memberikan komisi, maka perusahaan itu tidak harus memberikannya.

Dengan kata lain, terjadi pemisahan total antara pembelian dengan samsarah. Apabila muamalahnya demikian, maka dua perkara itu diperbolehkan, yakni: pembelian pertama dan pengambilan komisi sebagai samsarah dari mengajak dua pelanggan yang dilakukan oleh pembeli pertama.

b. Kemudian sesuai dengan pertanyaan: Dua orang yang diajak oleh pembeli pertama itu mengajak empat orang lagi (masing-masing orang mengajak dua orang pelanggan), kemudian pembeli pertama itu pun mendapatkan komisi dari para pelanggan yang diajak oleh dua orang pelanggan yang diajaknya. Hal ini tidak sah. Sebab samsarah itu berada di antara penjual dan orang-orang yang diajaknya sebagai pelanggan. Ini berarti, ujrah (upah) samsarah itu berasal dari pelanggan-pelanggan yang diajaknya; dan bukan dari orang-orang yang diajak oleh orang lain. Namun demikian, boleh saja bagi pelanggan memberikan hibah (pemberian) kepada pembeli pertama dari para pelanggan yang diajak oleh orang lain. Hanya saja itu tidak boleh dalam bentuk yang mengikat (laysa ‘alรข sabรฎl al-ilzรขm).

Kesimpulan:

  1. Pembelian produk kesehatan dari perusahaan itu sah jika tidak menjadi syarat bagi akad lainnya. Di samping itu juga tidak terjadi ghabn fรขhisy atau pembeli ridha dengan adanya ghabn fรขhisy itu. Yakni pembeli mengetahui harga pasar, lalu dia sepakat dan ridha dengan harga itu.
  2. Diperbolehkan bagi pembeli pertama untuk mendapatkan komisi dari perusahaan dari setiap pelanggan yang diajaknya ke perusahaan itu (dua orang yang diajak pertama kali). Namun tidak wajib baginya mendapatkan komisi dari pelanggan-pelanggan yang diajak oleh selainnya kecuali dengan jalan hibah; yakni bukan akad yang mengikad (laysa ‘aqd[an] mulzim[an]). Dan itu berlaku untuk semua pembeli; baik pembeli pertama maupun pembeli-pembeli lain yang diajak nya.

(Rokhmat S Labib /sumber : http://www.hizb-ut-tahrir.info/arabic)

Ringankan Beban Pak Harto, Tuntaskan Kasus Perdata

Di tengah upaya mengusut kasus perdata Soeharto, jenderal besar ini meninggal. Bagaimana kasus perdatanya? Bagaimana tanggung jawab keluarga? Inna lillahi wainna ilaihi raaji’uun. Setelah menginap di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sejak 4 Januari 2008, untuk mendapat perawatan, akhirnya Allah menentukan takdirnya kepada mantan Presiden Soeharto. Jenderal besar yang pernah berkuasa selama 32 tahun pada masa Orde Baru itu pun menghembuskan nafas terakhir pada Ahad (27/1/2008) pukul 13.13 WIB.

Ucapan bela sungkawa pun datang dari sejumlah pejabat negara, pemimpin negara asing, koleganya, tokoh yang berseberangan, para ulama, dan sejumlah pejabat dan tokoh di daerah. Sementara suasana lengang tampak di RSPP, tempat Soeharto dirawat. Bendera setengah tiang pun berkibar di depan Istana Negara, sejumlah instansi pemerintah dan swasta di sepanjang jalan utama ibukota. Presiden SBY mengumumkan hari berkabung nasional selama tujuh hari atas meninggalnya Pak Harto.

Di Bandung Gubernur Jabar Danny Setiawan mengintruksikan masyarakat Jabar untuk mendoakan Pak Harto. Sedangkan Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz meminta untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama hari berkabung nasional, mulai hari Ahad sampai 2 Februari. Beberapa gubernur juga memberikan imbauan yang sama kepada warganya.

Pemakaman Soeharto diberlangsungkan Senin, (28/1) di Astana Giribangun, Karanganyar, Solo. Ia dimakamkan di samping makam istrinya Tien Soeharto.

Soeharto tutup usia pada umur 86 tahun. Ia lahir di Kemusuk Argo Mulyo 8 Juni 1921. Dilantik sebagai Presiden pada tanggal 27 Maret 1968, dan berkuasa hingga 32 tahun, sebelum akhirnya lengser pada 1998 oleh gelombang demonstrasi mahasiswa.

Soeharto menikah dengan Suhartini dan memiliki enam orang anak. Yaitu Sigit Harjodjudanto, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi (Titik), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).

Baik Buruk

Jenderal besar itu kini telah tiada. Meski sebagian masyarakat telah memberikan maaf, namun tidak menghilangkan sisi gelap Pak Harto, baik terkait pidana (pelanggaran HAM) maupun perdata (korupsi dll). Amien menyatakan bahwa bangsa Indonesia harus belajar dari kesalahan Soeharto. Soeharto itu memiliki kebaikan dan kekurangan. “Yang baik ditiru yang jelek ya dibuang,” ujar Amien. Mantan ketua MPR ini mengatakan, kesalahan Soeharto di masa kepemimpinannya juga akibat situasi yang saat itu memungkinkannya untuk melakukan kesalahan. “Semua kalangan, baik akademisi, ilmuwan, ulama, dan partai tidak pernah ada yang membantah kesalahan Soeharto, saya kira ini kesalahan kolektif,” tandasnya.

Ismail Yusanto, Jubir HTI mengatakan sebagai muslim, tentu umat Islam berdoa untuk Pak Harto sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW. “Kita tentu hanya bisa berdoa sesuai yang diajarkan rasulullah. Allahumagh firlahu warhamu wa’afihi wa’fu ‘anhu,” ujarnya. Sewajarnya juga umat Islam juga mendoakan agar Pak harto mendapat Jannah (surga), segala amal kebaikannya diterima dan kesalahannya diampuni Allah.

Meninggalnya Pak Harto, tentu saja membuat kasus hukumnya yang menyangkut pidana atau terkait kejahatan kemanusiaan selesai. Menurut Ismail, itu sangat disayangkan, karena ia belum mendapat hukumannya di dunia. “Padahal itu salah satu jalan untuk meringankan bebannya di akhirat kelak,” ujarnya. Kini yang tersisa dari Pak Harto adalah kasus perdatanya. Kasus perdata inilah yang barangkali akan menjadi beban buat Pak Harto. “Itu akan menjadi bebannya di akhirat jika pihak keluarga yang ditinggal tidak menyelesaikan kasus ini,” ujar Ismail. [pd/www.suara-islam.com/28/01/2008]

Nasib “Bangsa Tempe”

Add to Technorati Favorites

logo-gi-3.jpg

edisi 014/tahun I (19 Muharam 1429/28 Januari 2008)

Seorang penjual gorengan langganan saya bilang: “Mas, karena terigu dan minyak goreng mahal, mungkin awal bulan depan nih bakalan seribu rupiah sebiji,” katanya saat saya tanya harga tempe dan bakwan goreng, yang dijualnya saat ini kok udah naik jadi lima ratus rupiah sebiji, padahal ukurannya segede-gede upil (backsound: ih, itu masih mending dong, daripada upil yang segede-gede bakwan!)

Sobat, kita bisa ngerasain sih gimana susah dan beratnya kondisi ekonomi saat ini. Penjual gorengan di atas sekadar satu contoh, kita masih yakin ada banyak ribuan pedagang lainnya yang kebingungan jualan. Naikkin harga atau ngurangi ukuran barang dagangannya, sama-sama nggak enak. Kasihan ya? Belum lagi di rumah tangga, kalo ini sih hampir seluruh rumah tangga di Indonesia kayaknya perlu deh yang namanya terigu dan minyak goreng. Total bisa jutaan orang yang merana gara-gara naiknya harga sebagian bahan pokok tersebut.

Bro, kita juga kemarin-kemarin sempat dibuat kalang-kabut waktu tempe dan tahu ngilang dari peredaran, padahal bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah, kebutuhan protein paling mungkin adalah disuplai dari tahu dan tempe. Kalo ngarepin daging kayaknya tinggal impian aja (iya, masa’ sih mo nekat makan daging sendiri?”), terus berhenti berharap juga untuk dapetin telur karena harganya latah ngikut naik. Tapi gimana jadinya kalo sumber protein yang murah-meriah macam tempe dan tahu aja susah didapat? Sedih banget deh nasib kita-kita.

So, sebagai remaja bukan berarti kita berhenti atau ngelewatin pembahasan kayak beginian. Justru sebaliknya kita wajib peduli dengan kondisi seperti ini. Syukur-syukur kalo kemudian bisa memberikan kontribusi atau sumbangan pemikiran untuk nyadarin masyarakat tentang kondisi kita saat ini dan sebaiknya apa yang kudu dilakukan untuk menghadapi persoalan ini. Tul nggak sih? Jangan diem aja, apalagi PPH (Puluhak Polohok Heuay-itu bahasa Sunda, artinya: Bengang-Bengong, Nguap aja! Hihihi).

Boys and gals, remaja macam kita seharusnya nggak usah malu ngebahas dan tahu soal ini. Jangan cuma bisanya ngabisin duit jatah dari ortu untuk jajan menuhin perut aja atau untuk dugem semata. Kalo kita udah ngeh dengan persoalan ini, kan kita bisa ngasih pendapat untuk nyari jalan keluar dari problem ini. Setuju kan, Bro en Sis?

Kita bisa mandiri, kok

Tempe dan tahu yang sempat ngilang dan dicari-cari banyak orang ternyata bahan dasarnya, yakni kacang kedelai malah diimpor. Sekitar 60% adalah hasil impor dari Amerika Serikat. Maklum, konon kabarnya lebih baik ngimpor karena harganya murah ketimbang harus memberikan subsidi untuk produksi pertanian kedelai di dalam negeri yang belum tentu hasilnya bagus. Padahal, sekadar tahu aja ya, kebijakan impor ini bisa berdampak nggak sehat dan rawan manipulasi serta mudahnya mempermainkan harga. Bener lho. Bagi pengusaha importir yang nakal, atau kalo pun dikelola oleh badan negara tapi mental pejabatnya bobrok, ya bisa juga tuh barang ditimbun dulu. Nggak disalurkan langsung. Nah, ketika masyarakat panik nyari, baru deh dikeluarin tuh kacang kedelai kemudian dijual dengan harga mahal. So, yang menanggung derita adalah pengusaha kecil pembuat tempe dan tahu, penjualnya, serta end user macam kita-kita ini. Hmm.. itu sih ?pembunuhan’ massal secara perlahan-lahan namun pasti.

Bro, kalo emang kita ingin lebih mandiri, sebenarnya bisa kok. Iya, kita nggak mesti bergantung terus kepada orang lain atau pihak lain. Sementara kita hanya ongkang-ongkang kaki pengen nerima enaknya aja sambil berharap harga-harga murah. Beuuuh itu sih namanya Pungguk merindukan planet pluto (backsound: kalo pluto masih dianggap planet saat ini). Iya, maksudnya susah alias nyaris mustahil bisa menyelesaikan masalah, gitu lho.

Mandiri di sini maksudnya adalah kita bisa memberikan kesempatan kepada para petani kedelai di sini untuk menanam kedelai dan menjualnya dengan harga yang layak, bukan lewat para tengkulak tapi langsung ke badan pemerintah yang menangani persoalan ini seperti Bulog, misalnya. Jangan dibiarkan seperti sekarang, petani berjuang alone alias sendirian melawan importir yang jaringannya sudah menggurita di mana-mana. Kasihan deh para petani kedelai yang harus berjuang sendirian, wong klub sepakbola Liverpool aja masih punya dukungan dari liverpudlian alias fans berat Liverpool dan punya lagu ‘kebangsaaan’ You Will Never Walk Alone untuk menyemangati tim kesayangannya saat bertanding melawan rival-rivalnya.

Jika mekanismenya benar dan baik, insya Allah kita nggak usah berharap banyak kedelai buatan asing, gitu lho. Sebab, kalo dibiarin kayak gini-berharap dari barang impor, kita nggak punya bargaining position alias posisi tawar, bahkan untuk ngurus makanan “rumahan” dan murah seperti tempe dan tahu kesannya jadi nunggu jatah dan belas kasihan pihak lain. Hehehe, kalo dipikir lebih lanjut, mungkin kita bisa ketawa sendiri, jangankan bersaing di bidang teknologi komunikasi dan militer, wong mau produksi tempe dan tahu aja bahan bakunya nunggu jatah dari Amerika. Tragedi buanget, rek!

Memang sih nggak semudah ngebalikkin telapak tangan ngurus kayak ginian, tapi bukan berarti nggak bisa dilakukan kan? Asal ada kemauan dan usaha yang dilengkapi dengan doa, insya Allah nggak ada yang nggak mungkin untuk diraih. Kita jadi mandiri ke depannya dan nggak manut saja dengan kebijakan yang ada jika hal itu memang merugikan bahkan menyengsarakan diri kita dan seluruh masyarakat di negeri ini. Setuju?

Jangan impor budaya dan gaya hidup

Yup, kalo kekurangan beras dan kekurangan kacang kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu kemudian jalan keluarnya adalah ngimpor dari negara lain, mungkin kita masih bisa bertahan hidup dan sehat jasmani walaupun kudu keluar duit lebih banyak. Tapi gimana jadinya kalo yang diimpor adalah budaya dan gaya hidup yang rusak bin bejat?

Hmm.. kita udah bisa saksikan sendiri bahwa beberapa budaya negeri ini udah kalah pamor dengan budaya asing. Apalagi kalo bicara budaya Islam, mengingat sebagian besar penduduk negeri ini adalah kaum muslimin, wuih, jauh banget deh. Budaya Islam sebagai identitas kehidupan malah diilangin dan diganti dengan budaya sekuler yang jelas-jelas hasil impor dari bangsa lain.

Oya, impor-mengimpor sebenarnya boleh-boleh aja, selama yang diimpor adalah hal yang mubah macam barang kebutuhan pokok golongan pangan, atau ngimpor barang sandang sekalipun termasuk teknologi nggak masalah selama hal itu memang nggak ada hubungannya dengan akidah atau ideologi tertentu yang bertentangan dengan ajaran Islam saat harus menggunakan produk tersebut.

Nah, yang jadi masalah adalah kalo yang diimpor itu adalah sesuatu yang berbahaya, seperti gaya hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam. Oya, untuk yang mubah sekalipun, tapi kemudian upaya impor itu bikin kita nggak mandiri dan malas tentu bisa membahayakan juga. Karena kita jadi tergantung banget dengan negara lain untuk memenuhi hajat hidup kita tersebut. Tul nggak sih?

Sobat muda muslim, jangan sampe kita diperparah di berbagai sisi. Udah mah kita merana karena kebutuhan bikin tempe dan tahu aja harus nunggu jatah impor, untuk makan nasi aja harus menanti kucuran beras impor, eh untuk ngatur kehidupan kita pun malah rela menggunakan produk impor. Lengkap sudah penderitaan kita.

Kaum muslimin, tentunya hanya wajib menggunakan produk budaya dari Islam, bukan dari impor budaya asing yang bertentangan dengan Islam. Maka, aneh bin ajaib kalo ada seorang muslim yang menjadi aktivis berat seks bebas. Sebab, seks bebas tak pernah ada dalam ajaran Islam, dan itu hanya ada di jaman pra Islam dan jaman sekarang yang menganut ide liberalisme. Tentu saja, itu produk impor budaya yang membahayakan kehidupan kaum muslimin jika diadopsi oleh kaum muslimin untuk mengatur kehidupannya.

Demokrasi, HAM, sekularisme, liberalisme dan segala turunannya sama sekali bukan produk budaya Islam, tapi itu produk impor dari ideologi lain. Namun amat disayangkan, ternyata banyak kaum muslimin yang lebih bangga menyandang gelar liberal atau sekuler ketimbang menyandang gelar muslim yang taat kepada ajaran Islam. Anehnya pula, ternyata banyak intelektual muslim yang lebih merasa percaya diri berpegang teguh kepada demokrasi dan HAM ketimbang kepada al-Quran dan produk akidah dan syariat Islam lainnya. Tapi, inilah kenyataan di depan mata kita, di lingkungan yang setiap hari kita diami dan kita terlibat di dalamnya. Betapa parahnya kehidupan kaum muslimin. So, hentikan diam kita. Jangan sampe nasib “bangsa tempe” berpenduduk muslim terbesar ini mentalnya makin lembek dan kian keropos digerus liberalisasi gaya hidup dan dihempas kemiskinan yang kian menjadi-jadi.

Jalan keluar

Sebenarnya kita bisa mandiri dan bahkan kehidupan kita akan mendapat berkah dari Allah Swt. jika kita tetap berpegang teguh (beriman dan bertakwa) pada keyakinan agama kita. Allah Swt. berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al-A’raaf [7]: 96)

Tapi yang terjadi sekarang? Beeuuh! Malu banget deh kalo harus ngomongin keimanan dan ketakwaan di antara kita. Bisa dibuktiin sendiri faktanya. Mana mungkin kalo beriman dan bertakwa dengan mantap masih aktif seks bebas, korupsi, membunuh, mencuri, memperkosa, menipu, ngisep ganja, pamer aurat, dan ragam tidak kriminal dan perilaku asusila lainnya yang nyaris setiap hari bisa kita tahu beritanya di media massa atau menyaksikan sendiri di lingkungan sekitar.

Maka, untuk memperbaiki nasib kita saat ini, ada beberapa langkah yang kudu ditempuh dengan benar dan baik: 1) perkokoh akidah islamiyah; 2) taat syariat Islam; 3) semarakkan dakwah Islam. Sementara untuk menempuh tiga jalan di atas, cara paling efektif adalah belajar. So, kalo emang mau berubah, tekadkan dengan kuat untuk mulai belajar tentang Islam dengan benar dan baik. Agar kehidupan kita lebih baik lagi dari sekarang. Lebih mandiri dan lebih kuat. Cukup sudah nasib buruk “bangsa tempe” sampe di sini saja. Kita songsong kehidupan yang lebih baik dan mandiri dengan landasan keyakinan dan prinsip hidup yang kokoh dan kuat, yakni akidah Islamiyah. Tetap semangat! [solihin: sholihin@gmx.net]

IMLEK ADALAH HARI RAYA AGAMA KAFIR BUKAN SEKEDAR TRADISI : HARAM ATAS MUSLIM TURUT MERAYAKANNYA

Tanya : Ustadz, orang-orang muslim etnis Tionghoa sering saya lihat turut merayakan Imlek. Apakah ini dibolehkan? Mereka beralasan, Imlek hanyalah tradisi, dan bukan bagian dari ajaran agama. Benarkah?

Jawab :

Kami akan menjawab lebih dulu apakah Imlek itu sekedar tradisi ataukah termasuk ajaran agama. Baru setelah itu akan kami jawab apa hukumnya seorang muslim turut merayakan Imlek.

1. Imlek Bagian Ajaran Agama Khonghucu, Bukan Sekedar Tradisi Tionghoa

Memang sering kita dengar dari orang Tionghoa, termasuk tokoh-tokohnya yang sudah masuk Islam, bahwa Imlek itu sekedar tradisi. Tidak ada hubungannya dengan agama. Sebagai contoh, Sekretaris Umum DPP PITI (Pembina Iman Tauhid Islam), H. Budi Setyagraha (Huan Ren Cong), baru-baru ini menyatakan bahwa Imlek adalah tradisi menyambut tahun baru penanggalan Cina, datangnya musim semi, dan musim tanam di daratan Cina. Imlek, kata beliau, bukan perayaan agama. (Lihat "Sekjen DPP PITI : Rayakan Imlek Jangan Berlebihan", Kedaulatan Rakyat, Selasa, 13 Pebruari 2007, hal. 2).

Jika kita mendalami agama Khonghucu, khususnya mengenai hari-hari rayanya, akan terbukti bahwa pernyataan tersebut tidak benar. Sebab sebenarnya Imlek adalah bagian integral dari ajaran agama Khonghucu, bukan semata-mata tradisi.

Dalam bukunya Mengenal Hari Raya Konfusiani (Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003) hal. vi-vii, Hendrik Agus Winarso menyebutkan bahwa masyarakat kurang memahami Hari Raya Konfusiani. Kata beliau mencontohkan,"Misalnya Tahun Baru Imlek dianggap sebagai tradisi orang Tionghoa." Dengan demikian, pandangan bahwa Imlek adalah sekedar tradisi, yang tidak ada hubungannya dengan agama, menurut penulis buku tersebut, adalah suatu kesalahpahaman (Ibid., hal. v).

Dalam buku yang diberi kata sambutan oleh Ketua MATAKIN tahun 2000 Hs. Tjhie Tjay Ing itu, pada hal. 58-62, Hendrik Agus Winarso telah membuktikan dengan meyakinkan bahwa Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu. Hendrik Agus Winarso menerangkan, Tahun Baru Imlek atau disebut juga Sin Cia, merupakan momentum untuk memperbarui diri. Momentum ini, kata beliau, diisyaratkan dalam salah satu kitab suci Khonghucu, yaitu Kitab Lee Ki, bagian Gwat Ling, yang berbunyi :

"Hari permulaan tahun (Liep Chun) jadikanlah sebagai Hari Agung untuk bersembahyang besar ke hadirat Thian, karena Maha Besar Kebajikan Thian. Dilihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia… (Tiong Yong XV : 1-5).

(Lihat Hendrik Agus Winarso, Mengenal Hari Raya Konfusiani, [Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003], hal. 60-61).

Penulis buku tersebut lalu menyimpulkan Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu. Beliau mengatakan :

"Dengan demikian, menyambut Tahun Baru bagi umat Khonghucu Indonesia mengandung arti ketakwaan dan keimanan." (ibid.,hal. 61).

Maka tidaklah benar pendapat yang menyebutkan bahwa Imlek hanya sekedar tradisi orang Tionghoa, atau Imlek bukan perayaan agama. Yang benar, Imlek justru adalah bagian ajaran agama Khonghucu, bukan sekedar tradisi.

Lagi pula, harus kami tambahkan bahwa boleh tidaknya seorang muslim melakukan sesuatu, tidaklah dilihat apakah sesuatu itu berasal dari tradisi atau ataukah dari agama. Seakan-akan kalau berasal dari tradisi hukumnya boleh-boleh saja dilakukan, sementara kalau dari agama lain hukumnya tidak boleh.

Standar semacam itu sungguh batil dan tidak ada dalam Islam. Karena standar yang benar menurut Islam, adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman :

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya." (QS Al-A’raaf [7] : 3)

Kalimat "maa unzila ilaykum min rabbikum" dalam ayat di atas yang berarti "apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu", artinya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Tafsir Al-Baidhawi, [Beirut : Dar Shaadir], Juz III/2).

Jadi suatu perbuatan itu boleh atau tidak boleh dilakukan, tolok ukurnya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Apa saja yang benar menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti boleh dikerjakan. Sebaliknya apa saja yang batil menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti tidak boleh dilakukan.

Maka kalau kita hendak menilai perbuatan muslim turut merayakan Imlek menurut Islam, tolok ukurnya harus benar. Yaitu harus kita lihat adalah apakah perbuatan itu boleh atau tidak menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, bukan melihat apakah Imlek itu dari tradisi atau dari agama.

Sungguh kalau seorang muslim menggunakan tolok ukur tadi, yaitu melihat sesuatu itu dari tradisi atau agama, ia akan tersesat. Sebab suatu tradisi tidak selalu benar, adakalanya ia bertentangan dengan Islam dan adakalanya sesuai dengan Islam. Contoh, free sex pada masyarakat Barat yang Kristen. Free sex jelas telah menjadi tradisi Barat, meski perbuatan kotor itu bukan bagian agama Kristen/Katholik, karena agama ini pun mengharamkan zina. Lalu, apakah karena free sex itu sekedar tradisi, dan bukan agama, lalu umat Islam boleh melakukannya? Jelas tetap tidak boleh, bukan?

Walhasil, mari kita gunakan barometer yang benar untuk menilai suatu perbuatan. Barometernya, bukan dilihat dari segi asalnya apakah suatu perbuatan itu dari tradisi atau agama, melainkan dilihat dari segi boleh tidaknya perbuatan itu menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah. Inilah pandangan yang haq, tidak ada yang lain.

2. Haram Atas Muslim Turut Merayakan Imlek

Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari raya agama lain, termasuk Imlek, baik dengan mengikuti ritual agamanya maupun tidak, termasuk juga memberi ucapan selamat Gong Xi Fat Chai. Semuanya haram.

Imam Suyuthi berkata,"Juga termasuk perbuatan mungkar, yaitu turut serta merayakan hari raya orang Yahudi, hari raya orang-orang kafir, hari raya selain orang Arab [yang tidak Islami], ataupun hari raya orang-orang Arab yang tersesat. Orang muslim tidak boleh melakukan perbuatan itu, sebab hal itu akan membawa mereka ke jurang kemungkaran..." (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91).

Khusus mengenai memberi ucapan selamat, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata,"Adapun memberi ucapan selamat yang terkait syiar-syiar kekufuran yang menjadi ciri khas kaum kafir, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama, misalnya memberi selamat atas hari raya atau puasa mereka..." (Ahkam Ahli Adz-Dzimmah, [Beirut : Darul Kutub Al-’Ilmiyah], 1995, Juz I/162).

Dalil Al-Qur`an yang mengharamkan perbuatan muslim merayakan hari raya agama kafir di antaranya firman Allah SWT :

"Dan (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah) orang-orang yang tidak menghadiri kebohongan..." (QS Al-Furqan [25] : 72).

Kalimat "laa yasyhaduuna az-zuur" dalam ayat tersebut menurut Imam Ibnu Taimiyah maknanya yang tepat adalah tidak menghadiri kebohongan (az-zuur), bukan memberikan kesaksian palsu. Dalam bahasa Arab, memberi kesaksian palsu diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna bi az-zuur. Jadi ada tambahan huruf jar yang dibaca bi. Bukan diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna az-zuur (tanpa huruf jar bi). Maka ayat di atas yang berbunyi "laa yasyhaduuna az-zuur" artinya yang lebih tepat adalah " tidak menghadiri kebohongan", bukannya " memberikan kesaksian palsu." (M. Bin Ali Adh-Dhabi’i, Mukhtarat min Kitab Iqtidha` Shirathal Mustaqim Mukhalafati Ash-habil Jahim (terj.), hal. 59-60)

Sedang kata "az-zuur" (kebohongan) itu sendiri oleh sebagian tabi’in seperti Mujahid, adh-Dhahak, Rabi’ bin Anas, dan Ikrimah artinya adalah hari-hari besar kaum musyrik atau kaum jahiliyah sebelum Islam (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91-95).

Jadi, ayat di atas adalah dalil haramnya seorang muslim untuk merayakan hari-hari raya agama lain, seperti hari Natal, Waisak, Paskah, Imlek, dan sebagainya.

Imam Suyuthi berdalil dengan dua ayat lain sebagai dasar pengharaman muslim turut merayakan hari raya agama lain (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92). Salah satunya adalah ayat :

"Dan sesungguhnya jika kamu [Muhammad] mengikuti keinginan mereka setelah datangnya ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim." (QS Al-Baqarah [2] : 145).

Menurut Imam Suyuthi, larangan pada ayat di atas tidak hanya khusus kepada Nabi SAW, tapi juga mencakup umat Islam secara umum. Larangan tersebut adalah larangan melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh atau orang kafir [seperti turut merayakan hari raya mereka]. Sedangkan yang mereka lakukan bukanlah perbuatan yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92).

Adapun dalil As-Sunnah, antara lain Hadits Nabi SAW,"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka." (HR Abu Dawud).

Dalam hadits ini Islam telah mengharamkan muslim untuk menyerupakan dirinya dengan kaum kafir pada hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka, seperti hari-hari raya mereka. Maka dari itu, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari-hari raya agama lain (Lihat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penjelasan Tuntas Hukum Seputar Perayaan, [Solo : Pustaka Al-Ummat], 2006, hal. 76).

Berdasarkan dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan Imlek dalam segala bentuk dan manifestasinya. Haram bagi muslim ikut-ikutan mengucapkan Gong Xi Fat Chai kepada orang Tionghoa, sebagaimana haram bagi muslim menghiasi rumah atau kantornya dengan lampion khas Cina, atau hiasan naga dan berbagai asesoris lainnya yang serba berwarna merah. Haram pula baginya mengadakan berbagai macam pertunjukan untuk merayakan Imlek, seperti live band, karaoke mandarin, demo masak, dan sebagainya.

Semua bentuk perbuatan tersebut haram dilakukan oleh muslim, karena termasuk perbuatan merayakan hari raya agama kafir yang telah diharamkan Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Terakhir, kami sampaikan seruan dan himbauan kepada saudara-saudaraku muallaf dari etnis Tionghoa, hendaklah Anda masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhannya (kaffah). Janganlah Anda –semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda semua— mengikuti langkah-langkah setan, yakni masuk ke dalam agama Islam namun masih mempertahankan sebagian ajaran lama yang dulu Anda peluk dan Anda amalkan, seperti perayaan Imlek. Marilah kita renungkan firman Allah SWT :

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu." (QS Al-Baqarah [2] : 208)

Ya Allah, kami sudah menyampaikannya. Saksikanlah. [ ]

Yogyakarta, 15 Pebruari 2007

Muhammad Shiddiq al-Jawi

http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=346&Itemid=37

Krisis Ekonomi AS

George W Bush Paling Bertanggung Jawab

Sebenarnya mudah saja untuk memahami krisis keuangan AS yang kembali meledak, Senin (21/1). Salah satu dasar utamanya adalah utang Pemerintah AS yang meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan paling pesat terjadi di era tiga presiden dari Republik, Ronald Reagan, George Herbert Walker Bush, dan anaknya George Walker Bush. Namun, si anak ini adalah penimbun utang terbesar. Bayangkan, jika pendapatan Anda sebesar Rp 1,3 juta per tahun, tetapi jumlah utang sudah mencapai Rp 898.000. Artinya, 68 persen dari pendapatan Anda harus dibayar untuk utang. Apa yang akan terjadi? Kemungkinan besar posisi keuangan Anda sudah dianggap bahaya dan riskan untuk diberi pinjaman baru.Nah, hal serupa itulah yang terjadi dengan pemerintahan AS sekarang ini. Total utang nasional AS mencapai 8,9 triliun dollar AS. Sementara itu, produksi domestik bruto (PDB) atau pendapatan tahunan sekarang ini sekitar 13 triliun dollar AS.

Benar, utang itu bisa dibayar secara mencicil dari tahun ke tahun. Namun, persentase utang yang sudah besar jelas merupakan lampu merah yang menyala lengkap dengan bunyi sirene.Di sisi lain, sumber pendapatan baru tak didapat, malah perangai Anda terus terbius dengan keborosan. Ini tentu semakin membahayakan lagi. Secara ekonomi, Anda tak lagi bisa tertolong dan sudah pada posisi kronis secara finansial.

Inilah yang menjadi dasar bagi Uni Eropa untuk menyalahkan AS sebagai penyebab kejatuhan saham-saham global. ”Masalah mendasar adalah pada utang AS yang terus meningkat dari tahun ke tahun, tanpa peningkatan tabungan,” kata Ketua Komisi Uni Eropa untuk Urusan Ekonomi dan Moneter Joaquin Almunia, Selasa (22/1) di Brussels.

Pada tahun 2004, Paul Krugman, penasihat ekonomi pada era Ronald Reagan, sudah wanti-wanti. Ia mengatakan, turbulensi masih akan terjadi di periode kedua pemerintahan Presiden George W Bush. Ia menuduh kebijakan Gedung Putih terlalu sarat dengan misi politik dan tidak mengindahkan rambu-rambu ekonomi.

Harap diketahui dari 8,98 triliun utang AS, ke luar negeri dan warga dalam negeri, sebanyak 3,25 triliun dollar AS terjadi selama pemerintahan George Walker Bush.Maka dari itu, siapa pun presiden AS berikutnya, salah satu masalah terbesar yang harus dihadapi adalah penumpukan utang. ”Warisan Bush adalah utang yang lebih besar,” demikian kata Stan Collender, seorang veteran ahli anggaran AS di harian The Christian Science Monitor edisi 27 September 2007.

Mengapa menumpuk?

Lalu, pertanyaannya adalah mengapa terjadi penumpukan utang di bawah pemerintahan Bush? Salah satu penyebab utama adalah program pengurangan pajak korporasi sebesar 1,35 triliun dollar AS yang dicanangkan pada 2001. Ini adalah program pengurangan utang terbesar dalam sejarah perekonomian AS. Bush berambisi mendorong aktivitas perekonomian dengan mengurangi pajak. Harapannya, dengan pajak yang rendah, korporasi akan meningkatkan konsumsi.

Mantan Gubernur Bank Sentral AS Alan Greenspan menentang ini. Pihak yang juga turut menolak adalah Menkeu Paul O’Neill yang kemudian mengundurkan diri. Alasan O’Neill adalah, program ini mengancam anggaran untuk kepentingan pengamanan sosial. Banyak warga AS yang kurang makan, kurang mampu membiayai perobatan. Ini tak berterima bagi Bush.Hal yang terjadi adalah, ekonomi hanya tumbuh rata-rata 2,5 persen per tahun selama Bush memimpin AS. Ini adalah rata-rata pertumbuhan terrendah dalam beberapa dekade terakhir. Bibit krisis tertanam. Utang terus menumpuk. Penerimaan pajak, salah satu andalan penerimaan pemerintah, anjlok drastis.

Di sisi lain, warga kaya AS makin kaya, sementara kaum papa makin papa. Bukan itu saja, makin banyak yang tak mampu membiayai pendidikan dan terjebak narkoba. Program televisi The Oprah Show turut memperlihatkan ironi kaum miskin di AS ini.

Inilah ironi dari pengurangan pajak. Padahal, selain mendorong penerimaan pemerintah, pajak juga instrumen pemerataan pendapatan. Ini tidak terjadi. Si kaya makin kaya, si miskin makin miskin. Inilah salah satu warisan terparah pemerintahan Bush, seperti sudah sering diingatkan ekonom seperti Krugman dan Joseph E Stiglitz.

Logika ekonomi Bush begitu buruk. Harian Los Angeles Times sampai melacak nilai mata kuliah ekonomi Bush ketika dia masih kuliah, yang -C. Problem lain penyebab utang adalah defisit perdagangan dan defisit anggaran pemerintah. Defisit ini harus ditutup dengan utang luar negeri, termasuk berupa pembelian obligasi yang diterbitkan Pemerintah AS oleh asing seperti Jepang serta China.

Di bawah Bush juga muncul pembengkakan biaya perang ke Irak dan Afganistan. Setelah membiayai Perang Korea dan Vietnam, AS juga membiayai perang yang tidak perlu di Irak dan Afganistan. Irak tidak aman dan Osama bin Laden tak tertangkap juga.

Lembaga keuangan liar

Masalah lain adalah posisi AS sebagai negara sarang para spekulan. AS, misalnya, punya badan pengawas lembaga keuangan bernama Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Badan ini bertugas mencegah manipulasi keuangan, aksi spekulasi berlebihan.AS memiliki ICE (Inter-Continental Exchange) Futures. Badan ini melakukan aktivitas perdagangan berjangka, termasuk komoditas gas dan minyak. Namun, CFTC tidak mengawasi ICE Futures.

Senator Carl Levin dan Norm Coleman sedang melakukan penyelidikan atas ICE Futures yang diduga keras turut berperan mendongkrak harga minyak mendekati angka 100 dollar AS per barrel. Minyak tidak saja memukul kantong warga Indonesia, tetapi juga warga AS.

Kaitan dengan saham

Ada banyak lagi perusahaan keuangan di AS yang tidak disiplin dan tidak diatur agar memelihara etika bisnis.

Lagi sejak 2001, ekonomi AS tumbuh, berkat dorongan kucuran kredit ke sektor perumahan, termasuk dari berbagai perbankan besar internasional.Harga rumah didorong naik ke tingkat tertinggi, hingga pembeli baru tak mampu lagi membeli rumah. Bukan itu saja, pembeli rumah lama, dengan pinjaman dari perbankan, tak mampu lagi membayar utang. Harga rumah sudah meletus bagai balon. Muncullah istilah bubble burst, menggelembung lalu meledak.

Kejadian ini membangkrutkan Merrill Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock (Inggris), UBS (Swiss), dan Mitsubishi UFJ (Jepang). Manajemen perusahaan ini terpaksa menyuntikkan modal. Namun, banyak perusahaan AS dan negara lain yang bangkrut, korban subprime mortgage. Ini adalah julukan bagi surat utang yang dipakai membiayai sektor perumahan. Surat utang ini tidak memiliki kategori AAA, di mana kemampuan membayar sangat tinggi, malah kategori junk (sampah).

Stephen Roach, ekonom dari Morgan Stanley Asia, mengkritik kecerobohan dan bahaya dari kebijakan Bank Sentral AS selama ini. Suku bunga rendah telah memicu spekulasi, termasuk di sektor perumahan, dengan menggunakan uang murah, akibat suku bunga rendah itu.Inilah antara lain warisan buruk Bush. Tidak heran George Mason

University menuliskan bahwa Bush memiliki peringkat terburuk sepanjang sejarah Gedung Putih, bahkan ia kalah dari pemicu skandal Watergate, Richard Nixon.

Menlu AS Condoleezza Rice mencoba menebarkan kebohongan baru. Di Forum Ekonomi Dunia, Davos, Swiss, Rabu (23/1), Rice mengatakan fondasi ekonomi AS solid.Tidak demikian halnya dalam pandangan George Soros. Di Davos, tak ada pihak yang ragu lagi untuk mengatakan AS secara teknis sudah mengalami resesi, termasuk ekonom AS lainnya seperti Fred C Bergsten.

Dengan kondisi ini, bukan hanya AS yang memiliki reputasi buruk soal ekonomi. Organ-organ AS, termasuk perusahaan-perusahaan AS, juga menjadi sekarat. Perusahaan-perusahaan ini juga menerbitkan saham di bursa Wall Street. Bisakah kita mengharapkan harga-harga saham itu, yang didorong tinggi menciptakan bubble, untuk terus menggelinding naik? Tidak!

Inilah yang sedang terjadi dengan AS. Bagaimana dampaknya ke negara lain, ke Eropa, Asia? Dampaknya pasti ada, setidaknya penurunan pertumbuhan global. Namun untungnya, pilar ekonomi dunia tidak lagi semata-mata didukung AS. Istilah AS bersin lalu negara lain akan demam, relatif berkurang. Setidaknya, inilah juga Bergsten.

Bagaimana menyelamatkan ekonomi AS? Semua persoalan itu butuh waktu tahunan untuk diatasi. Tetapi setidaknya, biarkan dulu Bush mundur untuk digantikan calon lain yang mendengar para ekonom.

Bank Sentral AS memang kembali menurunkan suku bunga. Pemerintahan Bush menciptakan dana stimulus ekonomi sebesar 150 miliar dollar AS. Profesor ekonomi New York

University, Nouriel Roubini, mengecam Fed. ”Fed tak mengerti akar persoalan,” kata Roubini.

Krugman juga mengatakan stimulus Bush itu akan sia-sia saja. Disiplin anggaran, pemerataan pendapatan warga AS, restrukturisasi sistem keuangan, itulah obatnya. (Simon Saragih : Kompas online, Minggu, 27 januari 2008 | 03:19 WIB)

Peran AS Membangun Rezim Soeharto

Entah sengaja atau tidak, tidak lama setelah Soeharto meninggal, dokumen yang berisi hubungan AS dan rezim Soeharto dipublikasikan di Amerika Serikat. Dokumen yang dipublikasi oleh Arsip Keamanan Nasional atau The National Security Archives menggambarkan bagaimana pemerintah AS tidak berbuat banyak terhadap pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan oleh Soeharto di saat memerintah di Indonesia. Kritik keras Amerika Serikat terhadap Soeharto hanya muncul tahun 1998, ketika Indonesia diguncang kerusuhan akibat krisis moneter (www.dw-world.de/dw/article/)

Dalam dokumen itu terdapat transkripsi pertemuan Soeharto dengan Presiden AS Richard Nixon, Gerald Ford dan pejabat tinggi AS seperti Henry Kissingger yang saat itu menjadi menlu AS. Terungkap pula, surat Menlu AS kepada Nixon menyatakan AS tidak memiliki masalah dengan Indonesia. Ketika bertemu dengan Nixon dan Kissinger pada 26 mei 1970, terdapat tanya jawab yang antara lain berdapat laporar Soeharto bahwa dia telah menumpas pendukung komunis, melakukan indoktrinasi paham Orde Baru. Nixon kemudian memuji Soeharto sebagai pemimpin salah satu Negara demokrasi terbesar di dunia. Saat bertemu dengan Soeharto, Presiden AS saat itu Gerald Ford juga tidak memberikan tanggapan ketika Soeharto memaparkan kebijakannya tentang Timor Timur.

Dokumen ini menunjukan adanya keterhubungan antara pemerintahan Soeharto dengan AS. Selama ini, jarang sekali diungkap bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil Soeharto bukanlah semata-mata karena faktor pribadi sebagai pemimpin. Akan tetapi ada dukungan, pengaruh bahkan campur tangan yang kuat dari AS untuk mendesain system politik dan ekonomi Indonesia. Hal itu tampak dari berbagai kebijakan yang diambil Soeharto saat itu yang sangat kapitalistik dalam berbagai bidang baik ekonomi, politik, agama maupun budaya.Hal ini bisa dimaklumi, mengingat sejak awal pembentukan pemerintahan yang dikenal sebagai rezim orde Baru campur tangan AS sangat kuat. Konstelasi politik saat itu menggambarkan bagaimana AS harus mencari ‘sekutu’ baru di Indonesia, setelah Soekarno dianggap semakin ke kiri (pro Komunis) dan memihak PKI.

Soekarno kemudian tumbang setelah terjadinya peristiwa yang dikenal dengan pemberontakan G30s PKI. Soeharto pun muncul sebagai pemimpin baru Indonesia lewat -yang oleh banyak pihak- disebut konspirasi politik tingkat tinggi. Berbagai dokumen rahasia AS yang kemudian dipublikasikan secara terbuka menggambarkan campur tangan AS. Raplh Mc Gehee, seorang pejabat operasi senior CIA menggambarkan kondisi teror saaat Soeharto mengambil alih Indonesia tahun 60-an mirip dengan model operasi CIA di Chili, saat AS mendukung kudeta di Negara Amerika Latin itu. Menurutnya, Kedubes AS di Jakarta memberikan daftar orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI yang kemudian menjadi target untuk ditahan atau dibunuh.

Jatuhnya Soekarno merupakan kondisi sangat kondusif bagi AS untuk bermain secara langsung dalam politik dan ekonomi Indonesia. David Ramson dalam tulisannya Mafia Barkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia, mengutip pernyataan seorang pejabat Bank Dunia tentang politik di Indonesia : “Kejadian di Indonesia pada tahun 1965 merupakan kejadian yang terbaik bagi kepentingan Uncle Sam sejak perang Dunia II”. Hal senada diungkap oleh Presiden Richard Nixon pada tahun 1967 yang mengatakan : “ Indonesia adalah ‘hadiah terbesar’ (the greatest prize) di wilayah Asia Tenggara”.

Kebijakan Pro Liberal

Peran AS membangun rezim Soeharto sangat menonjol dalam bidang ekonomi. AS membantu membentuk Tim Ekonomi yang dikenal dengan Mafia

Berkeley. Tim inilah yang kemudian merancang kebijakan ekonomi

Indonesia yang kapitalistik, liberal dan sesuai dengan kepentingan AS. Tim istimewa ini ditempatkan dalam pemerintahan baru yang menguasai perekonomian. Dan hal itu kemudian terbukti, pada juni 1969, Soeharto bertemu dengan tim ini yang kemudian menjadi menteri dalam kabinet pembangunan.

Dalam kabinet ini hampir sebagian besar pejabat ekonominya adalah hasil didikan AS terutama dari Mafia Berkeley . Terdapat Widjojo Nitisastro (alumnus Berkeley) sebagai ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Emil Salim (alumnus Berkeley)sebagai wakilnya, Subroto sebagai dirjen pemasaran dan perdagangan (alumnus Harvard), menteri keuangan Ali Wardhana (Berkeley), ketua Penanaman Modal Asing Moh. Sadli (MIT).

Kebijakan ekonomi pro liberal sejak saat itu diterapkan. Ditandai dengan kebijakan yang pro pasar, mengundang investasi asing, meminjam hutang luar negeri. Dampaknya sangat luar biasa. Kebijakan investasi asing ditandai dengan penjualan kekayaan alam Indonesia kepada perusahaan asing sebagai kompensasi dari bantuan hutang luar negeri Indonesia. Sementara hutang luar negeri kemudian menjadi alat tekanan negara donor yang semakin menjerat Indonesia. Akibat jebakan hutang ini Indonesiapun harus patuh terhadap instruksi IMF dan Bank Dunia, yang alih-alih menyelesaikan krisis ekonomi, tapi malah membuat krisis ekonomi makin parah.

Jhon Pilger dalam The New Rulers of World menggambarkan bagaimana kekayaan alam Indonesia dibagi-bagi bagaikan rampasan perang oleh perusahaan asing pasca jatuhnya Soekarno. Menurut Jhon Pilger, pada November 1967 The Time Life Corporation mengadakan konferensi istimewa di Jenewa Swiss selama tiga hari. Agendanya, fokus pada bagaimana strategi mengambil alih Indonesia. Pesertanya, pengusaha kapitalis paling pengaruh di dunia antara lain David Rockefeller. Tidak ketinggalan, Perusahaan multinasional raksasa (terutama minyak dan gas) dan bank internasional pun hadir dalam konferensi itu.

Sementara di seberang meja, hadir ekonom-ekonom The Berkeley Mafia yang menjual Indonesia dengan tawaran tenaga buruh murah, cadangan dan sumber alam yang melimpah dan pasar yang besar. Pada hari kedua, masih menurut Pilger, kekayaan alam Indonesia pun dibagi-bagi. Freeport mendapat emas di Papua Barat, sebuah perusahaan konsorsium Eropa mendapat Nikel di Papua Barat, perusahaan lain mendapat hutan tropis.

Tidak jauh beda dengan ekonomi, kebijakan politik Indonesia di masa rezim Soeharto sulit dikatakan murni hasil pikiran Soeharto. Format politik saat itu sangat dipengaruhi oleh Ideologi Kapitalisme. Sejak era Soeharto kebijakan politik yang sekuler samakin menguat. Dalam konteks ini, bisa dimengerti kenapa Soeharto tampak bersikap sangat keras terhadap kelompok-kelompok Islam yang ingin memperjuangkan syariah Islam atau negera Islam. Disamping , kekuatan Islam dianggap sebagai ancaman politiknya secara pribadi, kekhawatiran kelompok Islam merubah asas sekuler dari negara juga menjadi pertimbangan. Sama seperti isu perang melawan terorisme sekarang, isu membendung kelompok radikal merupakan isu yang layak dijual untuk mendapat kepentingan negara-negara Barat.

Bagi AS dan negara-negara Barat lainnya, kebijakan Soeharto yang mengokohkan sekulerisme di Indonesia dengan membendung kekuatan kelompok Islam tentu akan mengamankan posisi ideologis Barat. Sejak dulu hingga saat ini, ada kekhawatiran yang besar dari negera-negara Barat, bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk yang mayoritas muslim akan menjadi negara yang menegakkan syariah Islam secara formal.

Bisa dimengerti kenapa AS tidak terlampau mempersoalkan kebijakan Seoharto yang cendrung represif terhadap lawan politiknya. Dalam kasus asas tunggal yang banyak misalkan, Soehrato kemudian menjerat lawan politiknya dengan alasan menentang ideologi negara. Tindak represif pun terjadi dibanyak tempat. Sebab, asas tunggal yang ditawarkan Soeharto saat itu akan memperkokoh sekulerisme di Indonesia, sekaligus mengurangi potensi ancaman ideologis dari kekuatan kelompok Islam.

Walhasil bisa dikatakan kebijakan Soeharto saat memerintah yang kemudian menimbulkan banyak masalah baik secara politik maupun ekonomi, tidak bisa dilepaskan dari campur tangan AS saat itu. Kondisi yang sama tentu tidak diharapkan terjadi dalam pemerintahan saat ini karena akan menimbulkan biaya (cost) politik maupun ekonomi yang besar.

Pelajaran dari rezim Soeharto, sikap tunduk pada konsepsi ideologi dan kebijakan negara Barat, secara politik telah menimbulkan berbagai pelanggaran kemanusiaan atas nama ideologi negara yang dimanipulasi. Secara ekonomi , tunduk pada design ekonomi asing yang pro liberal akan berbuah pada krisis ekonomi, kebijakan yang memberatkan rakyat, dan perampokan terhadap kekayaan alam Indonesia atas nama investasi . Kita khawatir, sama seperti yang terjadi dengan rezim Soeharto, kemudian berakhir pada kerusuhan sosial. (Farid Wadjdi)

 

© Copyright AL-FATIH ZONE 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.