Blogger Themes

News Update :

MENUJU KEBANGKITAN INDONESIA

Minggu, 11 Mei 2008

BOGOR, JAKARTA, PEKANBARU, BANJARMASIN

  1. Bogor: Diskusi Panel ”Indonesia Menuju Kebangkitan Hakiki”
  2. Jakarta: Forum Kajian Muslimah ”HAM Versus Islam: Legalisasi Homoseksual?”
  3. Pekanbaru: Seminar Nasional: “Menuju Kebangkitan Indonesia”
  4. Banjarmasin: Konferensi Pendidikan: “Momentum Seabad Kebangkitan Nasional Menuju Pendidikan Indonesia Lebih Baik”

seminar-nasional-riau-ok.jpg konfpendidikankalsel.jpg

BOGOR
DISKUSI PANEL
INDONESIA MENUJU KEBANGKITAN HAKIKI”

Ahad, 11 Mei 2008
Pukul 08.00 – 12.00

Gedung Serba Guna II Komplek Pemda Kabupaten Bogor, Cibinong Bogor

Pembicara:

  1. Dr. Hendri Saparini (Anggota Tim Indonesia Bangkit). Tema : ”Fakta 100 Tahun Kebangkitan Indonesia”
  2. Dr. Maman Kh., MSi. (Pengamat Sejarah Islam, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta). Tema: ”Peran Islam dalam Sejarah Kebangkitan Indonesia”
  3. Ustadz M. Rahmat Kurnia (Ketua Lajnah Siyasiyah dan Direktur Pusat Kajian Politik Islam Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia). Tema: ”Indonesia Menuju Kebangkitan Hakiki”

Moderator: Ir. Kusman Sadik MSi.

Penyelenggara:
DPD II HTI Kabupaten Bogor
bekerjasama dengan:
Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor
Kantor Departemen Agama Kabupaten Bogor
Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor

Contact Person:
Iwan Setiawan : 0812-8156977
Amirullah : 0817-6824280

Kegiatan ini ditujukan kepada guru sejarah dan guru agama di tingkat SMP/MTs dan SMA/MA se-Kabupaten Bogor dan peserta umum. Sebagai info, acara ini insya Allah akan diliput TV Al-Jazeera, harian Radar Bogor dan harian Jurnal Bogor.

JAKARTA

Mengundang Pimpinan/Pengurus Organisasi/Lembaga/Partai Politik, Aktivis, Ustadzah dalam acara Forum Kajian Tokoh Muslimah (ForumKiTA) ke-2 yang insya Allah akan diselenggarakan pada :

Hari/tanggal : Rabu, 14 Mei 2008
Waktu : Pukul 13.00 s/d 15.30 WIB
Tempat : Gedung Intiland Tower (Wisma Dharmala Sakti)
Ruang Nilakandi Jl. Jendral Sudirman Kav 32 Jakarta Pusat
Tema :
HAM Versus Islam : Legalisasi Homoseksual?

Pembicara :

1) Dr. Ir. Hj. Aida Vitayala (Dosen IPB, PSW IPB)
“ HAM dan Homoseksualitas”

2) Prof. Dr. Hj. Huzaemah T. Yanggo, MA (Direktur PPs IIQ, MUI)
“Homoseksualitas dalam Tinjauan Islam”

3) Rahma Qomariah, Spd (YLBPII)
“HAM : Alat Liberalisasi”

4) Ir. Hj. Emi Khaerani (DPP HTI)
“Khilafah : Bendung Liberalisasi”

PEKANBARU:

seminar-nasional-riau-ok.jpg

BANJARMASIN:

konfpendidikankalsel.jpg

Tolak Penghinaan Adnan Buyung Nasution Kepada Ulama

Sabtu, 10 Mei 2008

logofui.jpgFORUM UMAT ISLAM

Sekretariat: Gedung Menara Dakwah Lantai 3, Jl. Kramat Raya No. 45 Jakarta, Telp. 021-8305848, 3909059, Fax. 021-8305848, 3103693

PERNYATAAN SIKAP
FORUM UMAT ISLAM (FUI)
TOLAK PENGHINAAN ADNAN BUYUNG NASUTION KEPADA ULAMA

Setelah melecehkan Forum Umat Islam (FUI) sebagai kelompok kecil bahkan dengan kata-kata segelintir masyarakat, Adnan Buyung Nasution, pembela utama gerombolan pemalsu agama Islam yang bernama Ahmadiyah, melakukan tindakan yang sangat menyakitkan umat Islam, yakni melakukan penghinaan kepada Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma’ruf Amin, di depan publik melalui wawancara yang disiarkan oleh Radio BBC pada hari Rabu, 7 Mei 2008 pukul. 18.00-18.30 WIB. Dalam siaran itu dengan kata-kata yang sangat kasar Buyung menyerang Kiyai Ma’ruf: ”Itu orang/manusia yang tidak punya harga diri atau rasa malu”.

Untuk itu, Forum Umat Islam (FUI) menyatakan:

1. Menolak keras sikap kasar dan penghinaan Adnan Buyung Nasution kepada KH. Ma’ruf Amin sebagai ulama yang menjadi panutan umat Islam dan sebagai pejuang pemberantas kebatilan Ahmadiyah.

2. Menuntut kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera mencopot Adnan Buyung Nasution dari jabatan anggota Wantimpres karena sangat tidak etis sebagai anggota Wantimpres bidang hukum menghina dengan kasar KH Ma’ruf Amin yang merupakan anggota Wantimpres bidang agama.

3. Menuntut Adnan Buyung Nasution untuk meminta maaf atas pernyataan kasar tersebut secara terbuka di semua media massa nasional, baik cetak maupun elektronik selama 7 (tujuh) hari berturut-turut.

4. Menyerukan kepada umat Islam, khususnya para ulama dan pengurus MUI agar mewaspadai gerak-gerik dan manuver Adnan Buyung Nasution dan kawan-kawannya yang merusak kehormatan para ulama.

Jakarta, 2 Jumadil Awwal 1429 H
8 Mei 2008

ATAS NAMA UMAT ISLAM INDONESIA
FORUM UMAT ISLAM

Ketua Sekretaris Jenderal

H. Mashadi K.H. M. Al Khaththath

FORUM UMAT ISLAM :

Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Syarikat Islam (SI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), YPI Al Azhar, Front Pembela Islam (FPI), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Majelis Adz Zikra, MER-C, PP Daarut Tauhid, Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pembela Muslim (TPM), Muslimah Peduli Umat (MPU), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Korps Ulama Betawi, Forum Tokoh Peduli Syariah (FORTOPS), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Hidayatullah, Al Washliyyah, KAHMI, PERTI, IKADI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang, PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Missi Islam, Gema Pembebasan, Forum Silaturahim Antarpengajian (FORSAP)Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

Dibalik Dialog Antar Agama

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.
(Lajnah Tsaqofiyah HTI )

Perspektif Islam

Untuk mengetahui sikap Islam terhadap dialog antarumat beragama, terlebih dahulu harus diketahui paradigma Islam terhadap aqidah lain beserta pemeluknya. Terhadap aqidah lain, Islam memiliki sikap yang amat jelas dan tegas, bahwa semua aqidah selainnya adalah sesat. Terdapat banyak ayat maupun hadits yang menjelaskan prinsip tersebut.

Al-Quran menyatakan bahwa Islam adalah dien yang berasal dari Allah Swt (QS Ali Imran [3] [3]: 19). Karena kebenaran adalah yang datang dari-Nya (QS Ali Imran [3]: 60), amat logis jika hanya Islam yang diridhai Allah Swt sebagai dien yang dipeluk dan diikuti manusia (QS al-Maidah [5]: 3). Dien inilah yang diperintahkan untuk diikuti seluruh manusia sejak diutusnya Muhammad saw sebagai nabi dan rasul (QS Saba’ [34]: 28). Perintah itu juga mencakup kalangan Ahli Kitab, yakni pemeluk agama Yahudi dan agama Nasrani (QS al-Maidah [5]: 19). Baik ahli Kitab maupun kaum musyrikin diperintahkan untuk meninggalkan aqidah mereka dan mengimani Islam (QS Ali Imran [3]: 20). Dan setiap orang yang sudah beriman, mereka diwanti-wanti agar tetap teguh memegang Islam hingga maut menjemput (QS Ali Imran [3]: 102).

Al-Quran juga menegaskan bahwa semua dien –agama maupun ideologi—selain Islam adalah batil dan tidak boleh diikuti. Siapa pun yang memeluk dan mengikutinya, tidak akan diterima Allah dan digolongkan sebagai orang yang merugi (QS Ali Imran [3]: 85). Mereka juga dikatagorikan sebagai kafir yang jika tidak mau bertaubat hingga wafatnya diancam dengan neraka jahannam yang kekal siksanya (QS al-Baqarah [2]: 191, Ali Imran [3]: 161). Dari Abu Hurairah Rasulullah saw juga bersabda:

ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ู†َูْุณُ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุจِูŠَุฏِู‡ِ ู„َุง ูŠَุณْู…َุนُ ุจِูŠ ุฃَุญَุฏٌ ู…ِู†ْ ู‡َุฐِู‡ِ ุงู„ْุฃُู…َّุฉِ ูŠَู‡ُูˆุฏِูŠٌّ ูˆَู„َุง ู†َุตْุฑَุงู†ِูŠٌّ ุซُู…َّ ูŠَู…ُูˆุชُ ูˆَู„َู…ْ ูŠُุคْู…ِู†ْ ุจِุงู„َّุฐِูŠ ุฃُุฑْุณِู„ْุชُ ุจِู‡ِ ุฅِู„َّุง ูƒَุงู†َ ู…ِู†ْ ุฃَุตْุญَุงุจِ ุงู„ู†َّุงุฑِ

Demi Allah yang jiwa Muhammad yang ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang aku seorang dari umat ini, baik dia Yahudi atau Nasrani, lalu ia mati dan tidak mengimani risalah yang aku bawa (Islam), kecuali termasuk penghuni neraka (HR Muslim).

Secara khusus al-Quran mengecam beberapa aqidah yang dipeluk manusia. Nasrani yang bertumpu pada doktrin trinitas yang mengakui ketuhanan Isa as, ditolak tegas oleh Islam. Dalam aqidah Islam, Isa as bukanlah Tuhan, namun dia adalah hamba, nabi, dan utusan Allah Swt. dan siapa pun yang mempercayai doktrin tersebut digolongkan sebagai kafir (QS al-Maidah [5]: 72-73). Penyimpangan Yahudi, baik dari segi aqidah maupun syariah juga banyak diungkap dalam al-Quran.

Inilah paradigma Islam terhadap aqidah dan pemeluk lainnya. Bahwa Islam adalah agama yang haq, sementara semua aqidah lainnya adalah sesat dan pemeluknya terkatagori sebagai kafir. Bertolak dari paradigma inilah setiap muslim bersikap. Dengan paradigma ini, maka seorang muslim akan menjadikan setiap pemeluk aqidah selain Islam sebagai sasaran dakwah, berupaya mengajak mereka untuk melepaskan aqidahnya dan menggantinya dengan Islam. Caranya dengan membongkar kesesatan aqidah lawannya, merobohkan semua argumentasinya, dan membeber semua kerusakannya. Selanjutnya, ditanamkan keyakinan mereka akan kebenaran Islam dengan memberikan bukti-bukti tak terbantahkan. Banyak ayat dan hadits yang memerintahkan umat Islam untuk berdakwah kepada nonmuslim untuk memeluk Islam dan meninggalkan kekufuran mereka.

Meskipun demikian, bukan berarti kaum muslim diperbolehkan memaksa mereka untuk meninggalkan agamanya. Allah Swt melarang tindakan tersebut (QS al-Baqarah [2]: 256). Jika mereka menolak masuk Islam, mereka diberi kesempatan menjadi kafir dzimmi dalam naungan Daulah Islamiyyah. Harta mereka haram diambil dan darah mereka haram ditumpahkan kecuali dengan cara yang haq. Mereka juga tidak boleh diganggu dan diperlakukan tidak adil lantaran tidak memeluk Islam. Jihad memerangi orang-orang kafir, memang diwajibkan. Namun itu bukan dalam kerangka memaksa mereka masuk Islam. Jihad futuhat itu diperintahkan manakala mereka menolak memilih di antara dua pilihan, yaitu: masuk Islam atau tunduk kepada sistem Islam dengan menjadi kafir dzimmi. Jika mereka tidak memilih di antara keduanya berarti dia telah menjadikan dirinya sebagai penghalang fisik yang harus disingkirkan dengan kekuatan fisik pula alias jihad (QS al-Taubah [9]: 29).

Berdasarkan paparan di atas, dialog dengan pemeluk aqidah lain dengan tujuan untuk berdakwah dan mengajak mereka meninggalkan kekufurannya dan mengimani Islam boleh dilakukan. Rasulullah saw dan para sahabat juga pernah berdialog dengan orang kafir dengan tujuan tersebut.

Tetapi jika dialog lintas agama itu bertujuan untuk menemukan titik-titik persamaan antar berbagai agama; mereduksi dan memangkas sebagian ajaran Islam untuk dikompromikan dengan agama lain; menyamakan dan menyejajarkan Islam dengan agama lain; atau bahkan memberikan pengakuan akan kebenaran agama lain jelas dilarang Islam.

Apabila dicermati, berbagai dialog antaragama yang kini gencar diadakan tidak terkatagori jenis pertama namun terkatagori jenis kedua. Tema-tema yang dibahas dalam dialog tersebut senantiasa berkisar pada upaya-upaya mengembangkan sikap saling toleran, saling mencintai, menciptakan perdamaian, dan melakukan kerjasama antar pemeluk agama. Alih-alih melakukan dakwah mengajak orang-orang kafir meninggalkan kekufurannya dan mengikuti Islam, ‘delegasi dari umat’ Islam justru terseret dalam arus ide yang menyejajarkan, menyepadankan, dan menyamaratakan agama.

Bahaya Dialog Antar Agama

Di samping bertentangan dengan ketentuan syara’, dialog antar agama itu mengandung sejumlah bahaya. Di antara bahayanya adalah: pertama, mengikis keimanan tentang Islam sebagai satu-satunya kebenaran. Tema yang senantiasa dibahas dalam dialog dan dianggap sebagai problem bersama adalah munculnya ketegangan dan konflik yang dilatari perbedaan agama. Solusi yang selalu ditawarkan dalam berbagai dialog itu adalah mengikis habis sikap fanatisme agama yang dianggap sebagai biang perselisihan. Oleh karenanya, klaim oleh setiap agama yang mengaku sebagai satu-satunya kebenaran harus singkirkan jauh-jauh. Sebagai gantinya, dikembangkan sikap saling menghormati, mau menerima perbedaan, dan tidak saling menyalahkan. Bahkan harus dicari sisi-sisi persamaan antaragama, seperti ajaran cinta kasih, perdamaian, persaudaraan, keadilan, dan sebagainya yang selanjutnya menjadi agenda bersama untuk disebarkan di tengah masyarakat. Solusi ini tentu dapat merusak keimanan seseorang.

Yang perlu digarisbawahi, keimanan seorang terhadap Islam sebagai satu-satunya kebenaran tak selalu berujung pada konflik agama. Sebab, keyakinan pasti akan kebenaran Islam tidak berarti membolehkan atau bahkan mengharuskan pemusnahan pemeluk agama lain. Sebagaimana telah dijelaskan di muka, meski umat Islam diperintahkan mengajak mereka kepada Islam, akan tetapi tidak dibenarkan memaksa mereka masuk Islam. Dengan demikian, simpulan bahwa ketegangan antar agama disebabkan karena fanatisme agama (Islam) merupakan simplikasi persoalan yang menyesatkan.

Demikian juga upaya mencari titik persamaan agama sebagai tawaran solusi untuk meredam konflik. Sebab, perkara yang dianggap sebagai titik persamaan agama sesungguhnya semu belaka. Jika ajaran cinta kasih atau keadilan dianggap sebagai titik temu antaragama, samakah ajaran cinta kasih dan keadilan antara Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, atau Budha? Jawabannya jelas, wujud nyata cinta kasih dan keadilan berbagai agama terdapat perbedaan, bahkan kontradiksi yang saling menafikan. Sebagai contoh, hukuman rajam yang ditimpakan terhadap pelaku perzinaan muhsan adalah adil menurut Islam. Akan tetapi hukuman itu bisa jadi dianggap sadis, barbar, atau tidak beradab oleh agama lain. Oleh karenanya, seruan menyebarkan cinta kasih, persaudaraan, perdamaian, dan sebagainya, tanpa ada kejelasan wujud nyatanya adalah seruan absurd alias pepesan kosong.

Kedua, memasung totalitas Islam dan mereduksi ajarannya. Di antara tujuan dalog antar agama yang sering didengungkan adalah menciptakan kehidupan moderat. Sedangkan kehidupan moderat adalah menjauhkan peran agama dari kehidupan. Sikap itu jelas akan memasung totalitas syariat Islam yang mengatur seluruh kehidupan dan mereduksinya hanya menjadi agama yang mengatur urusuan ubudiyyah dan privat lainnya. Ini berarti, dialog antar agama makin menjauhkan umat Islam dari perjuangan menegakkan syariat.

Ketiga, membendung gerakan-gerakan Islam yang bertujuan menegakkan syariat Islam dalam kehidupan bernegara. Dialog antar agama juga mengutuk terorisme. Jika definisi terorisme secara objektif, barangkalai tidak terlalu menjadi masalah. Sebab, Amerika sebagai negara gembong teroris termasuk daftar negara yang dikutuk. Demikian juga Israel , Inggris, Australia, dan sekutunya. Akan tetapi definisi terorisme telah dibajak sedemikian rupa sehingga label terorisme hanya disematkan kepada setiap individy, gerakan, atau negara yang menentang hegemoni Barat beserta ideologinya. Pada akhirnya, kutukan kepada terorisme acapkali ditalamtkan keada gerakan-gerakan islam ideologis yang akan menegakkan syariah dan khilafah yang dapat mengancam kedigdayaan Amerika beserta ideologinya.

Menelisik Asal Usul Dialog Antarumat Beragama

Berbagai bahaya tersebut wajar saja. Sebab, jika ditelisik asal-muasalnya dialog antar agama memang berasal dari Barat. Baratlah yang memunculkan dialog tersebut dan bersemangat untuk mempromosikan ke negara-negara lain. Dialog antaragama mulai muncul secara internasional pada tahun 1932 tatkala perancis mengutus delegasinya guna berunding dengan tokoh-tokoh ulama al-Azhar (Kairo-Mesir) mengenai ide penyatuan tiga agama; Islam, Kristen dan Yahudi.

Kegiatan ini kemudian ditindaklanjuti dengan Konferensi Paris tahun 1933 (dihadiri para orientalis dan misionaris dari berbagai universitas di Inggris, Swiss, Amerika, Italia, Polandia, Spanyol, Turki dll). Tahun 1936 diadakan Konferensi Agama-agama sedunia sebelum terjadi perang dunia II. Pada Tahun 1964 Paus Paulus VI menulis sebuah risalah yang menyerukan dialog antar agama-agama. Kemudian pada tahun 1969 Vatikan menerbitkan buku yang berjudul “Alasan Dialog Antar Kaum Muslim dan Kaum Kristiani”. Sepanjang dasawarsa 70-an dan 80-an abad ini, telah diadakan lebih dari 13 pertemuan dan konferensi untuk dialog antar agama dan antar peradaban. Dari fakta tersebut, tampak jelas bahwa di belakang semua kegiatan dialog tersebut adalah Barat.

Mereka sadar, untuk memenangkan kapitalisme tidak cukup dengan kekerasan seperti yang dipraktekkan secara telanjan oleh Amerika di Afghanistan dan Irak, namun juga harus memenangkan pertarungan ide. Walhasil, dialog aantar agama hanyalah salah satu taktik Barat untuk melempangkan jalan buat mereka untuk menguasai umat Islam dan negeri-negeri Islam.

Mereka telah berbuat makar untuk menghancurkan Islam dan umatnya, lalu apa yang Anda lakukan untuk membelanya? Wallah a’lam bi al-shawab.

Kejayaan Khilafah : Bukhara Kota Pengetahuan

scholars1.jpg”Gudang pengetahuan!” Begitu sastrawan besar Iran, Ali Akbar Dehkhoda menjuluki Bukhara — salah satu kota penting dalam sejarah peradaban Islam. Penyair Jalaludin Rumi pun secara khusus menyanjung Bukhara.

‘Bukhara sumber pengetahuan. Oh, Bukhara pemilik pengetahuan,” ungkap Rumi dalam puisinya menggambarkan kekagumannya kepada Bukhara tanah kelahiran sederet ulama dan ilmuwan besar.Konon, nama Bukhara berasal dari bahasa Mongol, yakni ‘Bukhar’ yang berarti lautan ilmu. Kota penting dalam jejak perjalanan Islam itu terletak di sebelah Barat Uzbekistan, Asia Tengah. Wilayah itu, dalam sejarah Islam dikenal dengan sebutan Wa Wara’ an-Nahr atau daerah-daerah yang bertengger di sepanjang Sungai Jihun.

Letak Bukhara terbilang amat amat strategis, karena berada di jalur sutera. Tak heran, bila sejak dulu kala Bukhara telah menjelma menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, budaya dan agama. Di kota itulah bertemu pedagang dari berbagai bangsa di Asia barat termasuk Cina. Lalu sejak kapan Bukhara mulai dikenal?

Menurut syair kepahlawanan Iran, kota Bukhara dibangun oleh raja Siavush anak Shah Kavakhous, salah satu Shah dalam cerita dongeng Iran yang berasal dari Dinasti Pishdak. Secara resmi, kota itu berdiri ada sejak tahun 500 SM di wilayah yang kini disebut Arq. Namun, oasis Bukhara telah didiami manusia mulai tahun 3000 SM, yakni semasa zaman perunggu.

Wilayah Bukhara, sejak 500 SM sudah menjadi wilayah kekuasaan Kekaisaran Persia. Seiring waktu, Bukhara berpindang tangan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lainnya, seperti Aleksander Agung, kekaisaran Hellenistic Seleucid, Greco-Bactaian, dan Kerajaan Kushan.

Selama masa itu, Bukhara menjadi pusat pemujaan Anahita. Dalam satu putaran bulan, penduduknya biasa merayakan ritual ibadah dengan mengganti berhala yang sudah usang dengan berhala yang baru. Sebelum Islam menaklukan wilayah itu, penduduk Bukhara adalah para penganut agama Zoroaster yang menyembah api.

Kehidupan penduduk Bukhara mulai berubah ketika tentara Islam datang membawa dakwah. Pada akhir tahun 672, Ziyad bin Abihi menugaskan Miqdam Rabi’ bin Haris berlayar dari Irak menuju daerah Khurasan. Miqdam berhasil menaklukan wilayah itu sampai ke Iran Timur. Setelah Ziyad meninggal, Mu’awiyah, Khalifah Bani Umayyah memerintahkan Ubaidillah bin Ziyad untuk menaklukan Bukhara.

Pasukan tentara Islam pertama menjejakan kaki di tanah Bukhara pada 674 M di bawah pimpinan panglima perang, Ubaidillah bin Ziyad. Namun, pengaruh Islam benar-benar mulai mendominasi wilayah itu pada 710 M di bawah kepemimpinan Kutaiba bin Muslim. Seabad setelah terjadinya Perang Talas, Islam mulai mengakar di Bukhara.

Tepat pada tahun 850 M, Bukhara telah menjadi ibu kota Dinasti Samanid. Dinasti itu membawa dan menghidupkan kembali bahasa dan budaya Iran ke wilayah itu. Ketika Dinasti Samanid berkuasa, selama 150 tahun Bukhara tak hanya menjadi pusat pemerintahan, namun juga sentra perdagangan.

Pedagang dari Asia Barat dan Cina bertemu di kota itu. Di kota Bukhara pun berkembang bisnis pembuatan kain sutera, tenunan kain dari kapas, karpet, katun, produk tembaga, dan perhiasan dari emas serta perak dengan berbagai bentuk. Bukhara pun kesohor sebagai pasar induk yang menampung produk dari Cina dan Asia Barat.

Selain itu, karena berada di sekitar Sungai Jihun, tanah Bukhara pun dikenal sangat subur. Buah-buahan pun melimpah. Kota Bukhara terkenal dengan buah-buahan seperti Barkouk Bukhara yang terkenal hampir seribu tahun. Geliat bisnis dan perekonomian pun tumbuh pesat. Tak heran, bila kemudian nama Bukhara makin populer.

Pada era keemasan Dinasti Samanid, Bukhara juga menjadi pusat intelektual dunia Islam. Saat itu, di kota Bukhara bermunculan madrasah-madrasah yang mengajarkan ilmu pengetahuan. Dinasti Samanid pun mulai memperbaiki sistem pendidikan umum. Di setiap perkampungan berdiri sekolah. Keluarga yang kaya-raya menndidikan putera-puterinya dengan sistem home schooling atau sekolah di rumah.

Anak yang berusia enam tahun mulai mendapat pendidikan dasar selama enam tahun. Setelah itu, anak-naka di Bukhara bisa melanjutkan studinya ke madrasah. Pendidikan di madrasah dilalui dalam tiga tingkatan, masing-masing selama tujuh tahun. Keseluruhan pendidikan di madrasah harus ditempuh selama 21 tahun.

Para siswa mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, mulai ilmu agama, aritmatika, jurisprudensi, logika, musik, serta puisi. Geliat pendidikan di Bukhara itu telah membawa pengaruh yang positif dalam penyebaran dan penggunaan bahasa Persia dan Uzbek.

Tak heran, kemampuan penduduk Bukhara dalam menulis, menguasai ilmu pengetahuan serta keterampilan berkembang pesat. Di tanah Bukahara pun kemudian lahir sederet ulama dan ilmuwan Muslim termasyhur.

Pada tahun 998 M, kekuasaan Dinasti Samanid berakhir dan digantikan Dinasti Salajikah. Tak lama kemudian, diambli alih Dinasti Khawarizm. Pada masa itu, status Bukhara sebagai pusat peradaban dan perkembangan Islam masih tetap dipertahankan. Ketika masa kekuasaan pemerintah Sultan Ala’udin Muhammad Khawarizm Syah berakhir, Bukhara sebagai pusat ilmu pengetahuan pun mulai meredup.

Pada tahun 1220 M, peperangan hebat antara pasukan Sultan Ala’udin dengan pasukan Mongol di bawah komando Jengiz Khan meletus. Serangan bruta yang dilakukan 70 ribu pasukan Jengiz Khan tak mampu diredam. Bukhara pun jatuh ke tangan pasukan Mongol. Dengan kejam dan sadis, pasukan Mongol membantai penduduk kota, membakar madrasah, masjid dan bangunan penting lainnya.

Jengiz Khan meluluh-lantakan peradaban dan ilmu pengetahuan yang dibangun umat Islam di Bukhara. Bukhara rata dengan tanah. Ibnu Asir melukiskan kondisi Bukhara dengan kata-kata:ka an lam tagna bi al-amsi (seolah-olah tak ada apa-apa sebelumnya). Cahaya kemajuan peradaban yang ilmu pengetahuan yang terpancancar dari Bukhara pun meredup.

Nasib tragis ini, 38 tahun kemudian dialami pula oleh Baghdad, ketika Hulagu Khan keturunan Jengiz Khan menghancurkan metropolis intelektual abad pertengahan itu dengan bengis dan sadis.

Ulama dan Ilmuwan Besar dari Bukhara

Masa kejayaan Bukhara sebagai pusat ilmu pengetahuan telah melahirkan sederet ulama dan ilmuwan besar dari Bukhara. Hal itu menunjukkan bahwa Bukhara memiliki pengaruh yang besar pada era keemasannya. Di antara tokoh-tokoh besar asal Bukhara itu memberi kontribusi yang besar bagi perkembangan agama Islam dan ilmu pengetahuan itu antara lain: Imam Bukhari

Imama Bukhari
Imam Bukhari terlahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H bertepatan dengan 21 Juli 810 M. Ia adalah ahli hadits termasyhur. Imam Bukhari dijuluki amirul mukminin fil hadits atau pemimpin kaum mukmin dalam hal ilmu hadits. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari.

Tak lama setelah lahir, Imam Bukhari kehilangan penglihatannya. Bersama gurunya Syekh Ishaq, ia menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dari satu juta hadits yang diriwayatkan 80 ribu perawi disaringnya menjadi 7.275 hadits. Ia menghabiskan waktunya untuk menyeleksi hadits shahih selama 16 tahun. Shahih Bukhari adalah salah satu karyanya.

Ibnu Sina
Terlahir di Afsyahnah, Bukhara pada 980 M. Ibnu Sina adalah seorang filsuf, lmuwan sekaligus dokter. Ia dijuluki sebagai ‘Bapak Pengobatan Modern’. Buah pikir dan karyanya dituangkan dalam 450 buku, sebagaian besar mengupas filsafat dan kedokteran. Ibnu Sina merupakan ilmuwan Islam paling terkenal. Hasil pemikiran yang paling termasyhur dari Ibnu Sina adalah The Canon of Medicine (Al-Qanun fi At Tibb).

Selain itu, era tamadun Bukhara juga telah melahirkan sosok ulama dan Ilmuwan sepertih Abu Hafsin Umar bin Mansur Al-Bukhari yang dikenali dengan nama Al-Bazzar, Al-Hafiz Abu Zakaria Abdul Rahim Ibnu Nasr Al-Bukhari, Abdul rahim bin Ahmad Al-Bukhari, dan Abu Al-Abbas Al-Maqdisi Al-Hambali.

Di bidang sastra, Bukhara juga telah menghasilkan sederet sastrawan dan penyair kondang. Para penyair dan sastrawan kelahiran Bukhara telah menisbahkan nama mereka kepada Bukhara. Para penyair dan sastrawan dari Bukhara itu antara lain;i Ar-Raudaky, Fadhil Al-Bukhari, Am’aq Al-Bukhari, Al-Khajandi, Lutfullah An-Naisaburi, serta Ahmad Al-Karamani.

Bukhara di Era Modern

Meski masa kejayaannya telah berlalu pada abad ke-13 M, Bukhara masih memegang peranan yang penting di abad ke-19 M. Menurut Demezon, pada tahun 1833, Bukhara tetap menjadi bagian yang penting dalam kehidupan keagamaan dan budaya di kawasan tersebut.

“Madrasah-madrasah di Bukhara masih terkenal hingga ke Turkistan. Pelajar-pelajar dari Khiva, Kokand, Gissar bahkan dari Samarkand dan kawasan Tatar berbondong-bondong belajar ke Bukhara. Ada sebanyak 60 madrasah di Bukhara yang sukses maupun kurang sukses,” papar Demezon menggambarkan situasi Bukhara di abad ke-19.

Memasuki era modern, Bukhara berada di bawah kekuasaan Rusia. Bukhara pun dijadikan semacam bidak catur dalam ‘permainan besar’ antara Rusia dengan Inggris. Kota itu benar-benar merdeka selama revolusi komunis. Namun, Bukhara akhirnya masuk dalam kekuasaan Uni Soviet.

Menyusul terbentuknya Uni Soviet, Tajiks yang merupakan bagian dari Uzbekistan menuntut kemerdekaan. Rusia yang mendukung Uzbekistan atas Tajiks membenyerahkan kota yang secara tradisional berbahasa dan berbudaya Iran, yakni Bukhara dan Samarkand kepada Uzbekistan.(heri ruslan; republika Kamis, 14 Februari 2008)

Seminar Menuju Kebangkitan Indonesia

seminar-nasional-riau-ok.jpg

Album Berkondom: Sebarkan Ajakan Perzinahan Buah Rusaknya Kapitalisme

Selasa, 06 Mei 2008

Monday, 21 April 2008 08:38
Oleh: Yusuf Ibnu Abdullah

Syabab.Com - Baru-baru ini, di negeri yang bermayoritas Muslim ini, seorang artis Julia Perez mengeluarkan sebuah album terbaru yang menyertakan kondom. Penyebaran kondom yang disisipkan dalam album ini apa pun alasannya telah mendukung program freesex dan perzinahan, satu kemaksiyatan yang akan mengundang murka Allah Swt. Sungguh pelik persoalan di negeri ini, dengan atas nama kebebasan berbagai perilaku rusak bak hewan disebarluaskan. Dengan berdalih mencegah HIV dan AIDS kondom pun disebarkanluaskan, padahal penggunaan kondom tiada lain mendorong perzinahan.

Bahaya Dibalik Album Berkondom

Di samping terdapat kepentingan para kapitalis, terutama produsen kondom, penyebaran kondom melalui album Jupe ini terdapat bahaya yang sangat besar. Terutama penyebaran dan ajakan untuk melakukan perzinahan. Ini merupakan bahaya besar yang tidak bisa dibiarkan.

Para LSM yang mereka mengatasnamakan upaya penanggulangan HIV dan AIDS menganggap penggunaan kondom sebagai solusi untuk seks yang sehat dan aman. Demikianlah pemikiran rusak para sekularis, yang telah memisahkan agama dari aturan hidup. Tak pernah disinggung bahwa menyebarnya HIV dan AIDS itu karena menyebarnya hubungan seks bebas yang tiada lain perbuatan zina. Mereka juga tidak pernah takut dengan murka dari Sang Pencipta Manusia. Padahal jangankan berzina, mendekati zina pun merupakan perbuatan keji.

Tidakkah kita berpikir kerusakkan di negeri ini yang kian hari semakin parah. Generasi muda dan keluarga muslim dengan gencar diserang dengan kebudayaan rusak ala hewani. Merebaknya perzinahan dan seks bebas telah mengakibatkan rusaknya tatanan sosial dan menggiring manusia pada perbuatan bak hewan yang tak punya aturan dan akal. Sungguh telah rendah derajat mereka yang berperilaku rendah tersebut.

"Saya tidak meragukan niat baik Julia Perez, dalam menanggulangi HIV dan AIDS. Tetapi caranya itu. Ada kekhawatiran, bagaimana kalau dibeli anak-anak", Ibu Mutia Hatta.

Apa sesungguhnya niat baik dalam penyebaran kondom melalui album ini, ketika itu sama saja menyebarkan ajakan untuk berzina. Apakah ini yang dimaksud dengan niat baik Jupe? Apakah ketika ada koordinasi dengan para pegiat Penanggulangan HIV dan AIDS maka itu menjadi boleh? Tentu tidak. Tidakkah itu semua merupakan upaya perusakkan terhadap generasi yang mayoriatas muslim di negeri ini untuk melakukan perzinahan? Tidakkah mereka takut akan murka dan siksaan Allah yang akan mereka hadapi ketika menyebarkan perzinahan? Tidakkah mereka takut akan kematian yang siap menjemput pada setiap saat dan berhadapan dengan Sang Penguasa Alam?

Berantas Semua Perilaku Rusak Buah Dari Kapitalisme

Negeri ini diserang secara bertubi-tubi oleh perilaku rusak yang akan menghancurkan generasi dan keluarga. Sebelumnya, penyebaran adegan mesum yang mudah ditemukan baik melalui media maya maupun media elektronik seperti DVD belum juga ada penuntasan yang ril. Juga penyebaran gambar seronok melalui alat penyala api telah merusak pemikiran anak-anak kita. Belum lagi adegan-adengan rusak atas nama goyangan-goyangan yang pamer aurat. Sedangkan melalui media televisi iklan-iklan serta acara seronok yang mengumbar aurat dianggap biasa. Padahal itu semua telah menggiring perliku manusia seperti hewan.

Merebaknya perilaku yang rusak bak hewani ini tentu tak terlepas dari serangan Barat terhadap negeri yang bermayoritas muslim terbesar di dunia ini. Pola pikir sekularisme yang ditancapkan pada benak ummat baik melalui media elektronik atau pun melalui media lainnya telah menggiring generasi kita untuk berperilaku bebas tanpa batas. Para agen-agen kejahatan itu tak segan-segan melakukan apa pun yang penting menguntungkan perut mereka. Bagi Barat yang menginginkan generasi Muslim rusak tentu sangat diuntungkan dengan keberadaan agen-agen mereka yang mengatasnamakan perindustrian, pelaku bisnis, artis atau selebritis serta juga para aktivis LSM.

Pada sistem sekular kapitalisme ini posisi para wanita pun telah dieksploitasi demi memuaskan hasrat keinginan pria. Harga diri mereka benar-benar murah bahkan sudah tak berharga lagi. Mereka bak barang dagangan yang dapat dijual dengan harga murah kepada siapa pun yang menginginkannya. Sungguh membawa derajat para wanita itu seperti posisi di jaman jahiliyyah. Karena uang, rupa yang cantik pemberian Sang Pencipta diiklankan bersama barang demi keuntungan para kapitalis.
Demikianlah rusaknya sistem kapitalisme yang telah mencengkram negeri ini. Bila hal ini dibiarkan begitu saja, maka tinggal menunggu masa kehancuran negeri ini menuju titik yang paling parah.

Tak aneh pula pada sistem kehidupan yang rusak ini kita temukan betapa banyak para wanita yang mengandung sebelum adanya ikatan nikah, perceraian keluarga, dan murahnya harga diri mereka. Demikian juga kejahatan merajalela, pembunuhan setiap saat, pencurian, dan berbagai kemungkaran lainnya merupakan buah dari sistem kapitalisme. Sistem barat ini berpijak pada asas sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan. Kebebasan berperilaku, berekspresi, berbicara dan beragama yang kerap menjadi dalih bagi para pelaku kerusakkan itu tiada lain buah dari sekularisme ini. Termasuk di dalamnya penyebaran kondom yang tiada lain ajakan berzina atas nama kapitalisme dan LSM pencegah HIV dan AIDS, buah rusaknya sistem kapitalisme.

Negara Berperan Penting Hentikan Berbagai Kemungkaran

Kaum Muslim yang takut hanya kepada Dia, Pencipta Alam Raya ini maka tidak bisa kita membiarkan perilaku rusak ini meluas. Bahkan perilaku yang rusak ini harus dihentikan dan dimusnahkan. Berbagai prahara yang menimpa kehidupan ini tidak terlepas dari congkahnya manusia kepada aturan Allah Swt. Bukankah Allah Swt. Tuhan Pencipta Dunia ini telah memperingatkan kita melalui firman-Nya:

"Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (TQS. Thaa Haa 20:124)

Sungguh Rasulullah telah menggambarkan masyarakat dalam Islam seperti para penumpang kapal yang sedang berlayar. Ketika di bagian bawah ingin mendapatkan air agar tidak mengganggu bagian atas lalu melubangi bagian bawah kapal. Maka bila para penumpang kapal itu membiarkan upaya melubangi kapal dengan harapan untuk mendapatkan air, pastilah semua awak kapal akan tenggelam. Demikian pula, dalam masyarakat Islam, penyebaran kemaksiyatan itu ibarat upaya seorang penumpang kapal yang melubangi kapal. Apabila penyebaran kemaksiyatan itu dibiarkan maka kerusakkan akan menimpa semua orang. Hal ini takkan terwujud tanpa adanya tiga pilar penting dalam mewujudkan masyarakat Islam.

Pertama, ketaqwaan individu. Pilar ini akan memunculkan rasa takut kepada Allah. Maka ketakwaan ini akan menghentikan perlikau-perilaku yang rusak tersebut. Pembinaan terhadap umat sangat penting untuk membangun ketakwaan individu ini. Namun apa yang dapat kita harapkan pada sistem kapitalisme ini ketika ajaran-ajaran Islam dikebiri, bahkan pendidikan agama hanya dua jam seminggu diberikan kepada generasi muda muslim. Mana cukup membentuk pribadi yang bertakwa. Sedangkan gempuran yang merusak akidah dan perilaku mereka hampir setiap saat mereka temukan baik di dunia nyata maupun media massa,

Kedua, kontrol sosial. Dalam Islam setiap muslim diwajibkan untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Amar ma'ruf atau perintah kepada kebaikan dilakukan berarti ada kebaikan yang ditinggalkan oleh masyarakat. Kebaikan itu tiada lain adalah Islam sendiri. Maka itu, ketika kebaikan-kebaikan
ditinggalkan perlu diperintahkan untuk dilaksanakan. Sedangkan nahi munkar berarti ada kemungkaran yang berlangsung di masyarakat. Maka seorang individu ketika melihat kemungkaran ini wajib untuk mencegahnya.

Ketiga
, peran negara. Sebagai institusi yang mampu menerapkan dan menjaga aturan sangat penting untuk menerapkan aturan Islam dalam kehidupan. Ketika negara tidak mau menerapkan dan menjaga aturan-aturan Islam maka hilanglah peran negara sebagai pengatur urusan umat dengan Islam ini. Tak aneh pada sistem kapitalisme, ketika para polisi dan beberapa pihak menginginkan perilaku kemaksiyatan tak merajalela tetapi tak ada penegakkah hukum yang bertindak tegas maka harapan itu menjadi kosong belaka. Padahal para pelaku negara ini ketika masanya tiba, yakni ketika mereka bertemu dengan Pencipta dirinya, dia akan dimintai pertanggungjawab atas amanah yang diberikan untuk menerapkan aturan Islam dan menjaga akidah umat ini. Entah apa yang akan mereka jawab ketika masa itu ada di hadapannya?

Beda halnya dalam sistem Islam maka Khilafah Islamiyyah akan menerapkan dan menjaga secara tegas pelaksanaan aturan yang memancarkan kebaikan itu, yakni Islam. Bahkan bukan hanya itu, negara pun dalam Islam akan mengemban Islam ke seluruh alam raya ini sehingga tatanan kehidupan masyarakat dunia benar-benar merasakan rahmatal lil 'alamin. Kontrol sosial pun akan ditegakkan yang dibangun atas dasar ketakwaan individu. Pembentukan pribadi bertakwa tentu merupakan hal yang pasti dalam sistem Islam. Inilah indahnya Islam. Lalu tunggu apa lagi kita berpangku pada sistem kapitalisme yang melahirkan perilaku yang rusak. Tidak ada waktu lagi bagi kita, kecuali hanya kembali kepada Islam, aturan yang turun dari Dia, Pencipta Alam Raya ini. Khilafah Islamiyyah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj kenabian akan segera menyelesaikan persoalan rusaknya kehidupan sosial ini menuku kehidupan yang membahagiakan di bawah keridhoan Dia, Pencipta Dunia ini, Allah Swt. Insya Allah. [opini/syabab.com]

Khurafat dalam Obor Olimpiade

Syabab.Com - Sungguh pelik persoalan yang menimpa umat ini. Menjelang olimpiade di China tahun ini, api olimpiade sudah mulai dilarikan ke negeri-negeri yang ikut serta dalam acara dunia ini. Hanya sayang sekali, tak ada sedikitpun para pejabat dan ulama muslim yang menghukumi atas aktitas ini. Padahal dibalik tradisi api olimpiade ini terdapat kemusyrikan yang membahayakan akidah umat. Bila ada ada ritual yang bukan dari Islam seringkali dinyatakan bid'ah seperti tahlilan, tetapi dalam kasus ini tak ada satu pun yang menyatakan bahwa tradisi api olimpiade itu adalah bid'ah.

Api olimpiade, obor olimpiade, dan cahaya olimpiade semuanya merupakan nama-nama bagi satu lambang promosi olimpiade. Asal-usulnya berasal dari Yunani Kuno di mana sebuah api dibiarkan menyala sepanjang sambutan olimpiade kuno, serta memperingati dicurinya api ini dari dewa Zeus oleh Prometheus. Api ini diperkenalkan pada awalnya pada olimpiade 1928 di Amsterdam, dan sejak itu menjadi ritual tetap pada setiap penyelenggaraan olimpiade. Larian obor dari Yunani ke tempat penyelenggaraan olimpiade modern tidak ada dalam olimpiade kuno, sebaliknya hal itu diperkenalkan oleh Carl Diem, dengan dukungan Joseph Goebbels pada Olimpiade Berlin 1936 yang sempat diselubungi kontroversi dianggap sebagai cara menanamkan pemahaman Nazi.

Bagi masyarakat Yunani kuno, api membawa arti religius. Api suci ini dikisahkan pernah dicuri dari dewa-dewi oleh Prometheus. Maka, api dapat dijumpai di berbagai tempat di Olympia, Yunani. Sebuah api yang menyala secara berpanjangan disimpan di atas Hestia di Olympia. Ketika berlangsungnya Olimpiade yang memberi penghormatan kepada Zeus, api tambahan di kuilnya dan juga kuil ratunya Hera. Api Olimpiade modern dinyalakan di tempat-tempat di mana pernah didirikan kuil Hera.

Setelah kita melihat dengan jelas bahwa larian obor dan nyalaan obor ini ternyata berasal dari akidah khurafat masyarakat Roma dan juga merupakan peradaban (hadharah) kufur. Sedangkan Rasulullah melarang umat Islam mengikuti jejak langkah dan apa yang dilakukan oleh orang kafir, maka apakah layak umat Islam merayakan khurafat dan tahayul olimpiade ini? Dari Umar Radiyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia telah menjadi golongan mereka". (HR. Ahmad, Abu Daud, Thabrani)

Apakah negeri-negeri kaum Muslim dan para penguasanya berbangga dengan menjalankan aktivitas yang dilakukan oleh penyembah api dan pemuja api ini? Tidakkah mereka merasa bahwa aktivitas itu sama halnya dengan kaum Majusi yang menyembah dan mendewa-dewakan api? Adakah pemerintah perlu berbangga karena tidak ada kekacauan dalam majelis yang berasal dari majelis keagamaan bangsa Roma? Apa pun alasan yang diberikan, siapa saja yang terlibat dengan aktivitas khurafat ini pastinya akan ditanya oleh Allah Swt di akhirat kela tentang apa yang mereka lakukan. Tidakkah ada mufti atau ulama yang ingin memberikan fatwa menolak kepercayaan dan amalah jahiliyyah ini?

Beginilah keadaan umat tatkala tak ada institusi penjaga akidah umat. Umat dengan mudah dilenakan dan dirusak akidah mereka dan dibiasakan dengan tradisi-tradisi ritual yang bukan berasal dari Islam. Belum lagi penyelenggaraan olimpiade yang hanya menguatkan ikatan rusak nasionalisme, hanya memperkuat kebanggan atas bangsa-bangsanya masing-masing. Padahal dengan paham nasionalisme inilah, Khilafah Islamiyah menjadi bubar. Racun ini telah dihembuskan atas kaum Muslim hingga saat ini. Ikatan ini dijaga dan dibangun terutama pada penyelenggaraan olahraga yang terorganisir menyebabkan umat senang dalam keterpecahbelahan. Sampai kapan tradisi rusak ini berhenti? Khilafah Islamiyyah kali kedua akan segera menghentikannya! [z/myk/syabab.com]

Krisis Pangan, Mengapa Terjadi?

Jumat, 02 Mei 2008

(S Anwar Iman, Direktur Agriculture Policy Watch – Ketua DPP HTI)

Isu tentang krisis pangan dunia akhir-akhir ini telah mencemaskan banyak pihak, termasuk lembaga-lembaga dunia seperti FAO, IMF, dan Bank Dunia. Di beberapa negara, kondisi ini bahkan telah munculkan krisis sosial. Di Haiti, misalnya, diberitakan lima orang setidaknya telah tewas dalam aksi unjuk rasa memprotes kenaikan harga makanan dan bahan bakar yang berujung dengan bentrokan. Fenomena ini, tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pula di negara-negara lain, khususnya negara berkembang, seperti Ethiopia, Mesir, Kamerun, Pantai Gading, Mauritania, Madagaskar, Filipinan, dan Indonesia.

Kenaikan harga pangan memang terjadi sangat mencolok. Menurut sebuah sumber, Bloomberg Markets Magazine, harga Gandum naik sebesar 130%, Kedelai 87%, Beras 74%, dan Jagung 31%. Sementara itu menurut kepala Bank Dunia, Robert Zoellick, kenaikan pangan secara keseluruhan mencapai 83 persen dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan sebesar itu jelas tidak terjangkau oleh mayoritas masyarakat di negara berkembang, di mana 60% lebih pendapatan mereka habis untuk membeli kebutuhan makanan. Memang, bagi masyarakat di negara maju, kenaikan tersebut mungkin masih bisa dijangkau. Sebab, pada umumnya alokasi pendapatan mereka untuk kebutuhan makanan hanya sekitar 10-20% saja. Dengan kata lain, ada pilihan bagi mereka untuk mengurangi konsumsi non-makanan kemudian dialihkan untuk konsumsi makanan.

Menurut Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Dr. Jacques Diouf, ada lima faktor utama yang menyebabkan harga pangan melambung saat ini. Kelima faktor tersebut adalah, pertama, meningkatnya kebutuhan bahan pangan di negara-negara yang sedang tumbuh ekonominya seperti Cina dan India, baik dari segi kualitas maupun kuantitas; kedua, semakin meningkatnya kesejahteraan penduduk di negara-negara yang ekonominya sedang tumbuh. Peningkatan tersebut menyebabkan konsumsi produk daging dan susu meningkat, termasuk kebutuhan akan sereal; ketiga, rendahnya stok pangan dunia yang diperkirakan akan turun menjadi 405 juta ton pada akhir 2008; keempat, adanya bencana alam seperti banjir, kekeringan, dan badai yang terkait dengan adanya perubahan iklim global; dan kelima, adanya kebutuhan sereal untuk bioenergi, di mana pada 2007, menurut FAO, sekitar 86 juta ton jagung untuk pangan sudah digunakan untuk menghasilkan energi.

Jika krisis pangan diartikan sebagai kondisi di mana terdapat sejumlah populasi manusia yang tidak mampu memenuhi kebutuhan makannya, sehingga terjadi bencana kelaparan dan krisis sosial; maka ada dua kemungkinan hal itu bisa terjadi. Kemungkinan pertama, jumlah pangan tidak mencukupi kebutuhan seluruh populasi manusia, sehingga ada sebagian orang yang terpaksa tidak mendapatkan bagian makanan. Kemungkinan kedua, jumlah bahan pangan sebenarnya cukup, akan tetapi harganya terlalu tinggi. Akibatnya, ada sebagian orang yang tidak mampu membeli, sehingga tidak mendapatkan makanan.

Kemungkinan pertama bahwa krisis disebabkan oleh ketidakcukupan bahan pangan sangat diragukan. Sebab, jumlah pangan dunia sebenarnya cukup untuk mememenuhi kebutuhan seluruh populasi penduduk. Sebagai contoh, pada bulan Mei 1990, FAO (Food and Agricultural Organization) telah mengumumkan hasil studinya, bahwa produksi pangan dunia ternyata mengalami surplus 10% untuk dapat mencukupi seluruh populasi penduduk dunia. Namun, dalam kondisi seperti itu tetap saja ada sejumlah populasi manusia di dunia yang tidak terpenuhi kebutuhan pangannya hingga terjadi kelaparan, seperti yang terjadi di Ethiopia, misalnya. Bukti lain juga dapat dilihat dalam konteks Indonesia. Saat ini jumlah produksi beras nasional sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan; hal ini ditegaskan oleh menteri Pertanian dalam sebuah dialog di salah satu stasiun TV. Dalam kondisi seperti ini, ternyata tidak berarti di Indonesia tidak ada lagi krisis pangan, sebab faktanya masih banyak dijumpai kasus kelaparan dan gizi buruk di beberapa daerah.

Jika Direktur Jenderal FAO, Dr. Jacques Diouf, mengatakan ada lima faktor penyebab kenaikan harga bahan pangan, maka sejatinya kelima faktor tersebut juga tidak sampai menurunkan jumlah produksi bahan pangan. Sebab, data-data yang ada justru menunjukkan adanya kenaikan jumlah produksi bahan pangan. Produksi gandum dunia, misalnya, yang harganya naik pada awal 2008 ini, ternyata mengalami peningkatan yang lebih besar lagi yaitu hingga 9,34 juta ton antara tahun 2006 dan 2007. Sementara produksi gula dunia juga meningkat sebesar 4,44 juta ton sepanjang tahun 2007 lalu. Suatu angka yang cukup mencengangkan ditunjukkan dalam produksi jagung dunia pada tahun 2007 lalu yang mencapai rekor produksi 781 juta ton atau meningkat 89,35 juta ton. Hanya kedelai yang mengalami penurunan produksi sebesar 17 persen, itu pun karena ada penyusutan lahan di Amerika Serikat sebesar 15 persen untuk proyek biofuel.

Sejak akhir Perang Dunia ke-2, jumlah penduduk dunia telah meningkat dua kali lipat, namun di sisi lain, jumlah produksi pangan dunia meningkat tiga kali lipat. Semua ini membuktikan bahwa krisis pangan bukan disebabkan oleh kurangnya ketersediaan pangan, namun lebih disebabkan oleh kemungkinan kedua, yaitu tingginya harga pangan, yang mengakibatkan sebagaian orang tidak mampu untuk membelinya.

Sebenarnya, seberapa pun tingginya harga bahan pangan, tidak akan menjadi masalah, atau dengan kata lain tidak akan menyebabkan krisis, selama semua lapisan masyarakat mampu membelinya. Namun dalam faktanya, senantiasa ada di tengah masyarakat orang-orang yang mampu dan yang tidak mampu. Masalahnya kemudian muncul ketika masyarakat yang tidak mampu tetap “dipaksa” untuk mendapatkan bahan makanan dengan cara membeli barang yang tidak terjangkau harganya. Sehingga dengan mekanisme ini, seseorang seolah tidak berhak makan jika dia tidak mampu menjangkau harga bahan pangan tersebut.

Inilah yang terjadi dalam sistem kapitalis, di mana harga dijadikan sebagai pengendali tunggal distribusi barang di tengah masyarakat. Harga lah yang akan menentukan siapa-siapa yang berhak mendapatkan barang dengan kualitas dan kuantitas tertentu, dan siapa yang tidak berhak mendapatkannya sama sekali. Orang yang mampu membeli barang dengan harga tinggi, dia akan mendapatkan barang dengan kualitas dan kuantitas yang diinginkannya. Sementara itu, orang yang tidak mampu sama sekali menjangkau harga barang tersebut, dia tidak berhak mendapatkanya, meskipun barang itu merupakan kebutuhan pokok baginya. Dalam kondisi yang kedua inilah krisis akan muncul. Dengan demikian, menjadikan harga sebagai usur pengendali tunggal distribusi, telah mengakibatkan buruknya distribusi barang di tengah masyarakat, yang berpotensi memunculkan terjadinya krisis sosial.

Jadi, krisis pangan saat ini secara fundamental tidak disebabkan oleh kenaikan harga bahan pangan yang dipengaruhi oleh lima faktor di atas, akan tetapi lebih disebabkan oleh distribusi yang buruk dari sistem kapitalis. Distribusi yang buruk itulah yang menjadikan sebagian masyarakat tidak mampu, tidak mendapatkan hak untuk makan. Karena itu wajar jika fenomena krisis pangan ini tidak hanya terjadi di negara yang mengalami kelangkaan bahan pangan saja, akan tetapi juga terjadi di negara yang bahan pangannya cukup. Di Indonesia, misalnya, pemerintah sudah berencana untuk mengeksport beras, jika stok beras mencapai 3 juta ton. Apakah ini berarti sudah tidak ada lagi rakyat Indonesia yang kelaparan? Fakta menunjukkan bahwa di berbagai daerah di Indonesia masih banyak dijumpai masyarakat yang tidak makan, meskipun hanya satu kali sehari, bahkan ada yang hingga mati kelaparan. Tampak di sini bahwa pemerintah lebih memilih mengeksport beras ke luar negeri karena harganya yang tinggi, daripada menjual beras murah atau membagikan secara gratis kepada rakyatnya sendiri. Ini lagi-lagi membuktikan betapa buruknya sistem kapitalis, di mana harga dijadikan sebagai unsur tunggal pengendali distribusi barang di tengah masyarakat.

Semestinya, harga tidak dijadikan sebagai pengendali distribusi barang, apalagi barang kebutuhan pokok seperti bahan pangan. Sebab, barang kebutuhan pokok merupakan barang keperluan mendasar yang diperlukan oleh masyarakat individu per individu. Dengan kata lain, pemenuhan kebutuhan pokok bagi seseorang tidak bisa diwakili oleh orang lain. Jika harga dijadikan sebagai pengendali distribusi, niscaya akan senantiasa ada orang-orang yang tidak mendapatkan akses untuk memenuhi bebutuhan pokoknya. Hal ini sangat berbahaya dan merupakan kedzaliman. Karena itu lah, dalam hal kebutuhan pokok, Islam mewajibkan negara untuk memberikan jaminan pemenuhan atas rakyatnya. Caranya, rakyat didorong untuk bekerja dan diberi kesematan untuk bekerja dengan membuka lapangan pekerjaan. Jika dengan cara ini masih dijumpai orang-orang yang tidak mampu, misalnya karena cacat atau lanjut usia, dan tidak ada anggota keluarga yang sanggup menopang kebutuhannya, maka negara wajib turun tangan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Sering muncul pertanyaan, dari mana pemerintah memperoleh dana untuk melakukan hal itu? Sebenarnya pemerintah Indonesia memiliki dana untuk melakukannya, jika saja kebijakannya didasarkan pada sistem syariah. Salah satu alternatif, misanya, pemerintah bisa mengalokasikan dana membayaran bunga utang yang nilainya lebih dari Rp. 85 Trilyun (APBN 2007). Dana itu lebih dari cukup untuk membantu rakyat yang kelaparan. Jika diasumsikan rakyat yang terancam kelaparan adalah yang pendapatannya di bawah UDS 2/hari/orang, maka jumlahnya sebesar 126 juta jiwa. Dengan kebutuhan beras standart 133kg/orang/tahun, dibutuhkan sebanyak 16,76 juta ton beras. Jika harga beras Rp. 4500,-/kg, maka dibutuhkan dana sekitar Rp. 75,4 Trilyun. Jadi, sangat ironis jika pemerintah justru mementingkan bayar bunga utang yang notabene hukumnya haram, daripada membantu rakyat miskin yang hukumnya wajib.

Islam telah memberikan contoh, bagaimana kesigapan negara dalam membantu rakyat yang kelaparan. Khalifah Umar bin Khaththab, di suatu malam, pernah melakukan inspeksi ke perkampungan penduduk. Tanpa sengaja beliau mendengar rintihan anak menangis dari arah sebuah rumah. Beliau pun menghampiri rumah tersebut dan memperhatikannya dari luar. Ternyata anak itu menangis karena lapar, sebab orang tuanya tidak lagi memiliki bahan makanan. Sang Ibu sudah mencoba menghibur anaknya, dengan seolah-olah sedang menanak makanan, padahal yang dimasak adalah batu. Si Ibu berharap anaknya tertidur sambil menunggu makanan yang sedang dimasak. Setelah mengetahui kondisi yang terjadi, sang Khalifah pun bergegas megambil sekarung bahan makanan dari Baitul Mal, lalu dipikulnya sendiri untuk diberikan pada keluarga yang sedang menghadapi kelaparan tersebut. Inilah wujud tanggung jawab negara dalam menjamin kebutuhan pokok rakyatnya.

Dalam konteks hubungan internasional, Islam juga menetapkan adanya kewajiban syar’i bagi Negara Khilafah untuk membatu negara lain yang membutuhkan bantuan pangan. Hal ini seperti apa yang pernah dilakukan oleh Khalifah Abdul Majid saat memimpin Kekhilafahan Turki Ustmani. Pada tahun 1845, terjadi kelaparan besar yang melanda Irlandia yang mengakibatkan lebih dari 1,000,000 orang meninggal. Untuk membantu mereka, Sultan Abdul Majid berencana mengirimkan uang sebesar 10,000 sterling kepada para petani Irlandia. Akan tetapi, Ratu Victoria meminta Sultan untuk mengirim 1,000 sterling saja, sebab dia sendiri hanya mengirim 2,000 sterling. Maka, Sultan pun mengirim 1,000 sterling. Namun, secara diam-diam beliau juga mengirim 3 kapal penuh makanan. Pengadilan Inggris berusaha untuk memblokir kapal itu, tapi meski demikian makanan tersebut sampai juga ke pelabuhan Drogheda dan ditinggalkan di sana oleh para pelaut Ustmani. Dengan peristiwa ini rakyat Irlandia, khususnya mereka yang tinggal di Drogheda, menjadi bersahabat dengan orang Turki. Peristiwa ini juga menyebabkan munculnya simbol-simbol Usmani di kota tersebut.

Tindakan seperti ini, praktis tidak pernah dilakukan oleh negara-negara kapitalis Barat terhadap negeri-negeri yang saat ini ditimpa krisis pangan seperti Eithopia, dll. Sebab, dalam prisip kapitalis “tidak ada makan siang gratis”, artinya tidak ada bantuan yang diberikan secara cuma-cuma, kecuali harus ada kompensasi tertentu. Maka, wajar jika kemudian terjadi kesenjangan yang lebar di dunia ini; di satu sisi ada negara-negara yang jumlah bahan pangannya melimpah dan di sisi lain ada negara yang rakyatnya kelaparan karena mengalami krisis pangan.

Jadi jelas, krisis pangan yang terjadi saat ini bukan karena jumlah pangan tidak mencukupi kebutuhan manusia, melainkan karena sistem distribusi yang buruk, akibat penerapan sistem ekonomi kapitalis. Seberapa pun produksi pangan bisa ditingkatkan, jika sistem distribusinya buruk, tetap saja akan terjadi krisis pangan. Dalam diskusi FKSK yang mengangkat tema “Awas Bahaya Krisis Pangan Global dan Nasional” baru-baru ini, terungkap betapa besarnya potensi pertanian di Indonesia. Hanya saja, jika semua itu tidak dikelola dengan sistem yang baik, yaitu sistem syariah, tetap saja tidak akan mensejahterakan rakyat. Islam telah memberikan solusi dengan sistem syariahnya, yang dapat mengatasi masalah krisis pangan sekaligus dapat memacu peningkatan produksi pertanian untuk mencapai kemandirian dan ketahanan pangan. []


hizbut-tahrir.or.id


 

© Copyright AL-FATIH ZONE 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.