Blogger Themes

News Update :

Menolong Palestina

Selasa, 25 Maret 2008

بسم الله الرحمن الرحيم

SATU KATA!
MENOLONG PALESTINA ADALAH DENGAN MEMBUKA FRONT DAN MEMOBILISASI PASUKAN
DAN JIKA TIDAK MAKA ITU MERUPAKAN PENGKHIANATAN KEPADA ALLAH, RASULULLAH, DAN KAUM MUKMIN

Lava kebuasan Yahudi mengaliri Ghaza. Lalu lava itu menghanguskan manusia, tumbuh-tumbuhan, dan bebatuan. Darah pun mengalir dari tubuh orang tua, wanita dan anak-anak. Hingga tubuh bayi-bayi berjatuhan dan terpotong-potong… Pembantaian sangat keji tengah dilakukan oleh Yahudi. Tak ada kata yang bisa menggambarkan penjagalan yang dilakukan Yahudi itu… Namun meski semua itu terjadi, para penguasa sama sekali tidak bergeming. Mereka tidak membuka front dan tidak mengirimkan pasukan. Bahkan mereka tidak mengeluarkan sepatah pun ancaman, walau sekadar ancaman perang sekalipun!

Sesungguhnya para penguasa itu menghitung jumlah orang-orang yang mati syahid dan terluka, seakan-akan mereka menikmati apa yang mereka saksikan! Paling banter ada di antara para penguasa itu yang sekadar mengijinkan masyarakat meluapkan kemarahan mereka dengan long march atau demonstrasi. Atau ada penguasa yang sekadar memprotes, mengutuk, dan menuntut diselenggarakan pertemuan Dewan Keamanan untuk mengeluarkan resolusi atau penjelasan. Padahal ia sangat paham bahwa resolusi atau penjelasan itu tidak akan keluar kecuali terlebih dahulu dilontarkan kecaman terhadap orang yang membela diri melawan kejahatan-kejahatan Yahudi!

Apakah ada pembelaan kepada orang-orang yang terbunuh di Palestina yang tubuh mereka tercabik-cabik? Apakah pembelaan itu cukup dengan jalan memprotes, mengutuk atau menuntut penjelasan, ataupun hingga memberi ijin dilakukannya berbagai long march dan demonstrasi?! Sesungguhnya pembelaan yang benar adalah dengan membuka front, dan memobilisasi pasukan. Jika tidak, lalu apa gunanya pasukan itu ada? Apakah pasukan itu untuk melindungi mahkota dan kursi kekuasaan orang-orang yang berkhianat kepada Allah, Rasulullah, dan menghina-dinakan kaum Mukmin? Ataukah untuk melindungi orang-orang yang hanya menonton bercucurannya darah-darah suci yang juga berasal dari susuan yang suci, itu ditumpahkan? Seakan-akan apa yang berlangsung itu terjadi di ujung dunia, yang sedikit pun tidak diberi perhatian oleh para penguasa itu. Mereka itu tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak mengerti?!

Namun yang lebih menyedihkan dan lebih pahit lagi adalah bahwa para pasukan ini (pasukan kaum Muslim) hanya berleha-leha di baraknya. Bagaimana mungkin darah di urat nadi mereka tidak mendidih, padahal mereka betul-betul menyaksikan pembantaian yang membuat tubuh merinding, sedangkan pada saat yang sama dia melihat orang-orang heroic dan agung, yang dengan senjata seadanya, menghadapi musuh dengan persenjataan berat dan mengenakan pakaian permusuhan? Bagaimana bisa terjadi, pasukan itu melihat semua hal ini, namun tidak tergerak untuk membela kaumnya dan menggilas setiap penguasa yang menghalangi jalannya?! Belum cukupkah pembantaian yang terjadi ini membuat pasukan tersebut bergegas memberikan pertolongan atau meraih syahid, sehingga dituliskan lembaran-lembaran putih bersih yang menjulangkan kedudukan mereka di dalam agama dan di dunia?!

]عَدِمْنَا خَيْلَنَاإِنْ لَمْ نَجِدْهَا تُثِيْرُ النَقْعَ مَوْعِدَهَا كَدَاءُ[

Tiada guna kuda-kuda kita jika kita tidak mendapati kukunya mengepulkan debu pada waktunya

Tiada guna pasukan kita jika tidak membela Allah, Rasulullah, dan kaum Mukmin.

Tiada guna pesawat-pesawat kita jika tidak melumatkan pembunuh para Nabi dan kaum Mukmin.

Tiada guna tank-tank kita jika tidak melontarkan peluru-pelurunya membela darah orang-orang yang lemah.

Tiada guna rudal-rudal kita jika tidak bisa membungkam teriakan negara Yahudi yang tidak memelihara hubungan dengan kaum Mukmin dan tiada pula mengindahkan perjanjian.

Wahai pasukan di negeri-negeri kaum Muslim!

Para penguasa itu telah berputus asa dari akhirat sebagaimana kaum kafir telah berputus asa dari penghuni kubur. Akan tetapi Anda sekalian, bagaimana mungkin Anda sekalian tidak bisa membuka front dari Mesir, Yordania, Suria, dan Lebanon, padahal negara-negara itu mengitari negara Yahudi seperti rantai gelang yang melingkari pergelangan tangan?! Kemudian juga para tentara yang ada di Iran dan Pakistan, di mana mereka mempunyai rudal-rudal dengan daya jelajah jarak jauhnya, kenapa mereka tidak menggunakannya untuk membela penduduk Palestina?! Apakah (cukup) kemunafikan kata diikuti dengan kata lainnya tanpa pertempuran?! Apakah cukup hanya dengan statement tanpa memerlukan senjata?

Wahai kaum Muslim!

Sesungguhnya membela Palestina dan membebaskan penduduk Palestina dari ujian yang menimpa mereka tidak akan terwujud kecuali dengan membuka front dan memobilisasi pasukan… Bahkan hanya itulah satu-satunya yang akan dapat menghancurkan institusi Yahudi dan mengembalikan Palestina secara keseluruhan kepada kesatuan negeri-negeri Islam.

Para penguasa menginginkan Anda agar Anda sekalian melampiaskan kemarahan hanya dalam bentuk long march dan demonstrasi lalu masalahnya berhenti. Aktivitas long march dan demonstrasi, meski itu merupakan ekspresi yang jujur dari kemarahan Anda sekalian, akan tetapi yang pokok, Anda sekalian seharusnya mengarahkan kemarahan dengan benar dan efektif.

Sesungguhnya Hizbut Tahrir menyeru Anda untuk mengarahkan kemarahan Anda sekalian kepada para penguasa agar mereka mengerahkan pasukan ke medan pertempuran.

Jika mereka tidak melakukannya, maka arahkanlah kemarahan Anda sekalian langsung kepada pasukan agar termobilisasi untuk memerangi Yahudi dan menggilas para penguasa yang menjadi penghalang di jalannya.

Jika mereka juga tidak melakukannya, maka bulatkanlah tekad dan kesungguhan Anda sekalian untuk melakukan perubahan total dan mendirikan Khilafah yang adil dan penuh semangat juang (al khilâfah al ’âdilah al mujâhidah).

Jika Anda sekalian tidak melakukannya duhai sekalian manusia, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya :

﴿ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لاَ يَكُوْنُوْا أَمْثَالَكُمْ ﴾

Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). (TQS. Muhammad [47]: 38)

25 Shafar al-Khayr 1429 H
02 Maret 2008 M

Hizbut Tahrir


http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/03/24/menolong-palestina/

Aksi Militer Turki di Irak Utara

بسم الله الرحمن الرحيم

AKSI MILITER TURKI DI UTARA IRAK

Soal:
Media massa menyatakan, bahwa pemerintah Turki telah mendapat persetujuan Amerika Serikat, agressor Irak, termasuk Kurdistan Irak, yaitu persetujuan untuk melakukan aksi militer di utara Irak (Kurdistan Irak). Ini diperkuat oleh sumber-sumber resmi Turki dan AS. Meski keamanan wilayah Irak yang masih dalam pendudukan, termasuk Kurdistan, sebenarnya merupakan tanggung jawab AS, namun AS mengizinkan Turki melakukan aksi militer terhadap Kurdistan Irak!

Pertanyaannya, apakah ini berarti bahwa AS telah menjual Kurdistan Irak demi kepentingannya di Turki, yang nota bene lebih penting bagi Amerika daripada Kurdistan Irak?

Jawab:
Memang, Irak adalah daerah yang diduduki oleh AS. Memang benar, bahwa serangan dari pihak luar ke Irak, dalam beberapa hal tampaknya merupakan serangan terhadap AS. Konsekuensinya, wajar jika Amerika tidak akan mentolerir negara manapun melancarkan perang terhadap Irak selama Amerika masih mendudukinya.

Memang benar, bahwa Turki sangat penting bagi AS. Tetapi, Irak termasuk Kurdistan juga sangat penting bagi Amerika. Meski berbeda tingkat urgensitasnya. Tetapi, yang tidak benar adalah pernyataan, bahwa Amerika menjual Kurdistan Irak demi kepentingan Amerika di Turki. Karena kepentingan Amerika di Turki sebenarnya sudah dijamin oleh pemerintah Partai Keadilan. Begitu juga kepentingan Amerika di Irak dan Kurdistan juga sudah terjamin, karena pemerintah Irak adalah boneka Amerika.

Adapun toleransi yang diberikan Amerika kepada pemerintah Turki untuk melancarkan aksi militer di wilayah utara Irak, itu sebenarnya untuk mengokohkan kepentingan Amerika di kedua negeri tersebut, baik di Turki maupun Irak. Bukan bentuk penjualan salah satu untuk mendapatkan yang lain.

Lalu bagaimana itu bisa terjadi? Jawabannya sebagai berikut:

1- Sejak Amerika melepaskan diri dari komitmennya dengan Abdullah Ochalan, dan berhasil mendapatkan pemerintah Turki sesuai dengan kesepakatan terkenal yang dilakukan Amerika dengan Turki untuk membendung Rusia, kemudian setelah Partai Keadilan berhasil meraih tampuk pemerintahan di Turki, maka strategi Amerika, dan selanjutnya strategi Partai Keadilan adalah penanganan masalah Kurdi sebagai masalah politik.

Mulailah dilakukan berbagai pembahasan dan kunjungan para pejabat pemerintahan Turki ke daerah-daerah Kurdi Turki. Itu diikuti dengan pembicaraan kebudayaan seputar berbagai program dengan mengunakan bahasa Kurdi di media-media massa.

2- Sedangkan para pejabat tinggi militer yang loyal kepada Inggris, terus saja menangani masalah Kurdi sebagai masalah keamanan. Mereka mengeksploitasi masalah Kurdi di depan pemerintah Partai Keadilan. Itu mereka lakukan setiap kali mereka melihat bandul pemerintahan Erdogan bertambah berat dan berikutnya pengaruh Amerika di Turki juga semakin meningkat melebihi pengaruh kaum Sekuler Inggris yang ada di tubuh militer.

3- Sebelum pemerintah Partai Keadilan dan sebelum meningkatnya pengaruh Amerika di Turki, kaum Kemalis Inggris di tubuh militer melakukan kudeta terhadap pemerintah Turki manapun yang mereka pandang keluar dari garis Kemalis Inggris di Turki… Berbagai kudeta yang berulang kali dilakukan militer Turki pada paruh kedua abad yang lalu sudah dikenal luas dan sangat masyhur.

4- Meski pemerintah Partai Keadilan loyal kepada Amerika secara jelas dan terang, dan meski pemerintah Partai Keadilan berhasil memecah belah pengaruh Kemalis Inggris di tubuh militer melalui penyusunan perundang-undangan seperti yang dilakukan di Majelis Keamanan Nasional dan Mahkamah Agung, pemilihan presiden dan sebagainya… ; tetapi militer tidak bisa melakukan kudeta, dikarenakan suasana pemerintahan sipil (demokratis) yang ditopang oleh Amerika di Turki. Dalam kondisi seperti itu, teriakan pemerintah Partai Keadilan terus diekspos. Demikian pula langkah pemerintah yang mengarah ke Uni Eropa untuk mempermudah penggabungan Turki ke dalam Uni Eropa…, semuanya itu telah menjauhkan kemungkinan dilakukannya kudeta oleh militer. Jika tidak menghilangkan kemungkinan itu sama sekali, minimal sejauh yang bisa diprediksi kemungkinan itu tidak ada.

5- Karena itu, militer sengaja mengekploitasi keamanan militer dalam masalah Kurdi, khususnya sayap Partai Buruh Kurdistan yang memiliki basis di utara Irak. Sayap partai tersebut sengaja menggunakan aksi militer. Sayap ini tidak hanya menggunakan aktivitas politik untuk menyelesaikan masalah Kurdi di Turki, seperti yang dilakukan oleh partai lainnya. Sayap Partai Buruh Kurdistan yang ada di utara Irak memiliki hubungan dengan Barzani yang di belakangnya adalah Inggris. Dengan begitu dia bertemu dengan kaum Sekuler militer Inggris di Turki dari aspek mobilisasi keamanan militer untuk masalah Kurdi, meski tujuannya tentu berbeda. Pada saat sama, Jalal Talabani dan partainya, loyal kepada Amerika. Karena itu, sayap Partai Buruh Kurdistan ada di wilayah utara yang berbatasan dengan wilayah Barzani bukan di wilayah Talabani.

Dengan aksi militer tersebut, militer Turki ingin mengeluarkan pemerintah Partai Keadilan dengan Amerika Serikat yang menduduki Irak. Militer melakukan aksi militer terhadap Partai Buruh Kurdistan di Irak (Kurdistan). Aksi militer tersebut diharapkan akan mempengaruhi hubungan Amerika dengan Partai Keadilan. Setiap kali terjadi perluasan aksi militer, maka setiap kali pula hubungan Amerika Turki mengalami keretakan, yaitu memperlemah pemerintahan Partai Keadilan dan menjerumuskannya dalam dilema.

6- Atas dasar itulah, maka kaum sekuler Inggris dari para komandan militer mempersiapkan arena untuk itu. Mereka mengirimkan patroli infanteri atau dengan peralatan ringan tanpa perlindungan memadai (seperti yang terjadi pada akhir tahun lalu). Mereka mengirimkan patroli tersebut ke tapal batas yang panas, berdekatan dengan wilayah Partai Buruh Kurdistan di Irak… Aktivitas itu telah menyebabkan terbunuhnya dan ditawannya sejumlah anggota pasukan Turki… Setelah itu, mulailah suara-suara pers militer membesar-besarkan apa yang terjadi, bahwa seolah hal itu merupakan penghinaan kepada militer. Bahwa wajib dilakukan aksi militer yang luas di utara Irak untuk memukul basis-basis Partai Buruh… Indikasi yang dekat adalah pernyataan tuduhan kepada pemerintah Partai Keadilan, bahwa Partai Keadilan tidak menghargai darah tentara yang tewas dan tentara yang tertawan. Hal itu menciptakan opini umum untuk mendukung serangan ke benteng-benteng Partai Buruh di Irak. Kemudian itu juga merupakan kritik terhadap kegagalan pemerintah.

7- Pemerintah mulai berupaya menangguhkan masalah tersebut… Namun, karena suara-suara seputar pasukan yang tewas dan tertawan itu semakin nyaring, ditambah apa yang terjadi, baik yang direkayasa maupun benar-benar terjadi di beberapa daerah yang berbeda, yang menisbatkan pembunuhan tersebut kepada Partai Buruh…; semua itu menjadikan pemerintah harus bergerak. Pemerintah pun mengajukan undang-undang kepada parlemen dan disetujui. Undang-undang itu menyatakan persetujuan atas digelarnya aksi militer pada waktu yang tepat menurut pandangan pemerintah.

Ini merupakan persetujuan meski tidak bersifat tegas. Karena undang-undang tidak menetapkan waktu tertentu, tetapi menyerahkan pemilihan waktu itu kepada pandangan pemerintah kapan dipandang sebagai waktu yang tepat.

8- Kaum Sekuler Inggris di tubuh militer memandang, bahwa aksi milliter yang luas di Kurdistan Irak yang diduduki oleh Amerika, akan menyebabkan krisis panas bagi pemerintah Partai Keadilan dengan Amerika, jika pemerintah setuju terhadap intervensi militer ke Irak. Namun, jika pemerintah tidak setuju atas intervensi militer ke Irak supaya tidak berbenturan dengan Amerika, maka krisis panas akan terjadi pada pemerintah di hadapan opini umum Turki, karena terprovokasi dengan darah tentara! Dalam dua kondisi tersebut, para komandan militer yang loyal kepada Inggris dan mereka yang menilai diri mereka sebagai penjaga Kemalis Inggris memandang bahwa dalam dua kondisi seperti ini akan terjadi krisis panas bagi pemerintah Partai Keadilan.

9- Hanya saja, kunjungan terakhir Erdoghan ke Amerika dan diikuti dengan pertemuan politik di Ankara dan di markas militer Amerika di Baghdad, telah menciptakan kesepakatan bahwa Amerika mengizinkan pemerintah Turki melakukan aksi militer terbatas, baik waktu maupun tempatnya. Pemerintah memperlihatkan bahwa dia tidak rela. Pemerintah memperlihatkan tidak bisa menerima lenyapnya darah pasukan dengan sia-sia. Pada saat yang sama, pemeritah bertindak membatalkan secara final rencana para komandan militer yang loyal kepada Inggris.

10- Demikianlah, mulailah aksi dalam kondisi dukungan Amerika, Talabani dan Maliki. Hanya pemerintahan Barzani di Irak utara yang merasa jengkel. Dia mengkritik, bahwa Eropa seharusnya merasa malu.

11- Kemungkinan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:

Dari sisi militer: Militer akan berusaha memperluas arena pertempuran dengan kekuatan pemerintah Kurdistan (Barzani). Berikutnya masalahnya akan kembali lagi meruncing, dan memanaskan dilema pemerintah Turki dengan Amerika… Juga akan mengaktifkan intervensi Eropa dalam masalah yang ada… Itu akan menyebabkan terjadinya guncangan keras bagi pemerintahan Partai Keadilan.

Dari sisi lain: Amerika akan berusaha bersama pemerintah Partai Keadilan dan kubu-kubu pendukung di Irak, untuk membuat aksi militer tersebut bersifat terbatas, baik waktu maupun tempatnya… Maka pemerintah Partai Keadilan akan mengumumkan bahwa aksi militer telah mencapai targetnya dan akhirnya ditarik mundur. Dengan begitu pemerintah Partai Keadilan akan menambah point bagi kemenangannya…

12- Yang lebih kuat adalah faktor yang mengarah pada terbatasnya krisis dan tidak meluasnya aksi militer. Yang lebih kuat lagi adalah, bahwa faktor-faktor tersebut ternyata lebih kuat; yaitu Amerika, pemerintah Partai Keadilan, dan beberapa kubu pendukung di Irak. Kemudian masih ada faktor keempat yang penting. Yang saya maksud adalah kondisi yang menimpa, baik cuaca, seperti salju dan sejenisnya yang menghambat meluasnya krisis tersebut, ataupun kondisi geologi dan topografi yang berbukit yang bisa menjerumuskan militer Turki pada kekalahan.

Jelaslah, bahwa faktor-faktor tersebut lebih menentukan dalam membatasi aksi di tempat dan waktu tertentu.

Pemerintah Partai Keadilan bisa saja meraih point demi kemenangannya selama aksi tersebut, kecuali dalam dua kondisi:
Pertama, masalahnya semakin berlarut-larut dan peperangan semakin meluas, baik dalam skala waktu maupun wilayah.
Kedua, ada sejumlah besar anggota pasukan Turki yang tewas dalam aksi tersebut.

Dalam kedua kondisi itu akan terjadi krisis yang menjerumuskan pemerintah Partai Keadilan dalam dilema.

Atas dasar itulah, maka kami katakan, yang lebih kuat. Karena kemungkinan terjadinya dua kondisi tersebut tetap terbuka, meski lebih lemah.

Pendek kata, bahwa Amerika pada saat mengizinkan Turki melakukan aski militernya terhadap Partai Buruh di Kurdistan Irak, Amerika tidak akan kehilangan apa-apa dengan izin yang diberikannya. Amerika juga tidak akan kehilangan Kurdistan maupun Turki. Bahkan Amerika memberikan izin itu untuk menjaga kepentingannya di Turki. Juga untuk menjaga kepentingannya di Irak dan di Kurdistan Irak.

19 Shafar al-Khayr 1429 H
25 Februari 2008 M


http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/03/24/aksi-militer-turki-di-irak-utara/

“Ketertinggalan” Pendidikan Dunia Muslim

muslim-invention.jpg“Di masa (kehilafahan) Ma’mun fakultas kedokteran di Baghdad sangat aktif. Rumah sakit umum bebas-biaya dibuka di Baghdad semasa Khalifah Haroon ar Rasheed. Para dokter dan ahli bedah ditunjuk untuk memberi kuliah kepada mahasiswa kedokteran dan mengeluarkan ijazah bagi lulusannya “(Sir John Bagot Glubb)
Laporan yang menganalisa kondisi pendidikan di dunia muslim oleh Bank Dunia berakhir Februari lalu. Kesimpulan studi tersebut menyatakan bahwa pendidikan di Afrika Utara dan Timur Tengah tertinggal jauh dibawah daerah regional lainnya. Apabila hendak menjawab permasalahan pengangguran maka reformasi pendidakan sudah sangat diperlukan. Lebih jauh lagi laporan tersebut menyebut bahwa tingkat pengangguran di dunia Arab adalah 14%, angka yang cukup tinggi di dunia, kecuali sub sahara Africa, dengan angka tertinggi di daerah Palestina sebesar hampir 26%.

Pejabat senior Bank Dunia, Marwan Muasher yang juga terlibat dalam penulisan laporan tersebut menyebutkan bahwa reformasi sistem pendidikan juga terkait erat dengan pengembangan ekonomi, terutama di daerah yang jumlah penduduk usia muda sangat tinggi. “Dunia Arab ini adalah daerah yang 60% penduduknya berusia dibawah 30 tahun . Tidak kurang dari 100 juta lading pekerjaan harus diciptakan dalam jangka waktu 10-15 tahun ke depan di dunia arab ini, Kalau kita ingin ciptakan pekerjaan baru, maka harus dimulai dengan reformasi pendidikan,’ begitu jelasnya.

Laporan lain yang diterbitkan di bulan Januari oleh Organisasi Pendidikan Budaya dan Sains Liga Arab yang berbasis di Tunisia menyebutkan bahwa 30% dari sekitar 300 juta orang di Dunia Arab masih buta huruf.

Saat ini dunia muslim memang tidak memberikan kontribusi bermakna di bidang teknologi. Hingga kini situasi tidak membaik dan penuh anarki akibat penguasa-penguasanya, yang mewarisi tampuk pimpinan seumur hidup, tidak memberikan perhatian yang serius terhadap kebutuhan pendidikan rakyatnya sehingga cengkeraman kemiskinan pun semakin merajalela.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa hanya 5% dari GDP dan 20% dari anggaran pemerintah dikeluarkan untuk kepentingan pendidikan selama 40 tahun terakhir. Beberapa kemajuan namapak terjadi di negeri-negeri Teluk dan Mesir, dimana anak-anak diwajibkan untuk masuk sekolah dan diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formalnya. Maka hasil pembelajaran pun nampak di negeri-negeri tersebut.

Namun secara keseluruhan, penambahan jumlah sumber daya manusia (SDM) belum dioptimalkan. Pengangguran masih tinggi dikalangan lulusan baru, sementara penyerapan tenaga kerja yang berpendidikan masih tergantung kepada pemerintah saja. Maka bisa dimengerti bahwa usaha pertumbuhan SDM dan ekonomi, distribusi penghasilan, dan pengurangan kemiskinan terjalin secara lemah.

Disini tampaklah bahwa penguasa muslim sudah bangkrut intelektualitasnya, hilang visinya terhadap dunia muslim, dan menerapkan kebijakan yang justru menambah tumpukan masalah.

Keluarga kerajaan Saudi Arabia menghabiskan jutaan dollar tiap tahun di Mal dan jalan-jalan ke luar negeri. Di Mesir, Hosni Mubarak menghabiskan dana pembangunan istana dan Jordan menyibukkan diri dengan daur-ulang energi ketimbang kesejahteraan rakyatnya. Pendidikan bukanlah prioritas bagi para penguasa muslim. Kalaupun ada segelintir rakyat yang terdidik dan memiliki kompetensi, mereka pun justru bekerja dan berkontribusi di luar dunia Muslim itu sendiri.

Di belahan dunia Barat, kurikulum pendidikan dibangun dengan nilai-nilai sekuler. Bagi Inggris dan Amerika Serikat khususnya, jatuh bangun peradabannya tergantung dari keberadaan rakyat yang memiliki kompetensi tinggi dan keahlian handal untuk bisa mewujudkan tujuan dan kebijakan dalam dan luar negeri yang didasarkan nilai-nilai yang mereka emban.

Sebenarnya catatan sejarah menunjukkan bahwa dunia muslim pernah berkontribusi terhadap ilmu dan teknologi yang luar biasa. Adalah kekhilafahn Abbasiyah yang pertama kalinya memformalkan pendidikan di dunia muslim yang menjadi cikal bakal masa keemasan Islam, yang ditandai dengan kemajuan pesat di bidang ilmiah.

Pusat pemerintahan kekhilafahan adalah surga bagi ilmuwan, penyair, dokter, dan filosof. Pembelajaran and pendidikan maju pesat tanpa ada pembedaan ras, agama, suku, dan warna kulit.

Masjid pun menjadi fondasi institusi pendidikan di era kekhilafahan. Akan tetapi karena volume program pendidikan meningkat pesat, tumbuhlah Madrasah –yang mirip dengan sistem College di masa sekarang. Sebelum adanya madrasah, pendidikan berlangsung di mesjid secara informal. Rakyat berkumpul mencari ilmu dengan dibimbing oleh para ulama senior. Ulama inilah yang mulai memberikan program kuliah atau majalis.

Semakin banyaknya madrasah, lahirlah Jami’a (universitas). Buku Guinness Book of World Record mencatat University of Al-Karouine (jami’at al Qarawiyyin) di Fez, Maroko, sebagai universitas tertua di dunia yang berdiri di tahun 859 [1]. Setelah itu Al Azhar berdiri di Kairo, Mesir, di abad 10 yang menawarkan beberapa jurusan akademis termasuk program paska sarjana.

Format pendidikan di dunia muslim inipun akhirnya ditiru di Eropa, yang tampak dari kesamaan beberapa istilah akademik. Chair di sistem pendidikan eropa berarti Kursi dari bahasa Arab yang bermakna tempat dimana dosen duduk dan mengajar.

Gelar doctoral di bahasa Latin juga berarti ‘sertifikat kompetensi untuk mengajar’ diterjemahkan langsung dari bahasa Arab Ijazah at Tadris. Untuk meraih gelar ini, pelajar harus berguru dan menyelesaikan suatau masalah dengan memberikan fatwa. Fatwa tersebut harus bisa ia pertahankan di depan para dosen senior lainnya.

Bahkan, model upacara kelulusan pun sangat mirip dengan upacara akademis yang terjadi di dunia muslim. Jubah yang dikenakan disebut Jubbatul Faqih, dan diberikan bersamaan dengan pemberian ijazah.

Kekhilafahan juga membangun rumah sakit umum (untuk menggantikan kuil penyembuhan atau kuil peristirahatan), rumah sakit jiwa, perpustakaan umum, universitas, dan pusat observasi astronomi negara sebagai pusat penelitian (padahal saat itu pusat observasi biasanya dimiliki oleh milik pribadi di masa sebelumnya).

Sir John Bagot Glubb menulis,” Di masa (kehilafahan) Ma’mun fakultas kedokteran di Baghdad sangat aktif. Rumah sakit umum bebas-biaya dibuka di Baghdad semasa Khalifah Haroon ar Rasheed. Para dokter dan ahli bedah ditunjuk untuk memberi kuliah kepada mahasiswa kedokteran dan mengeluarkan ijazah bagi lulusannya. Di Mesir rumah sakit pertamanya di buka di tahun 872M, yang diikuti dengan berdirinya rumah-rumah sakit lainnya di wilayah kekuasaan Islam dari Spanyol, Maroko hingga Persia.

Di samping madrasah yang berkecimpung di kedokteran, lahir madrasah di bidang hukum. Beberapa kalangan bahkan menduga bahwa ‘fakultas hukum yang dikenal sebagai Inns of Court di Inggris” adalah turunan dari Madrasah yang mendalami Hukum dan Peradilan Islam [2].

Dasar sistem pendidikan Islam adalah untuk membentuk masyarakat dengan Islam sehingga mereka yakin dengan kebenarannya dan mampu mengembannya ke seluruh penjuru dunia. Muslim di masa lalu belajar dan mendalami nilai Islam dengan kesadaran yang tinggi dan visi yang jelas. Pengetahuan yang mereka dapatkan meluaskan pandangan mereka, membangun persepsi, memperkaya mental, dan menjadikan mereka sebagai guru bagi manusia lainnya.

Kesimpulannya, muslim di masa lalu menjadikan islam sebagai motivator utama dalam mengembangkan kehidupannya. Ini yang menjadikan mereka sebagai peradaban adidaya yang diperhitungkan di masanya dan menyumbangkan khazanah pengetahuan di berbagai bidang ilmu dan pendidikan. Satu-satunya langkah ke depan yang harus ditempuh, tidak lain adalah untuk belajar dari sejarah dan memahami apa-apa yang generasi awal umat islam terdahulu pahami, yaitu keberhasilan di dunia dan akhirat hanya bisa terjadi dengan Islam. (Rusydan : sumber : www.khilafah.com

[1] The Guinness Book Of Records, Published 1998, ISBN 0-5535-7895-2, P.242

[2] Makdisi, John A. (June 1999), “The Islamic Origins of the Common Law”, North Carolina Law Review 77 (5): 1635- 1739

http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/03/25

Politik Pertumbuhan Penduduk

world_pop.gifThe Politics of Population Growth
Riset modern yang dilakukan pada struktur genetik jumlah penduduk menunjukkan bahwa 15000 tahun yang lalu, penduduk dunia adalah 15 juta (sama dengan jumlah penduduk Delhi, India, pada saat ini). Populasi penduduk saat Nabi Isa AS lebih dari 2000 tahun lalu kemudian bertambah menjadi 250 juta (jumlah yang kurang lebih sama dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini). Pada saat Revolusi Industri di abad 18, penduduk dunia telah meningkat tiga kali lipat menjadi sekitar 700 juta (dua kali lipat jumlah penduduk Amerika pada saat ini). Dalam dua abad, tingkat pertumbuhan populasi global dalam setahun adalah 6 % yakni mencapai 2,5 milyar pada tahun 1950. Dalam lima dekade tingkat pertumbuhan populasi global menjadi lebih dari dua kali lipatnya sebesar 18 % hingga mencapai 6 milyar pada abad ke 21. Walaupun tingkat pertumbuhan melambat, jika tidak ada becana alam secara demografi, maka populasi dunia akan mencapai 9 milyar pada tahun 2050. Populasi pada saat ini berkisar pada 6.7 milyar

Mitos Overpopulasi Dunia
Situasi atas mayoritas penduduk dunia saat ini adalah diliputi kemiskinan dan kesengsaraan. 3 milyar manusia di dunia hidup dengan pendapatan kurang dari dua dolar (atau lebih kurang dua puluh ribu) sehari. 1,3 milyar diantaranya tidak punya akses bagi air bersih; 3 milyar tidak punya akses untuk sanitasi dan 2 milyar tidak punya akses untuk listrik. Tingkat pertumbuhan pada abad yang lalu

disebut sebagai biang keladi yang menyebabkan keadaan dunia sekarang berada di tepi jurang malapetaka; argumen yang seringkali diutarakan adalah bahwa dunia kekurangan makanan untuk bisa menopang populasi yang demikian besar. Para pendukung overpopulasi mengklaim bahwa pertumbuhan populasi dunia yang besar inilah yang menyebabkan kemiskinan, kehancuran lingkungan dan ketimpangan sosial. Tidak mungkin terjadi pertumbuhan ekonomi pada Dunia Ketiga selama populasinya terus bertambah. Akibatnya, lembaga-lembaga internasional dan pemerintahan di dunia mengembangkan banyak program untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk, yang semuanya diterapkan pada Dunia Ketiga.

PBB mensponsori konperensi pertama mengenai masalah ini pada tahun 1994 di Kairo untuk menganalisa masalah overpopulasi dan mengajukan sejumlah langkah untuk mengkontrolnya. Pada konperensi itu diperdebatkan sedemikian banyak pendekatan untuk mengkontrol fertilitas; seperti dipromosikannya penggunaan alat kontrasepsi, perkembangan ekonomi liberal dan diserukannya peningkatan status wanita. Dasar dari konperensi itu adalah suatu penerimaan atas anggapan bahwa pertumbuhan penduduk menyebabkan kemorosotan ekonomi dan dilakukannya usaha-usaha untuk mengkontrol pertambahan penduduk di Dunia Ketiga terhambat oleh keyakinan agama yang mendorong dimilikinya keluarga yang besar dan kurangnya pendidikan bagi wanita.

Usaha-usaha semacam itu menyebabkan diterimanya pandangan bahwa pertumbuhan penduduk menyebabkan efek-efek negatif seperti kemerosotan dan kemandegan ekonomi, kemiskinan global, kelaparan, kerusakan lingkungan dan ketidak stabilan politik. Filosofi semacam itu telah menjadi mesin pendorong bagi PBB dan Bank Dunia. Pertumbuhan penduduk adalah sebuah problem bagi Afrika, Amerika Latin dan Asia dan jika masalahnya mau terpecahkan maka Negara-negara itulah yang harus melaksanakannya. Dalam hal ini, korban yang telah sangat menderita malah dipersalahkan dengan riset empiris yang mendukung asumsi semacam itu.

Orang pertama yang menyokong pandangan semacam itu adalah Thomas Malthus pada tahun 1798, yang dalam tulisannya yang terkenal berjudul Essay on the Principle of Population, menyatakan bahwa kelangkaan barang akan menyebabkan masalah karena penduduk bertambah sesuai dengan deret ukur (2, 4, 8, 16, 32), sedangkan sumber-sumber daya seperti makanan bertambah sesuai dengan deret hitung (2, 4, 6, 8, 10). Akibatnya, tanpa dilakukan ‘pengecekan’ lebih dulu untuk mengkontrol fertilitas, populasi akan bertambah sehingga menghabiskan sumber daya dunia dan akhirnya menyebabkan kelaparan, hingga terjadi peperangan dan penyakit untuk menyeimbangkan sumber daya dan populasi.

Namun, tuduhan apapun terhadap overpopulasi harus dilihat dalam kaitanya dengan beberapa tindakan independen untuk mencek ketelitiannya yakni sesuatu yang terkait dengan pemakaian sumber daya. Sumber daya yang dikonsumsi yang menyebabkan ketidak seimbangan global adalah berhubungan dengan besarnya populasi.

Walaupun tidak ada konsensus mengenai kenapa Negara pertama di dunia yang menjadi Negara industri adalah Inggris, salah satu dari 8 faktor penyebab potensialnya adalah karena pertumbuhan penduduk.

Menyusul dilakukannya penyatuan dengan Skotlandia tahun 1707, penduduk Inggris saat itu adalah 6.5 juta; seabad kemudian jumlahnya naik menjadi 15 juta. Yang lebih penting lagi, sebagian besar pertumbuhan itu terjadi setelah tahun 1750 yang merupakan salah satu ledakan penduduk terbesar dalam sejarah Inggris. Pada tahun 1801, populasinya telah meningkat menjadi lebih dari 16 juta. Peningkatan ini adalah kritis, karena hal ini menaikkan jumlah tenaga buruh potensial dan konsumen atas komoditas. China dan India juga telah menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang besar adalah suatu hal yang baik, walaupun selama tahun 1960-an dan 1970-an kedua Negara menerapkan program-program pengurangan penduduk. Di bawah pengaruh Barat, kedua Negara itu mampu mengurangi besarnya jumlah penduduk tapi tidak mampu membatasinya dan pada saat yang sama, kedua Negara tadi menjadi raksasa ekonomi yang tumbuh di dunia, dimana hal ini bertentangan dengan pandangan overpopulasi yang menyatakan bahwa semakin banyak orang maka semakin banyak sumber daya yang habis.

Kapitalisme = Kemiskinan

Apabila semua asumsi mengenai efek-efek pertumbuhan penduduk diteliti lebih jauh, pertumbuhan penduduk tidak mungkin menyebabkan berbagai kesengsaraan di dunia pada saat ini dan apa yang menjadi jelas adalah bahwa ada agenda politik ketika menyatakan meningkatnya populasi global adalah penyebab bencana dunia yang potensial. Agenda ini dibuat untuk mengalihkan penyebab sebenarnya dari bencana itu yakni gaya hidup, pola hidup, gaya hidup konsumerisme, kemiskinan dan eksploitasi yang terang-terangan atas Dunia Ketiga agar Dunia Barat dapat hidup tanpa Dunia Ketiga.

Negara maju juga menghadapi serangkaian masalah yang rumit: Jepang, Rusia, Jerman, Swiss dan sebagian besar Eropa Timur mengalami kekurangan penduduk, dikarenakan pengurangan jumlah kelahiran secara besar-besaran. Sebagian wilayah dunia juga sedang mengalami kekurangan penduduk jika tidak ada imigrasi. Karena jumlah penduduk di Barat menurun secara relatif dibandingkan dengan bagian dunia lain, maka negara-negara ketiga itu akan punya alasan yang sah dikarenakan jumlah penduduknya untuk punya pengaruh lebih besar pada lembaga-lembaga internasional dan perwakilannya di badan-badan internasional. Isu overpopulasi adalah alat yang sangat berguna untuk menjelek-jelekkan Negara-negara dengan pertumbuhan penduduk yang besar dan pada saat yang sama mengurangi resiko berkurangnya pengaruh Negara-negara maju di masa datang. Hal ini jelas terlihat ketika Turki bergabung dengan Uni Eropa, setelah bergabung dengan Uni Eropa itu, maka penduduk Turki yang hampir 70 juta jiwa itu akan memberikannya hak untuk menempatkan jumlah perwakilan kedua terbesar pada Parlemen Eropa. Terlebih lagi, proyeksi demografi menunjukkan bahwa jumlah penduduk akan melebihi jumlah Jerman menjelang tahun 2020. Keanggotaan Turki akan memiliki banyak konsekuensi pada arah Uni Eropa di masa datang termasuk pada isu rencana pemekarannya di masa datang.

Semua kesalahan ditimpakan pada Dunia Ketiga yakni pada masalah besarnya jumlah penduduk, padahal Negara-negara Barat mengkonsumsi 81% dari semua apa yang dihasilkan dunia, sedangkan Dunia Ketiga memiliki hampir sebagian besar sumber daya dan mineral yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang di dunia. Dunia Ketiga hanya mengkonsumsi 3.6 %. Dunia Barat mengkonsumsi 50% sumber daya paling penting di abad ke 21; yakni minyak, padahal mereka memproduksi minyak kurang dari seperempatnya.

Semuanya berkaitan dengan Ekonomi

Negara maju dicirikan dengan industri konsumsinya, karena mereka terobsesi dengan konsumsi. Ekonomi diukur oleh kemampuan mereka untuk menghasilkan jumlah yang sama seperti periode tahun lalu dan Gross domestic product (GDP) telah menjadi alat dimana kemajuan dan kebahagiaan diukur. Pandangan Barat melihat kebutuhan mereka selalu naik dan karena dilakukannya teknik-teknik marketing yang baru maka dihasilkan sedemikian banyak kebutuhan-kebutuhan yang artificial selama bertahun-tahun. Pentingnya konsumsi untuk mengkonsumsi digaris bawahi oleh Richard Robbins dalam bukunya yang meraih penghargaan ‘global problem and the culture of capitalism (masalah global dan budaya kapitalisme),’ ‘beberapa hari setelah al Qaeda menabrakkan dua pesawatnya ke gedung WTC pada tanggal 11 September, para anggota kongres Amerika bertemu untuk merumuskan suatu pesan pada publik. “Kami harus memberi keyakinan pada masyarakat untuk kembali keluar dan bekerja, membeli barang, kembali berbelanja di toko-toko, bersiap menyambut thanksgiving day, bersiap menyambut Natal,” kata seorang anggota kongres, dengan meniru ucapan Presiden ‘keluarlah’ katanya ‘dan jadilah anggota masyarakat yang aktif’. (CNN 2001). ‘Kenyataan bahwa setelah salah satu kejadian yang paling mengejutkan dalam sejarah Amerika itu, para pejabat pemerintah mendorong penduduk untuk berbelanja dan bekerja adalah bukti yang cukup akan arti pentingnya konsumsi agar ekonomi kita bisa berjalan efektif dan termasuk juga untuk seluruh masyarakat.”

Konsumsi dan Konsumsi Lagi!
Pada masyarakat telah terjadi perubahan dari membeli apa yang diperlukan untuk bisa survive menjadi kebiasaan membeli dimana barang-barang mewah dirubah menjadi suatu keperluan hidup; hal ini terjadi terutama karena adanya pemasaran (marketing) dan iklan (advertising). Tujuan dari para pemasang iklan adalah untuk senantiasa menjadikan konsumen memiliki keinginan yang menggebu-gebu dan menciptakan nilai pada komoditas dengan memberinya daya tarik yang akan menjadikan orang memilikinya. Maka dilakukanlah kampanye secara nasional dimana selebritis digunakan untuk ikut menyokongnya. Para pengiklan, dengan bantuan perusahaan, senantiasa menciptakan kegelisahan pada orang untuk memiliki barang-barang yang ‘baru’ atau ‘up to date’. Memiliki barang-barang ‘modern’ telah menjadi keharusan dan ‘ketinggalan zaman’ digambarkan sebagai kegagalan dalam kehidupan. Inilah yang diciptakan oleh Kapitalisme untuk memastikan bahwa konsumen terus mengkonsumsi.

Keluarga inti dari Negara-negara Barat dengan hanya 2.4 anak dalam keluarga, selalu mengkonsumsi jauh lebih banyak sumber daya dibandingkan dengan jumlah yang lebih kecil yang dikonsumsi oleh keluarga di Dunia Ketiga. Setelah Perang Dunia II, Departemen Perdagangan Amerika, yang bertindak atas tekanan karena ekonomi Amerika sangat terpengaruh oleh perang itu, mempromosikan pandangan atas rumah tangga yang lebih besar, dan bahkan dengan lebih banyak jumlah anak, untuk menaikkan penjualan banyak produknya agar dibeli di dalam negeri. Dikarenakan hal ini, Amerika dengan 6% populasi dunia, mengkonsumsi 25% sumber daya dunia. Ini adalah kenyataan yang sangat kontradiktif pada apa yang digembar-gemborkan oleh Amerika dalam kaitannya dengan “over” populasi.

Hal ini dikarenakan adanya kepentingan bisnis yakni untuk bisa mensuplai barang-barang mereka dan untuk mendorong berlanjutnya ekspansi ekonomi dan akumulasi uang mereka. Alasan mengapa Kapitalisme perlu untuk terus menerus tumbuh dan melakukan ekspansinya adalah agar perusahaan-perusahaan itu bisa mendapat keuntungan maka mereka perlu terus menjual sejumlah besar barang dan jasa mereka. Barang-barang tersebut memerlukan sumber daya yang secara alamiah ditemukan di dalam perut bumi seperti minyak tanah, gas, air dll. Hal ini memerlukan pencarian barang-barang mineral tersebut di Dunia Ketiga dimana sebagian besar mineral di dunia terdapat dan disinilah sebabnya kenapa dunia kekurangan makanan dan terjadi kemiskinan global. Kemajuan teknologi seharusnya memastikan lebih banyak barang yang diproduksi dengan harga yang lebih murah dari yang dijual oleh para pesaing barang itu. Teknologi terus berkembang untuk memproduksi barang-barang menjadi lebih cepat dan lebih murah dan pada saat yang sama memastikan bahwa konsumen selalu ingin membeli barang-barang itu. Karena sumber daya dunia adalah terbatas maka semakin banyak perusahaan yang bersaing untuk mendapatkan sumber daya yang semakin berkurang.

Akibatnya Negara-negara maju terus menyuapi Dunia Ketiga, sehingga kebijakan-kebijakan pemerintahan dipengaruhi oleh pencarian sumber daya yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan nasional yang seringkali disebut sebagai ‘kepentingan nasional’. Kebutuhan untuk senantiasa memproduksi lebih banyak, mendorong perusahaan-perusahaan untuk mengeksploitasi Negara-negara yang memiliki sumber daya dan Dunia Ketiga ditipu dengan kesempatan bekerja. Banyaknya zona ekonomi di Asia Tenggara, dimana pekerjanya bekerja pada keadaan yang buruk dan memperoleh hanya beberapa dolar sehari merupakan bukti hal ini. Dalam zona-zona itu, perusahaan-perusahaan tidak diizinkan untuk menjual produk-produk tertentu di pasaran dimana barang-barang itu diproduksi tapi hanya diizinkan untuk memproduksi barang-barang yang bisa menghasilkan pekerjaan bagi ekonomi Negara pembuatnya.

Mengejar kepentingan

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, Amerika mulai mengembangkan kebijakan-kebijakan dalam negeri untuk melawan tantangan atas meningkatnya jumlah penduduk di Dunia Ketiga. Peningkatan penduduk di Negara-negara miskin mulai menjadi perhatian para pemerintahan Barat. Sebuah memorandum dari US National Security Study yang dibuat tahun 1974 oleh the National Security Council atas permintaan Menteri Luar Negeri AS, Henry Kissinger, menyimpulkan bahwa ada empat tipe alasan yang menjadikan pertumbuhan ekonomi di Negara-negara miskin bisa menjadi ancaman bagi keamanan nasional AS.

1. Negara-negara dengan jumlah penduduk lebih besar punya pengaruh politik lebih besar

2. Negara-negara semacam itu akan lebih mampu untuk menolak akses bagi Barat atas sumber-sumber daya dan material itu

3. Meningkatnya jumlah kaum muda akan bisa menantang struktur kekuasaan global

4. Meningkatnya penduduk bisa merupakan ancaman bagi para investor Amerika di Negara-negara itu

Memorandum itu menyebutkan Negara-negara seperti India, Brazil, Thailand, Turki, Ethiopia dan Colombia sebagai Negara-negara yang mendapat perhatian atas hal ini.


Pandangan Islam
Gaya hidup yang boros dari Negara-negara maju maupun pola konsumsi yang mereka lakukan adalah penyebab yang sebenarnya atas meningkatnya pemakaian sumber-sumber daya dunia. Lagipula, konsumsi Negara-negara Barat telah menjadikan Dunia Ketiga terus berada dalam keadaan miskin. Pada saat yang sama, meningkatnya jumlah penduduk di Dunia Ketiga dipersalahkan sebagai penyebab kesengsaraan di dunia.

Pandangan Islam atas topic ini adalah bersarkan sejumlah ayat-ayat dalam Al Quran:

1. Rizki adalah berasal dari Allah SWT dan Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk mencari pemenuhan lewat cara-cara yang halal. Diantara banyaknya ayat-ayat Nya, Allah telah merangkan dengan sangat jelas bahwa Dia adalah yang memberikan rizki atas seseorang:

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu” [Al-Maidah:88]

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki.” [Ar-Rum:40]

“Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu” [Ya-sin:47]

“Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya … [Al-Imran:37]

Hal ini berarti semua kaum muslim harus berusaha dan mencari rizki yang telah disediakan buat mereka dan dan bagaimana usaha itu dilakukan adalah hal yang akan diperhitungkan di Hari Pembalasan. Seseorang akan mencari rizki itu dengan pemahaman apa yang akan dia dapatkan dari apa yang dia telah takdirkan untuknya dan tidak menjadikan hal ini sebagai tujuan utama kehidupannya. Seseorang juga harus bekerja berdasarkan keyakinan bahwa ada sumber daya mineral yang cukup di dunia ini bagi semua orang untuk hidup karena Allah telah sediakan itu buat semuanya:

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” [Al-Baqarah:29]

“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” [Luqman:20]

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu.” [Al-Baqarah:22]

Ini dikarenakan Allah SWT telah menciptakan semua mineral dan sumber daya yang diperlukan bagi seseorang untuk menopang hidupnya, dan menyuruh manusia untuk bekerja dan membuat barang-barang atau bekerja pada pertanian.

2. Islam mendorong orang untuk membelanjakan yang halal tapi melarang berlebih-lebihan dalam belanja.

Islam memandang belanja berlebih-lebihan sebagai hal yang hal yang sia-sia, Allah SWT berfirman

“dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan”. [Al-Isra: 26-27]

3. Pada saat yang sama Allah SWT memerintahkan seseorang untuk membelanjakan sesuatu pada barang-barang yang halal, Allah SWt berfirman

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” [Al-A’raf: 32]

Nabi Muhamma SAW bersabda : “Allah suka melihat tanda-tanda kemurahan yang diberikan-Nya pada hamba-hamba Nya,” diriwayatkan oleh At-Tarmizi.

Nabi Muhammad SAW juga bersabda:”Jika Allah memberimu harta, biarkan Dia melihat tanda-tanda karunia Nya padamu.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari ayah Abu-Ahwas.

Jika seseorang memiliki harta dan berlaku kikir ketika membelanjakan untuk dirinya sendiri, maka dia berdosa dalam pandangan Allah. Hal ini juga mencakup pada orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.

4. Islam memerintahkan Khalifah untuk menyediakan kebutuhan dasar dari penduduknya. Islam menganggap kemiskinan sebagai masalah siapapun di Negara manapun dan pada generasi kapanpun. Kebutuhan dasar dalam Islam didefinisikan atas tiga hal yakni makanan, pakaian dan tempat tinggal. Kemiskinan dalam pandangan Islam adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar itu secara lengkap. Allah berfirman:

“dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma’ruf.” [Al-Baqarah 233]
Dan Dia berfirman:
“Tempatkanlah mereka di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu” [At-Talaq: 6]

Islam menjadikan pemenuhan dan penyediaan kebutuhan-kebutuhan dasar itu suatu hak bagi seseorang yang tidak mampu memperolehnya. Khalifah akan mengembangkan proyek-proyek dan memberikan kontrak-kontrak untuk memastikan ekonomi yang dapat memenuhi kebutuhan atas tiap individu. Khalifah juga memiliki kebijakan pertanian dan memberikan orang-orang yang tidak punya pekerjaan sebidang tanah secara gratis untuk dikembangkan.

5. Sebagian besar perhatian ekonomi Islam akan dicurahkan untuk memastikan adanya distribusi kekayaan yang merata. Islam mengakui adanya perbedaan dalam kemampuan dan kekuatan orang dan tidak menyerahkan seluruhnya pada hukum permintaan dan penawaran (supply dan demand). Islam membolehkan intervensi Negara dalam hal ekonomi untuk membawa keseimbangan di pasar. Hal ini bisa dipahami dari ayat “Supaya harta (yakni kekayaan Negara) jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. [Al-Hashr: 7]

Ayat ini mengamanatkan pada Amir (kepala negara) untuk memastikan bahwa kekayaan janganlah hanya beredar diantara orang-orang kaya saja.

6. Islam membiayai kebutuhan dasar seluruh penduduknya dengan mendisain cara yang dianggap perlu dilakukan bagi penduduk, karena ketiadaanya akan membuat orang akan mencarinya dimana saja, yakni suatu asset yang sukar diperoleh dan untuk memanfaatkannya memerlukan pengilangan, seperti atas barang-barang milik umum. Hal ini berarti berdasarkan kegunaannya barang itu harus dimiliki secara umum dan hasil yang dikeluarkannya harus diatur untuk keuntungan semua rakyat. Hal ini diungkapkan dalam hadis Nabi SAW “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal : air, padang rumput dan api”. Walaupun hadis hanya menyebutkan tiga hal, kita dapat melakukan qiyas (analogi) dan memperluas hal ini untuk meliputi semua keperluan masyarakat. Karena itu sumber-sumber air, kayu bakar di hutan, padang rumput untuk hewan gembala, dan semacamnya adalah harta milik umum sebagaimana juga mesjid, sekolah-sekolah negeri (tidak termasuk sekolah-sekolah swasta), rumah sakit, ladang-ladang minyak, pembangkit-pembangkit listrik, laut, danau, kanal untuk umum, teluk, selat, bendungan, dsb.

7. Selain harta milik umum, Islam menetapkan sejumlah aturan untuk memastikan terus beredarnya harta dan dalam beberapa hal mengenakan pajak pada orang-orang yang menimbun harta. Secara keseluruhan, Islam memiliki seperangkat aturan yang membatasi penumpukkan kekayaan dan menganjurkan pembelanjaan sambil memastikan distribusi kekayaan.

Seharusnya menjadi sangat jelas bahwa masalah ketidak seimbangan global adalah terletak pada kebijakan-kebijakan Negara-negara Barat. Sementara Negara-negara Dunia Ketiga tenggelam dalam kemiskinan, pemerintahan di Negara-negara maju menyalahkan sebab kesengsaran itu pada korban yang mereka ciptakan. Khilafah memiliki catatan yang baik sebagai pihak yang bisa menjaga urusan penduduknya dan memiliki sejumlah kebijakan yang tidak hanya memastikan semua penduduknya terpenuhi tapi juga menempatkan hal ini pada agenda global dengan mengungkap yang dilakukan Barat dan mengakhiri kebijakan-kebijakan eksploitatif dari Kapitalisme.
(Riza Aulia ; Sumber : www.khilafah.com ; 18 Maret 2008)


http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/03/25/politik-pertumbuhan-penduduk/

Tiga Penyebab Malapetaka Dunia

Sabtu, 22 Maret 2008

Tiga penyebab malapetaka didunia menurut Syeikh Taqiyyuddin An-Nabhani dalam Mafahim Siyasah II Hizbut Tahrir antaranya, pertama keluarga internasional yang melahirkan PBB dan UU internasional, kedua cengkraman dan dominasi negara adidaya, serta yang ketiga imperialisme dan monopoli. Demikian diungkapkan oleh Anggota DPP Hizbut Tahrir Indonesia Farid Wajdi dalam Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan, di Auditorium YTKI, Jakarta, Senin(17/3).

Menurutnya, alasan PBB masuk sebagai pemicu malapetaka didunia, karena sejak pendirian sudah bersifat diskriminatif, di mana hanya lima negara pendiri yang merupakan pemenang perang itu yang mempunyai hak veto dan itu bertentangan dengan demokrasi.

Selain itu, lanjut Wajdi, semenjak berdiri PBB sudah melakukan kebohongan besar, karena telah mengklaim dirinya sebagai keluarga internasional. Padahal cikal bakal pendiriannya berasal dari kelompok-kelompok Kristen yang tidak menginginkan kelompok non Kristen masuk didalamnya.

“Dilihat dari asal usulnya sudah jelas, yang bukan Kristen tidak boleh masuk, kemudian mereka mengeluarkan UU internasional yang juga bersifat memaksa, ” katanya.

Dapat dikatakan secara tegas bahwa PBB bertentangan dengan syariah, karena telah dijadikan alat penjajahan oleh kapitalis untuk menguasai negeri-negeri Islam.

“Haram hukumnya kaum muslim bergabung dalam PBB, yang wajib bagi kaum muslim menegakan khilafah, ” imbuhnya.

Mengenai Imperialisme dan monopoli, Wajdi menambahkan, keberadaannya tidak pernah lenyap dari bumi, paham itu akan muncul dengan bentuk-bentuk yang berbeda.

Ia menambahkan, saat ini tatanan internasional telah dikuasai oleh ideologi kapitalisme, maka sangatlah wajar berbagai persoalan sampai kepada yang berhubungan dengan penyakit ataupun masalah kesehatan, tidak lepas dari ideologis yang mengandalkan sisi materi ini.(novel; eramuslim 18/03/2008)

http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/03/18/hti-tiga-penyebab-malapetaka-dunia/

Menkes: Kaum Muslim Harus Bersatu, Lawan Penindasan Asing

bukumenkes.jpgMenteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menegaskan penindasan terhadap negara dunia ketiga yang didiami oleh sebagian besar umat muslim oleh negara maju sudah bukan zamannya, karena itu perlu ada perubahan pemikiran untuk menghapuskan hegemoni yang tidak menguntungkan itu. “Siapapun harus mempunyai pemikiran untuk merubahnya, kehendak Allah tanpa usaha tidak akan terjadi, karena itu saya mencoba menuangkan dalam sebuah tulisan, ” katanya dalam Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan bertajuk “Siti Fadilah melawan: Saatnya Indonesia Berubah”, di Auditorium YTKI, Jakarta, Senin(17/3).

Dalam buku yang ditulisnya, Menkes mengaku, tidak menuding siapapun, namun dirinya berusaha melakukan pembenaran terhadap mekanisme yang selama ini berjalan di badan kesehatan dunia WHO secara adil, di mana negara yang mempunyai virus itu berada dalam posisi yang sejajar dengan negara maju yang melakukan penelitian

“Saya hanya berbicara sesuai commonsense muslim ataupun negara miskin yang biasa menjadi korban, di mana negara berkembang yang terkena virus itu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Bukan saja menjadi korban, tempat untuk mencari keuntungan, itulah yang saya perjuangkan, ” tegasnya.

Menkes mengatakan, upaya negara maju untuk menguasai negara berkembang seperti Indonesia dilakukan dengan cara membuat sistem yang terpecah-pecah dan saat ini sudah mulai merasuk ke dalam negeri.

Siti Fadilah mencontohkan, pada era otonomi daerah ini sangat mudah pengaruh asing masuk ke daerah, karena pada umumnya para pemimpin mereka tidak mempunyai mental yang kuat untuk mencegahnya.

“Mental kita digempur habis-habisan yang dipikirkan hanya perut, membuat standar ganda, bernegosiasi dengan dalih efisiensi, bantuan, teknik assistance-lah, “cetusnya.

Ia mengaku, tidak pernah tergiur dengan iming-iming bantuan yang diberikan oleh pihak asing, sebab itu justru akan membuat dirinya tersinggung, ketika perwakilan asing itu mencoba mengungkit-ungkit apa yang sudah diberikannya.

“Saya adalah satu-satunya Menteri yang tidak mau menguntang, technical assistance saja saya tidak mau. Kadang-kadang dipaksa, saya bisa menjawab, loh yang paling tahu negara saya, ya saya, kok kamu mau bantu saya, tahu apa kamu, “tuturnya disambut gema takbir oleh peserta diskusi yang memadati auditorium YTKI.

Dalam kesempatan itu, Menkes meminta agar kaum muslim dapat bersatu untuk mencegah berbagai macam pengaruh asing yang datang, sebab apabila kaum muslim terpecah-belah pihak asing senang karena menjadi sasaran untuk melancarkan pengaruhnya.(novel)


Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/nas

http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/03/18/menkes-kaum-muslim-harus-bersatu-lawan-penindasan-asing/

Lima Tahun Invasi Ke Irak; Tragedi Terbesar sejak PD II

irak-2697284p.jpgJika batas sejarah modern adalah sejak Perang Dunia II, maka invasi ke Irak telah mengakibatkan tragedi terbesar zaman modern. Nyawa dan uang habis melayang secara cuma-cuma. Hasilnya nihil, kecuali versi Gedung Putih bahwa Irak jadi negara bebas dan menuju demokrasi. Dunia dan warga AS pada khususnya telah dikelabui.

Fakta-fakta menunjukkan keadaan yang kontras secara ekstrem. Sebelum tulisan ini berlanjut, perlu diingatkan bahwa AS tak pernah menyebut serangan ke Irak sebagai invasi, tetapi menyebutnya Iraq War (Perang Irak).

Namun jelas, Irak dibombardir oleh AS dan sama sekali tidak ada perlawanan dari Irak. Ini terjadi pada 20 Maret 2003, atau 19 Maret waktu AS, saat invasi dimulai. Jadi, hal ini tidak menunjukkan keadaan seperti yang dikatakan AS, yakni Iraq War. Dengan kata lain, Iraq War bukan satu kategori dengan Perang Korea atau Perang Vietnam.

Lepas dari itu, menurut laporan Amnesty International (AI), 17 Maret 2008, sekarang dua dari tiga warga Irak tak memiliki akses air bersih, empat dari 10 warga Irak hidup di bawah garis kemiskinan. Sistem kesehatan dan pendidikan di Irak, bersama sistem negara, secara keseluruhan telah ambruk.

Irak kini menjadi negara paling tak aman di dunia, disertai pertikaian sektarian dan hidup warga sipil yang sehari-hari terancam. Negara sedang menghadapi tragedi kemanusiaan yang luar biasa. Setidaknya, empat juta, atau sekitar 15 persen dari 27 juta penduduk Irak, telah tergusur dari rumahnya.

Angka-angka korban berbeda secara cepat dari waktu ke waktu. Menurut Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR), sekitar dua juga warga Irak kini mengungsi ke Jordania dan Suriah. Sekitar 2,2 juta lagi warga Irak telah mengungsi di Irak sendiri, menghindari daerah berbahaya di kampung halaman.

Tak banyak warga Irak yang diterima negara-negara penginvasi Irak, seperti Inggris, AS, Spanyol, dan Polandia. Sekitar 60.000 warga Irak telah ditahan aparat Irak, dibantu pasukan multinasional.

Aksi-aksi radikal dan berdarah, termasuk aksi penembakan yang setiap hari berdentuman di Irak, telah menewaskan 1,2 juta warga Irak, sebagaimana dilansir Iraq Body Count dan The Lancet, sebuah lembaga terhormat asal Inggris, September 2007.

Sekitar 12.000 tentara pasukan Irak tewas, sebagaimana diumumkan Pemerintah Irak bulan lalu. Sekitar 4.280 tentara asing tewas, termasuk 3.987 tentara AS, menurut AFP berdasarkan bahan dari http://www.icasualties.org site.


Perang termahal

Kini masih ada 160.000 tentara di Irak, dengan biaya yang harus keluar sekitar 12 miliar dollar AS per bulan, sebagaimana diberitakan The San Francisco Chronicle, edisi 17 Maret. Total uang yang sudah dialokasikan ke Irak mencapai lebih kurang 500 miliar dollar AS. Jika ditambah dengan beban bunga, total biaya invasi mencapai 615 miliar dollar AS. Masalahnya, biaya perang itu dipakai dari dana-dana pinjaman pemerintahan AS.

Biaya yang akan dikeluarkan AS, sebagaimana diutarakan Joseph Stiglitz, ekonom peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2001, akan mencapai setidaknya 3 triliun dollar AS. Peralatan militer AS yang sudah rusak akibat invasi ke Irak membutuhkan anggaran tambahan untuk pembaruan persenjataan sekitar 280 miliar dollar AS. Veteran yang cacat akibat invasi ke Irak membutuhkan biaya 500 miliar dollar AS lagi untuk menunjang kehidupan veteran itu sepanjang umurnya.

Stiglitz dan profesor keuangan publik dari Harvard University, AS, Laura Bilmes, mengatakan, bersama biaya-biaya tambahan lainnya, total biaya invasi ke Irak akan mencapai 3 triliun dollar AS. Angka ini mendekati sekitar 3,8 triliun dollar AS utang Pemerintah AS, yang sebagian besar tercipta selama rezim Presiden George W Bush.

”Kita negara kaya dan pada tingkat tertentu, biaya itu masih bisa ditanggulangi,” kata Stiglitz, yang juga profesor dari Columbia University, AS, yang menuliskan kalkulasi biaya invasi ke Irak itu dalam buku barunya berjudul The Three Trillion Dollar War.

Namun, Stiglitz mengatakan invasi ke Irak telah memberi kontribusi pada kerusakan ekonomi AS dan global. Irak yang tidak stabil telah berperan besar mendorong harga minyak ke ketinggian yang merupakan rekor baru dalam sejarah perminyakan dunia, yakni mencapai 112 dollar AS per barrel.


Mengimbas ke dunia

Secara langsung atau tidak langsung, kenaikan harga minyak akibat faktor geopolitik terkait Irak juga telah merugikan warga dunia. Harga minyak sangat rentan naik jika kekacauan Irak terjadi. Ratusan juta warga miskin dunia telah ketiban harga minyak, untuk satu hal yang mungkin mereka tidak tahu penyebabnya.

Kekacauan perekonomian AS, yang mengakibatkan anjloknya bursa saham dan kurs dollar AS, telah pula membuat spekulan global ”berjudi” di sektor komoditas, yang jadi salah satu bahan pangan pokok masyarakat dunia.

Selain menghadapi kenaikan harga minyak, warga global juga telah tertimpa kenaikan harga- harga pangan. Jadi, jika salah satu penyebab kekacauan global, yakni harga minyak yang naik, ingin diatasi, salah satu jawabannya adalah menstabilkan Irak.

Kembali ke soal biaya, beban finansial invasi ke Irak, kata Stiglitz, telah membuat AS tak bisa mengatasi beban utang. Ini terjadi saat ekonomi AS sedang menuju resesi akibat kehancuran sektor perumahan dan anggaran pemerintahan yang defisit ditambah lagi defisit perdagangan AS dengan negara lain.

Dampak lainnya, makin sulitnya AS memenuhi anggaran untuk pengeluaran sosial dan kebutuhan lainnya di masa datang.

Juru Bicara Gedung Putih Dana Perino menjawab, jika tak diinvasi, maka Irak akan menjadi sarang Al Qaeda. Namun, laporan AI menunjukkan, Irak adalah negara dengan dentuman senjata setiap hari, di mana nyawa manusia melayang.

Dalam perspektif sejarah, invasi ke Irak adalah yang paling menelan biaya terbesar. Invasi ke Irak dua kali lebih mahal dari Perang Korea (1950-1953), dan lebih mahal sepertiga dari Perang Vietnam (yang berlangsung 12 tahun). Stiglitz dan Bilmes mengalkulasi bahwa invasi ke Irak 10 kali lebih mahal dari Perang Teluk I dan dua kali lebih mahal dari biaya Perang Dunia (PD) I.

Hanya PD II yang mampu mengalahkan biaya invasi ke Irak. Dibutuhkan 5 triliun dollar AS dalam PD II, termasuk biaya mengerahkan pasukan AS menghadapi Jerman dan Jepang.

Profesor Steven Davis dari University of Chicago Graduate School of Business juga mendukung soal kalkulasi invasi ke Irak itu, yang akan terus menggelinding. ”Akan tetapi, tetap saja muncul penolakan dari pemerintahan untuk menghentikan invasi,” kata Davis.

Davis menyalahkan Kongres AS dan juga media AS yang sejak dini kurang kritis soal bahaya besar, baik nyawa maupun konsekuensi dari invasi ke Irak. Periode 2003 hingga sekarang, AS bukanlah sebuah negara yang menunjukkan diri sebagai negara demokrasi. ”Terjadi kesalahan kolektif,” kata Davis.

Gubernur California Arnold Schwarzenegger mengatakan, sekitar setengah dari peralatan negara bagian kini dialokasikan ke Irak dan Afganistan. ”Ini tidak adil,” kata Schwarzenegger.

Robert Hormats, Wakil Ketua Goldman Sachs, memperingatkan Kongres AS soal bahaya kekurangan biaya bagi generasi AS di masa depan jika invasi ke Irak tidak dihentikan. Biaya invasi ke Irak telah melampaui alokasi anggaran untuk pendidikan dan riset kesehatan. ”Apakah tidak sebaiknya biaya invasi ini dialokasikan ke sektor lain yang lebih menguntungkan negara,” ujar Hormats.

Harian Salt Lake Tribune, edisi Senin (17/3), juga menuliskan, biaya invasi ke Irak sudah lebih mahal dari biaya riset untuk energi terbarukan (renewable energy). Editor majalah Scientific American menuliskan bahwa Pemerintah AS hanya membutuhkan 450 miliar dollar AS untuk riset energi, yang bisa melahirkan energi yang efisien, termasuk energi matahari.

Di harian Indianapolis Star, edisi 17 Maret, Profesor Sheila Kennedy dari Indiana University School of Public and Environmental Affairs mengatakan kita telah melakukan tindakan blunder di Irak. ”Kita menyerang negara yang tidak terkait dengan serangan 11 September, kita telah menciptakan kekacauan besar di di Irak, namun kita tidak pernah serius mengevaluasi semua kesalahan ini,” kata Sheila.


Kenangan buruk tentara

Wapres AS Dick Cheney masih tetap dengan entengnya mengatakan AS tak akan membiarkan Irak menjadi kacau-balau. Sampai kapan pernyataan seperti itu terus berlanjut?

Clifton Hicks, tentara AS yang pernah ditugaskan di Irak, mengatakan, ia memiliki kenangan buruk saat bertugas di Irak. Setiap saat ia terancam serangan oleh orang-orang yang bersenjata.

Ia juga menyaksikan kerumunan perkawinan yang juga telah menjadi sasaran dari orang-orang yang bersenjata sebagai bentuk provokasi bahwa Irak di bawah AS tidak akan pernah aman.

Rasanya tak mungkin lagi mengharapkan Gedung Putih mengatasi masalah Irak. Rasanya susah bagi orang-orang yang bercokol di Gedung Putih keluar dari Irak. Terlalu banyak proyek milik orang-orang terkait dengan Dick Cheney di Irak. Kita berdoa saja agar Barack Obama atau Hillary Clinton jadi presiden AS. Keduanya menjanjikan penarikan pasukan AS dari Irak jika terpilih jadi presiden AS.[Simon Saragih; Kompas; Rabu, 19 Maret 2008 | 00:16 WIB]

irak-2697284p.jpg

AP photo/KARIM KADIM
Seorang tenaga medis sedang mengobati seorang gadis cilik yang cedera karena terkena serpihan mortir di sebuah sekolah dasar di kawasan Baladiyat, Baghdad, Irak, Senin (17/3). Dua anak cedera dan lima anak lainnya meninggal akibat ledakan di dekat sekolah tersebut. Begitulah lebih kurang keadaan sehari-hari di Irak, nyawa anak-anak pun tak terlindungi selama lima tahun invasi AS


http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/03/19/lima-tahun-invasi-ke-irak-tragedi-terbesar-sejak-pd-ii/

 

© Copyright AL-FATIH ZONE 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.