Manajemen anak kos pasti beda dengan manajemen negara. Selain lebih kompleks juga punya konsekuensi besar, karena berhubungan dengan perut jutaan orang, bukan sekadar perut sendiri. Tapi jika manajemen anak kos diadopsi untuk mengurus negara, maka selamat menanti kebangkrutan.
Negara dengan style anak kos, jika merasa tidak mampu (baca: malas) mengelola sumber daya alam dengan baik sehingga berdampak defisitnya anggaran, maka sibuklah sang presiden mencari bantuan (baca: pinjaman) luar negeri yang harus dikembalikan setiap tahun plus dengan bunga. Dalam APBN 2008 saja kewajiban pemerintah untuk bayar hutang plus bunga mencapai Rp 91,365 trilyun. Jika hutang sudah segunung, maka jual asset menjadi 'solusi' berikutnya. Tahun 2008 saja sedang antri sekitar 37 BUMN yang siap dilego ke pasaran, termasuk dijual ke pihak asing tentunya.
Kalau alternatif menjual BUMN pun sudah maksimal, maka tinggal mengurangi hak rakyat. Rakyat sebagai pemilik sumber daya alam dipaksa untuk membeli miliknya sendiri, maka subsidi BBM pun perlahan tapi pasti akan dicabut total, alias harganya dinaikkan. Alasannya, jika BBM dijual ke rakyat dengan subsidi, tentu tidak menguntungkan dan pasti menambah beban. Tapi kalau dijual ke orang lain (baca: asing) tentu lebih menguntungkan. Logika ini persis seperti anak tukang bakso yang minta 1 porsi ke Sang Ayah. Lalu Ayahnya bilang, "Nak, bakso ini dibuat untuk dijual, bukan untuk kita makan. Kalau kamu mau makan bakso ini silahkan, tapi harus bayar seperti orang lain. Daripada kamu makan, lebih baik Ayah jual saja".
Walhasil, jika mengelola negara sesederhana manajemen anak kos, maka tentu kabinet ekonomi tidak perlu kuliah jauh-jauh mengejar gelar PhD di Barkeley misalnya, serahkan saja ke mahasiswa tingkat I, cukup digaji untuk bayar biaya kos plus makan di warteg tiga kali sehari, selesai masalah! [opini/syabab.com]


0 komentar:
Posting Komentar