Blogger Themes

News Update :

Pentas Seni? Udah Basi!

Sabtu, 19 April 2008

logo-gi-3.jpg edisi 022/tahun I (16 Rabiul Awal 1429 H/24 Maret 2008)

Emang nggak seru kali ye kalo hidup diisi dengan serius mulu. Nggak ada bunga-bunganya, nggak ada hiburan, hanya fokus pada kerjaan atau belajar mulu. Katanya sih gitu. Apalagi kalo yang ditanya adalah remaja. Simak nih pendapat teman kamu yang berhasil dijerat dan ditodong via Yahoo! Messenger, “Hidup gue bakalan garing Mas, kalo cuma belajar, belajar dan belajar. Sekali-kali boleh dong hiburan!” tulis Andre asal Bandung. BTW, kalo kamu mo pada nyapa en ikutan ngobrol sama gaulislam bisa langsung add nih Yahoo! ID kita di YM (gaul.islam). Ditunggu ye! Eh, kok ini malah jadi kayak request lagu-lagu di radio: AMKM alias Anda Meminta Kami Manyun! (backsound: manyun karena lagu yang diminta kagak ada hehehe…)

Teman lain, namanya Lessya, doi nulis begini, “Hidup harus seimbang dong. Serius kudu, belajar harus, tapi otak kita kan perlu refreshing, misalnya sesekali diisi dengan menikmati hiburan, gitu.”

Hmm… ternyata emang butuh hiburan. Meskipun tentu aja kalo kebanyakan hiburan juga malah jadi malas. Nggak ngerasa harus serius. Nggak ngerasa harus fokus belajar dan berdakwah. Memang harus ada keseimbangan. Namanya juga seimbang, berarti nggak berat sebelah. Nah, ngomong-ngomong soal berat sebelah, ada juga lho teman kita yang berpendapat agak lain, “Hiburan boleh. Belajar harus. Tapi menurutku, hiburan harusnya seperlunya aja. Belajar yang harus dibanyakkin. Jadi kalo mo berat sebelah, sebaiknya berat ke ibadahnya, berat ke belajar dan dakwah. Jangan berat lebih banyak dipake hiburan. Hiburan seperlunya aja.” Rully panjang lebar ngasih jawaban saat ditodong gaulislam di YM.

Nah, ngomong-ngomong soal hiburan, biasanya di sekolah suka ada tuh pentas seni dengan beragam aksi. Biasanya diisi band lokal sekolahan atau penyanyi dadakan yang penting ada hiburan. Tapi, di sekolah tertentu yang punya modal gede mah bisa aja datengin band terkenal (minimal terkenal di kota tersebut) untuk manggung di sekolahnya.

Sobat, sebenarnya setuju nggak sih ada pensi alias pentas seni di sekolahmu? “Gue sih setuju aja. Sebagai hiburan. Tapi jangan sampe ada kerusuhan,” tulis Andre.

“Perlu banget, tapi harus band lokal sekolahan. Soalnya kalo ngundang dari band terkenal, aku khawatir terjadi kerusuhan karena membludaknya penonton dari sekolah lain,” Lessya berpendapat.

Lain lagi dengan Rully, yang aktivis rohis katanya sih, “Aku nggak setuju. Sebab, pensi yang diadain sekarang ini lebih banyak mudharatnya. Kalo nasyid juga sebenarnya khawatir karena yang nonton tetep histeris juga. Jadi lebih baik nggak ada deh. Kalo mau ada pentas kreasi, mending lomba nulis atau lomba pidato deh,” Rully ngasih alasan.

Rima, yang ngakunya asal Medan saat ditodong sama gaulislam di YM pas chatting, komen begini: “Boleh aja pentas seni diadain di sekolah. Tapi harus steril dari maksiat, miras, campur baur cowok-cewek. Konser nasyid aja harus dipisah duduk cowok-ceweknya. Kalo nggak bisa dikondisikan begitu jangan diadain aja. Daripada dosa kan?” Rima dengan penuh semangat menulis. Hati-hati tuh jari tangan jadi keriting karena kecepatan ngetik di keyboard hehehe…

Pentas Seni, ajang unjuk kreasi?

Bro, setiap manusia tuh pengen tampil dan menampilkan keterampilannya. Itu wajar. Maklumlah, karena manusia nggak mau dirinya cuma dianggap sebagai bilangan aja, tapi juga ingin diperhitungkan. Iya dong, sebab manusia memang memiliki naluri mempertahankan diri (gharizah al-Baqa’) yang penampakkan or perwujudannya adalah dengan kecintaan kepada dirinya sendiri. Buktinya, kalo mo nyebrang jalan aja reflek tengok kanan-kiri. Takut juga kan kalo ketabrak mobil or sepeda motor? Begitu pula secara naluri kita pengen diakui dan dihargai oleh orang lain. Buktinya kalo dihina marah, dilecehkan ngambek, disindir kesinggung, dipuji bangga. Iya nggak?

Itu sebabnya, wajar pula kalo kita ingin dianggap lebih sama orang lain. Maka untuk unjuk gigi-meskipun tuh gigi udah gondrong bin surplus, rela melakukan aksi agar dilihat dan dianggap keberadaannya sama orang lain. Bikin pensi konon kabarnya bisa mendongkrak gengsi sekolah lho. Ada anggapan kalo sekolah udah bisa ngadain pensi dan berani ngundang band terkenal, minimal band lokal di kotanya tuh sekolah jadi naik derajat dan pangkat.

Apa benar seperti itu? Mungkin iya, mungkin juga nggak. Tergantung yang ngeliat sih. Kalo yang ngeliatnya adalah mereka yang setuju dengan pensi bisa jadi iya jawabannya. Kalo yang nggak setuju bisa jadi mengingkari anggapan tersebut.

Kalo dikatakan pensi adalah ajang untuk unjuk kreasi bisa dimaklumi. Memang begitu adanya. Cuma masalahnya, apa benar unjuk kreasi hanya dengan pentas seni? Apa benar menaikkan gengsi dan derajat nama sekolah bisa diangkat dari pensi? Nggak selalu kan? Apalagi sebagai muslim, kita nggak bisa dan nggak boleh melakukan perbuatan sebelum tahu hukumnya. Apalagi perbuatan yang sudah tahu hukumnya, harus hati-hati. Sebab, nggak bisa kita asal lakuin aja dengan pertimbangan asas manfaat. Sebagai muslim, bukan asas manfaat yang didahulukan, tapi apakah perbuatan tersebut diperbolehkan atau dilarang dalam ajaran Islam. Itu aja. Setuju?

Meski niatnya unjuk kreasi dan kreativitas diri tapi bukan berarti menghalalkan segala cara dong. Niat aja belum cukup kalo caranya nggak benar. Niat dan cara harus klop. Niat ibadah, maka caranya pun harus benar sesuai tuntunan Allah Swt. dan RasulNya. Nah, yang kacau banget adalah niatnya salah, caranya juga salah. Yo wis, itu mah wassalam.

Seni harus ngikutin syariat

Mohon diingat ya Bro, bukan syariat yang ngikutin seni, tapi seni yang wajib ngikutin syariat. Kalo syariat ngikutin seni, itu keliru. Nanti seni akan memaksakan supaya syariat ngasih legitimasi terhadap kebebasan seni. Syariat cuma pelengkap doang, atau stempel legalisasi adanya seni dan syariat nggak bisa ngatur lebih jauh soal seni. Sehingga akhirnya rancu en bias. Contoh, kalo band kepret alias qasidahan manggung, nggak terlalu dilarang meskipun penyanyinya tabarruj alias berlebihan dalam berhias, terus joget-joget dan pake kerudungnya juga roll-on alias bisa ditutup buka secara kilat. Waduh, itu udah salah kaprah deh, Sis. Nggak banget alias jangan sampe hal itu dilakukan sama seorang muslim sejati.

Nah, seharusnya seni yang mengikuti syariat. Jadi apa kata syariat. Harus taat sama aturan main syariat. Jangankan seni, seluruh aspek persoalan kehidupan wajib ngikutin apa kata syariat. BTW, apakah syariat Islam ngatur masalah seni?

Waduh, jangan sampe kamu ketinggalan informasi gara-gara malas mengkaji Islam. Banyak lho ulama yang ngebahas tentang seni. Islam memandang seni musik, seni suara, seni tari, seni lukis dan jenis lainnya harus diatur dan disesuaikan dengan ketentuan ajaran Islam. So, kudu ngikutin apa kata Islam, gitu.

Tentang nyanyian dan musik ini, Islam menilai empat pokok persoalan: 1) melantunkan nyanyian, 2) mendengarkan nyanyian, 3) memainkan alat musik, dan 4) mendengarkan musik. Selain itu, dalam Islam diatur pula kondisi ketika menyanyi, mendengarkan nyanyian, bermain musik dan mendengarkan musik supaya nggak kecampur dengan perbuatan maksiat.

Oya, soal musik ini, sebenarnya ada pendapat yang mengharamkan, dan ada pula yang menghalalkan. Nah, lho kok bisa? Nggak kompak banget. Hehe..gini nih penjelasannya. Pendapat yang mengharamkan nyanyian misalnya berdasarkan firman Allah dalam QS. Luqman ayat 6, artinya? “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.”(QS Luqman [31]: 6)

Beberapa ulama menafsirkan maksud lahwal hadits ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, di antaranya al-Hasan, al-Qurthubi, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah QS an-Najm : 59-61, dan QS al-Isra? : 64 (al-Jazairi, 1992 : 20-22).

Kemudian pendapat yang menghalalkan nyanyian adalah berdasarkan Firman Allah Swt. dalam QS al-Maidah [5] ayat 87; artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.”

Juga dalam riwayat Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra yang berkata; “Nabi saw. mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata; “Di antara kita ada Nabi saw. yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi saw. bersabda : “Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” (HR al-Bukhari, dalam Fathul Bari III:113 dari Aisyah ra.)

Ehm, mungkin kamu bengong karena ada beda pendapat. Nah, kalo terjadi ta’arud alias perbedaan yang bertolak belakang, antara halal dan haram padahal keduanya punya dalil yang kuat dari sumber yang sama, gimana?

Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa tidak dibenarkan dari Nabi saw. ada dua hadits shahih yang saling bertentangan, di mana salah satunya menafikan apa yang ditetapkan yang lainnya, kecuali dua hadits ini dapat dipahami salah satunya berupa hukum khusus sedang lainnya hukum umum, atau salah satunya global (ijmal) sedang lainnya adalah penjelasan (tafsir). Pertentangan hanya terjadi jika terjadi nasakh (penghapusan hukum), meskipun mujtahid belum menjumpai nasakh itu (asy-Syaukani, t.t. : 275)

Kesimpulan singkatnya, biar kamu nggak pusing-pusing dan mual-mual baca artikel ini, mengenai kedua dalil yang seolah bertentangan di atas dapat dipahami sebagai berikut: bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan hukum umum nyanyian. Sedang dalil yang membolehkan, menunjukkan hukum khusus, atau perkecualian (takhsis), yaitu bolehnya nyanyian pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertentu yang dibolehkan syara’, seperti pada hari raya. Atau dapat pula dipahami bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan keharaman nyanyian secara mutlak. Sedang dalil yang menghalalkan, menunjukkan bolehnya nyanyian secara muqayyad (ada batasan atau kriterianya) (al-Baghdadi, 1991 : 63-64; asy-Syuwaiki, t.t. : 102-103)

Jadi gimana? Boleh nyanyi asal: nyanyian yang mengajak ibadah, semangat perjuangan dan dakwah Islam. Tempat acaranya: nggak campur baur cowok-cewek, nggak ada miras, nggak ada maksiat lainnya. So, kalo ngadain pentas seni tapi masih jauh dari nilai-nilai ajaran Islam, itu namanya nabung dosa en udah basi. Sementara ini dulu ye. Terus semangat belajar Islam! [solihin: sholihin@gmx.net]

Film “Ayat-Ayat Cinta” Itu…

Pengantar RedaksiAssalaamu’alaikum wr. wb.

Film “Ayat-Ayat Cinta” jadi fenomena baru euy di jagat industri film nasional. Gimana nggak, film tersebut ditonton sekitar 3 juta orang hanya dalam waktu kurang dari sebulan. Kalo diukur dari prestasi minat penonton, mungkin saja itu angka statistik yang bisa dibanggakan. Meski demikian, pro-kontra terhadap film tersebut juga marak. Terutama dalam diskusi-diskusi di internet.

Ada yang protes karena isinya beda ama di novel, ada pula yang ngamuk-ngamuk di blog pribadinya gara-gara ada bagian yang tampaknya dihilangkan agar tak memicu polemik agama, ada juga yang melihatnya dari sisi fikih. Meski begitu, ada juga bagian film itu yang benar. Misalnya menolak pacaran, menyampaikan syariat poligami, menyampaikan kasih-sayang sesama manusia, membudayakan sabar dan ikhlas. Bagus juga sih. Meski demikian, kita tetap harus jeli, karena ajaran Islam tentu nggak sesederhana itu. Jika tujuannya menyampaikan dakwah dan mencerdaskan kaum muslimin, seharusnya bisa berani menyampaikan Islam apa adanya semuanya tanpa ditutup-tutupi demi menjaga toleransi. Tul nggak?

Boys and gals, sekadar ikut meramaikan diskusi yang sudah marak sebelumnya di internet, gaulislam sengaja angkat tema ini untuk membahas dari sisi lain yang jarang dibahas oleh mereka yang pro maupun kontra (ciee pede banget!). Semoga semangat cinta Islam bisa dilanjutkan dengan belajar Islam, bukan sebatas? nonton film islami aja. Setuju kan? ?So, baca aja edisi 023 ini.

Salam,

Redaksi

=====

logo-gi-3.jpg edisi 023/tahun I (23 Rabiul Awal 1429 H/31 Maret 2008)
Kayaknya bagi kamu yang stay tune mantengin berita seputar fenomena film Ayat-Ayat Cinta bakalan ngeh dengan kehebohan film tersebut. Maklum, banyak media nasional seperti kompakan menurunkan berita seputar kesuksesan film tersebut bagi industri film nasional. Bahkan, Wapres Jusuf Kalla aja sampe bela-belain nonton film Ayat-Ayat Cinta di bioskop membaur dengan penonton umum lainnya. Waduh, jarang-jarang nih ada film nasional yang sampe ditonton sama petinggi negara di bioskop.

Sekadar informasi aja, setelah dirilis resmi pada 28 Februari 2008 lalu, film garapan rumah produksi MD Pictures ini berhasil menorehkan sejarah sebagai film paling laris sepanjang masa. Baru empat hari diputar, Ayat-Ayat Cinta sudah membukukan jumlah 700.000 penonton. Jumlah penonton terus bertambah hingga tembus angka 2,9 juta hanya tiga minggu setelah beredar. Kini dapat dipastikan jumlah penonton sudah lebih dari tiga juta orang (SINDO, 23 Maret 2008)

Oya, angka itu hanya dihitung dari penonton yang nonton di bioskop, belum lagi yang nonton via VCD/DVD bajakan yang beredar luas. Kayaknya bisa lebih banyak lagi tuh. Wis, pokoke pol banget dah. Film yang diangkat dari novel karya Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman el-Shirazy ini memang diprediksi bakalan sukses. Maklum, bukunya aja udah tercetak sekitar 400.000 eksemplar. Belum lagi kalo dihitung dengan buku bajakannya bisa-bisa lebih dari itu. Maklum, para pembajak tahu betul buku (termasuk film) apa saja yang lagi laris di pasaran. Hehehe…

Meski demikian, sukses film Ayat-Ayat Cinta ini rupanya diiringi juga dengan pro-kontra. Banyak yang mendukung, tapi nggak sedikit pula yang protes keras. Mulai dari isi cerita di film beda jauh dengan isi di novelnya, bahkan ada perbedaan yang sangat fatal seperti tidak ditampilkannya di film padahal itu termasuk bagian penting dari isi novel.

Sebagian blogger yang memprotes film tersebut bahkan mempertanyakan masalah fikih (syariat) dalam film itu. Misalnya, boleh nggak sih adegan Fedi Nuril ama Rianti Cartwright di film itu? Gimana pun juga kan mereka bukan mahram. Belum lagi ada kesalahan penyebutan definisi ahlu dzimah yang keliru dan tidak pada tempatnya. Saya nggak tahu apa kutipan itu ada di bukunya juga apa nggak, jadi nggak bisa bedain. Tapi yang jelas dialog di film tersebut yang menyampaikan suatu istilah dengan keliru harus segera diluruskan.

Oya, film tersebut emang nggak semuanya memuat kesalahan, ada juga yang benarnya kok. Seperti syariat poligami, aturan ta’aruf, tentang sabar dan ikhlas, tapi semua itu jadi hambar gara-gara ada beberapa bagian yang terpenting malah dihilangan dalam film.

Memang sih, Hanung Bramantyo sebagai sutradara ngasih komen dengan maraknya protes terhadap karyanya tersebut, khususnya yang membandingkan dengan isi novelnya, “Harus dipisahkan antara novel dengan film, keduanya merupakan medium yang berbeda.” (SINDO, 23 Maret 2008)

Oke deh, terlepas dari pro dan kontra terhadap film Ayat-Ayat Cinta dari perbedaan antara isi cerita di novel dan film, tapi Ayat-Ayat Cinta juga perlu dikritisi. Terutama dari sisi penyampaian pesan Islam dan media penyampaian pesannya. Sebab, orang udah kadung ikutan heboh dengan tema “cinta” yang diusung dan “konflik emosi” yang bertaburan di film tersebut, jadi kurang kritis. So, tanpa maksud bikin suasana tambah ?runyam’, akhirnya gaulislam ikut ngebahas dari sisi lain agar menjadi perhatian kaum muslimin untuk bisa menempatkan persoalan dengan benar.

Tak berani suarakan Islam

Boys and gals, ada satu adegan yang dipotong di film tersebut yang beda jauh alias bertolak-belakang dengan cerita di novelnya. Demi mengedepankan sisi toleransi, Hanung memang mencoba menghilangkan beberapa adegan yang sekiranya memicu polemik. “Adegan seperti wartawan Amerika bernama Alice dan Maria seorang Kristen Koptik yang akhirnya masuk Islam, itu saya hilangkan, karena saya tidak ingin film ini men-judge orang untuk masuk Islam,” katanya (SINDO, 23 Maret 2008)

Lha. Piye iki? Untuk kasus ini, selain mengecewakan bin mengkhianati para pembaca novel tersebut, juga film ini menjadi kendaraan untuk membohongi publik. Bukan hanya karena beda dengan cerita di novelnya, tapi makna toleransi pun udah salah kaprah. Seharusnya kita berpikir, bahwa saat ini orang nggak mudah (meski ada juga yang gampang terpengaruh) untuk percaya begitu saja dengan isi film, jadi kekhawatiran akan menimbulkan polemik jutsru berlebihan. Sebab, sejatinya polemik itu bisa saja terjadi. Bandingkan dengan buku dan film The Da Vinci Code yang konon kabarnya bisa mengguncang iman kaum kristiani karena isinya yang bisa menggoyahkan keyakinan akidah mereka. Tapi, show must be go on. Pembaca dan penonton yang akan menilainya langsung. Bisa pro bisa juga kontra. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan bukan?

Tapi kalo belum apa-apa sudah tidak berani menyuarakan kebenaran Islam, apa yang mau dibanggakan? Prestasi penonton yang mencapai 3 juta orang lebih tak berarti apa-apa-kecuali keuntungan secara materi dan ketenaran-jika isinya meracuni keyakinan dan akidah kaum muslimin itu sendiri. Itulah kenapa kita sangat menyayangkan isi film ini. Saya juga nggak tahu kenapa penulis novelnya mau saja ceritanya diubah ketika difilmkan. Apa pun alasannya, menurut saya, dalam pandangan ajaran Islam, hal itu adalah sebuah kelalaian yang bisa berakibat fatal bagi pemahaman kaum muslimin. Allahu’alam.

Bandingkan dengan film-film Hollywood yang seringkali menyisipkan dialog yang menyudutkan Islam seperti di film Die Hard 4.0, Shooter, Eraser dan lainnya yang secara terang-terangan berani menyebut kaum muslimin sebagai teroris. Pertanyaannya, mengapa kita nggak berani menyampaikan kebenaran itu? Mengapa adegan penting seperti masuk Islamnya dua tokoh dalam film tersebut dihilangkan dengan alasan toleransi?

Sekadar mengingatkan bahwa toleransi tidaklah berarti mengakui kebenaran agama mereka, tapi mengakui keberadaan agama mereka dalam realitas bermasyarakat. Trus, toleransi juga bukan berarti kompromi atau bersifat sinkretisme dalam keyakinan dan ibadah. Oya, sinkretisme adalah menyamakan bahwa semua agama tuh benar. Padahal, kita tak boleh sama sekali ngikuti agama dan ibadah mereka dengan alasan apapun (Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Kuliah Akhlaq, hlm 210)

Lagian sikap kita udah jelas kok seperti yang udah diajarin Allah Swt. dalam firmanNya: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (QS al-Kaafiruun [109]: 6)

So, menurut saya, justru dengan menghilangkan adegan penting masuk Islamnya Maria dan Alice di film itu sudah tidak menghargai karya penulis novelnya, juga seluruh kaum muslimin karena hak mereka untuk mendapatkan informasi yang benar dan pemahaman yang shahih ?dirampok’ oleh pembuat film tersebut.

Belum lagi adegan di sebuah kendaraan umum yang menggambarkan dialog antara Fahri dengan seorang penumpang yang ngotot tidak membolehkan orang kafir Amerika untuk diberikan tempat duduk. Fahri digambarkan menyampaikan pernyataan tentang ahlu dzimah tetapi keliru dan bukan pada tempatnya. Pada dialog itu disebutkan:”Orang asing yang masuk ke dalam sebuah negara secara sah berarti ia seorang ahlu dzimah yang harus dilindungi keselamatan dan kehormatannya.”

Padahal yang dimaksud ahlu dzimah (kafir dzimmy) adalah orang non-Muslim yang menjadi warga negara, yang hidup bersama mereka (kaum Muslim) di Negara Islam (Daulah Khilafah, pen.), membayar jizyah dan taat kepada hukum-hukum Islam, kecuali yang menyangkut praktik hukum yang diakui untuk mereka, seperti hukum-hukum tentang akidah, ibadah, nikah, talak, makanan (minum) dan pakaian. (Imam asy-Syafi’i, al-Umm, juz IV, hlm. 213-dikutip pada buku Jihad dan Perang, jilid I, karya Dr. Muhammad Khair Haekal, hlm. 218)

Sabda Rasulullah saw.:“Barangsiapa yang membunuh seorang (kafir) yang sedang terikat perjanjian (mu’ahadah) yang telah mendapat perlindungan dari Allah dan RasulNya (dzimmiy), maka ia telah melanggar perlindungan Allah-yakni mengkhianati perjanjian-dan dia tidak akan mencium baunya surga, meskipun bau surga itu tercium dari jarak sejauh perjalanan yang lamanya 40 musim gugur.”

Selain itu Ali bin Abi Thalib ra pernah mengatakan, “Sesungguhnya, hanya dengan membayar jizyah, maka harta mereka berstatus sama seperti harta kita dan darah mereka sama seperti darah kita.” (Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 211)

Persoalannya, Mesir–yang menjadi setting tempat dalam novel dan film itu–bukan negara Islam. Mesir tuh negara sekular, sama dengan Indonesia dan negeri Islam lainnya karena udah menerapkan sistem Kapitalisme-Demokrasi dari Barat. Lagian, sampai saat ini, sejak keruntuhan Khilafah Islamiyah pada 3 Maret 1924 belum berdiri lagi Khilafah Islamiyah (Negara Islam), jadi penyebutan istilah ahlu dzimmah di film tersebut jelas keliru banget dan nggak pada tempatnya.

Oya, ini bukan kritikan, tapi masukan tanda peduli dan cinta kepada kaum muslimin. Jangan sampe isi film ini kemudian mempengaruhi dengan mudah–meski saya akui tak mudah orang untuk terpengaruh begitu saja. Apalagi jika isinya ternyata mengaburkan pemahaman Islam itu sendiri. Jangan sampe kemudian film ini dijadikan senjata untuk melemahkan pemahaman kaum muslimin secara perlahan-lahan. Masih mending dituduh teroris sehingga masih bisa berontak dan menolak. Lha, kalo ?dibodohi’, sulit orang bisa berontak kecuali mereka yang sadar dan mengedepankan pemahaman, bukan perasaan belaka.

Saatnya kampanyekan Islam apa adanya

Jangan menutupi kebenaran Islam, apalagi sampe menyimpangkan ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah demi mendapat respon positif dan atas nama dakwah yang katanya secara damai itu. Padahal sejatinya bukan tak mungkin malah menikam Islam itu sendiri karena penyampaiannya yang keliru.

So, meski mungkin tulisan ini tak akan banyak terbaca karena disapu gelombang informasi ?sepihak’ tentang fenomena film ini, tapi paling nggak kamu yang baca harus mulai berlatih menjadi cerdas dengan menjadikan Islam sebagai pandangan dan pedoman hidup. Tentu, agar tetap mampu menyampaikan Islam apa adanya. Jangan beralasan atas nama dakwah, tapi tindakannya malah menghilangkan bagian yang semestinya disampaikan sebagai dakwah seperti dalam film Ayat-Ayat Cinta ini. Apalagi kalo harus ngomongin aktivitas pemainnya, gimanapun Fedi Nuril ama Rianti Cartwright bukan mahram dalam kehidupan nyata, kok bisa mesraan gitu di film? Apa karena atas nama dakwah? Halah, dakwah kok jadi hiburan dan tambang uang para kapitalis. Musibah… [osolihin: sholihin@gmx.net]

‘Bisik-bisik’ Soal Cewek

Add to Technorati Favorites

logo-gi-3.jpg edisi 021/tahun I (9 Rabiul Awal 1429 H/17 Maret 2008)

Biasanya kamu-kamu pada familiar dengan istilah cewek daripada perempuan. Tul apa betul? Tapi kali ini kita akan membahas sesuatu agak lebih serius, ehem…tapi tetap dengan gaya bahasa yang kamu paham. Kita akan membahas soal perempuan bukan tentang cewek. Lha, apa bedanya? Kalo menurut saya sih, yang namanya cewek, wanita, putri, perempuan, women, itu sama saja. Tapi kalo menurut orang-orang tertentu, pemilihan kata ini bisa jadi masalah.

Kalau ?cewek’ adalah pilihan kata yang cenderung dipakai oleh remaja-remaja seusia kamu. Kalau putri, itu adalah penghalusan aja supaya terdengar lebih sopan. Kalo woman, jelas-jelas ini bahasa Inggris. Tapi kalo wanita, beberapa pihak terutama kaum feminis ogah memakainya. Why? Karena kosakata wanita itu berasal dari bahasa Jawa yang artinya wani ditata (mau atau berani ditata). Hal ini dianggap oleh mereka yang menyatakan dirinya pejuang perempuan, adalah menghinakan karena menganggap perempuan sebagai objek saja yang bisa ?dikerjai’.

Itulah alasan mengapa mereka lebih memilih istilah perempuan karena mengandung makna ?empu’ yaitu artinya bijak atau berilmu pengetahuan. Halah, sampe segitunya ya? Emang sih, bila udah berkaitan dengan perempuan, kaum feminis ini bisa sangat segitunya. Bahkan isi kitab suci-dalam hal ini al-Quran-juga sangat segitunya untuk digugat dan dipertanyakan bila berkaitan dengan kepentingan perempuan. Ciloko!

Oya, kali ini kita mo ngobrolin tentang Hari Perempuan yang lumayan menyita perhatian baik di TV ataupun di surat kabar. Meski udah berlalu, nggak ada salahnya dong kita membahasnya. Sebagai bekal kamu agar bijak menyikapinya bila hari perempuan ini datang lagi tahun depan, oke?

Hari Perempuan, asal-muasalnya?

Pasti kamu semua pada bertanya-tanya tentang Hari Perempuan sedunia ini. Sebelumnya, yuk kita tengok asal-muasal Hari Perempuan sedunia yang jatuh pada tanggal 8 Maret lalu itu.

Menurut Wikipedia, hari perempuan yang diperingati setiap tanggal 8 Maret itu adalah sebuah perayaan yang memperingati kebakaran Pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada 1911 yang mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya.

Gagasan tentang perayaan ini pertama kali dikemukakan pada saat memasuki abad ke-20 di tengah gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menyebabkan timbulnya protes-protes mengenai kondisi kerja. Kaum perempuan dari pabrik pakaian dan tekstil mengadakan protes pada 8 Maret 1857 di New York City. Para buruh garmen memprotes apa yang mereka rasakan sebagai kondisi kerja yang sangat buruk dan tingkat gaji yang rendah. Para pengunjuk rasa diserang dan dibubarkan oleh polisi. Kaum perempuan ini membentuk serikat buruh mereka pada bulan yang sama dua tahun kemudian.

Di Barat, Hari Perempuan Internasional dirayakan sekitar tahun 1910-an dan 1920-an, tetapi kemudian menghilang. Perayaan ini dihidupkan kembali dengan bangkitnya feminisme pada tahun 1960-an. Pada tahun 1975, PBB mulai mensponsori Hari Perempuan Internasional. (www.wikipedia.org)

Hari Perempuan ini juga merupakan penanda perjuangan kaum perempuan agar haknya diakui baik dalam peran sertanya berkiprah di masyarakat maupun dalam pemilu. Soalnya kan, di zaman-zaman sebelumnya, kondisi dan nasib perempuan memang sangat memprihatinkan. Wajar aja kalo mereka ini butuh hari perempuan untuk memperingati perjuangannya. Nah, di era kekinian, gimana sih bentuk nyata perjuangan kaum perempuan ini?

Perempuan di masa kini, menjadi komoditi yang sedang laris-manis untuk dibicarakan. Ibarat orang jualan produk tertentu, tema tentang perempuan selalu laku untuk dijual. Orang akan segera menoleh dan menanggapi dengan antusias kalo udah ngomongin soal perempuan.

Fakta bahwa perempuan banyak menderita di sekitar kita, emang nggak bisa dihindari. Mulai dari kebodohan, kemiskinan, kekerasan rumah tangga hingga pelecehan seksual dan pembunuhan, perempuan selalu jadi korban. Atas dasar inilah muncul sekelompok orang yang berdalih ingin memperjuangkan kaum perempuan. Mereka inilah yang menyebut dirinya sebagai kaum feminis yang memegang erat paham feminisme.

Eh, asal-muasal feminisme nggak jauh-jauh banget dari munculnya hari perempuan sedunia. Insya Allah next time, kita akan ngobrolin hal ini juga. Sekarang kita lebih fokus ke hari perempuan aja ya.

Perempuan dan harapan

Kebalikan dari kenyataan di atas yang menimpa perempuan, ada sebuah harapan terukir ketika kita membicarakan sosok lembut yang satu ini. Perempuan cerdas itu harus. Bila ia cerdas, maka ia nggak akan menjadi miskin. Bila ia tak miskin, maka ia tak mudah dipancing untuk melakukan pekerjaan yang haram semisal jadi penari, penyanyi atau bahkan jual diri, hiii…naudzhubillah. Bila perempuan pintar, maka ia nggak akan menjadi objek kekerasan dalam rumah tangga. Ia nggak akan mudah dilecehkan karena perempuan cerdas akan tahu membawa dirinya dengan berwibawa dan elegan. Betulkah seperti itu?

Kenyataannya banyak perempuan yang menganggap dirinya pintar malah rumah tangganya kacau. Karena pintarnya, ia berkiprah sangat aktif di luar rumah. Ia hadir dari satu seminar ke seminar lain. Ia memberi ceramah dan penyuluhan dimana-mana. Ia mendirikan lembaga perlindungan perempuan. Ia bergaji besar dan tak pernah mengalami kemiskinan dan kekerasan. Namun, pernahkah kita tengok kondisi keluarga dan anak-anaknya? Si anak belum bangun, si ibu sudah pergi. Si anak sudah tidur, si ibu baru pulang. Begitu terus. Berulang-ulang.

Apakah salah menjadi perempuan aktif di luar rumah? Bukan itu masalahnya. Kecerdasan dan kepandaian saja ternyata tak mampu memberi kenyataan sesuai dengan harapan. Perempuan cerdas tanpa mempunyai pemahaman Islam yang benar, hanya menjadi mangsa perusahaan-perusahaan kapitalis. Mereka duduk manis sebagai customer service, marketing, bendahara dan sebagainya. Perempuan adalah salah satu mesin uang dengan memanfaatkan kecantikan dan kelembutannya untuk menggaet konsumen.

Perempuan pintar yang masih mengalami pelecehan seksual di jalan atau di tempat kerja juga sangat banyak. Meski tak sampai sentuhan fisik, kata-kata yang merendahkan juga termasuk ke dalam pelecehan ini. Lalu apa yang salah dengan semua ini?

Bukan hanya tentang perempuan

Bila perempuan mau cerdas, permasalahan yang ada saat ini tidak melulu tentang perempuan aja. Harga sembako yang mahal, minyak goreng semakin melambung harganya, minyak tanah menghilang di pasaran, pendidikan tak terjangkau, ekonomi amburadul, pengangguran meningkat, kriminalitas merajalela, apakah cuma perempuan yang susah?

Bapak-bapak kita susah, adik dan abang kita juga susah. Tetangga, Pak RT, Pak RW, Pak ustadz, dan kaum laki-laki pasti juga susah dengan kondisi ini. Pelecehan seksual bukan melulu ?milik’ perempuan tapi laki-laki juga bisa terkena kondisi ini. Jadi sebagai perempuan jangan GR dulu dengan merasa bahwa dunia sangat tidak adil terhadapnya. Coba kita lepas kacamata kuda akibat pengaruh feminisme ini, untuk mulai terbuka melihat bahwa ini semua terjadi akibat syariah Islam dicampakkan.

Ketika kita mengabaikan hukum Allah, yakinlah bahwa janji Allah untuk memberi kesempitan pada kehidupan pasti akan terbukti. Sekarang ini faktanya. Semua pada mentok untuk mencari jalan keluar dari rumitnya masalah kehidupan. Ingat, ini masalah semua orang, masalah kemanusiaan secara umum, bukan melulu tentang perempuan. Bila demikian kondisinya, maka marilah bertanya resepnya kepada Yang Mahamenciptakan manusia dan kemanusiaan itu sendiri, yaitu Allah Swt., gitu gals! Paham kan?

Back to Islam, Non!

Bila ada sebuah rumah yang udah sangat parah kondisinya dan hampir roboh, akankah kita betulkan satu per satu batu-batanya? Mungkin bisa, tapi hal itu sangat-sangat nggak efektif dan nggak efisien. Bila ada rumah mudah goyah dan rapuh, lihatlah pondasinya. Ternyata pondasi ini dulu yang harus dibenarkan dan dikuatkan.

Begitu juga dengan masalah perempuan. Nasib perempuan tak akan pernah berubah bila pondasi yang dipakai masih sekularisme. Solusi yang ditawarkan juga masih berbau feminisme bawaan kapitalisme. Perjuangan yang dilakukan perempuan ibarat jalan di tempat aja. Sudah capek, tapi tak ada hasilnya sama sekali. Boro-boro pahala, malah laknat Allah yang bakal menimpa bila kaum perempuan menganggap bahwa syariat Islam itu hanya untuk jaman kuno atau malah menolak sama sekali. Ati-ati!

Bila perempuan nonmuslim berjuang atas nama feminisme, kita masih bisa maklum. Mereka tak punya mabda (ideologi) yang mumpuni untuk menyelesaikan masalah kehidupan. Tapi bila ada seorang muslimah yang mengambil solusi selain dari Islam, kita patut bertanya-tanya. Apakah memang tidak paham, ataukah memang sengaja ingin menghancurkan Islam dari dalam? Betul nggak sih?

Saat ini yang menjadi tren adalah mengajak para muslimah untuk berjuang atas nama perempuan dengan dasar ide feminisme. Langkah inilah yang paling jitu untuk membuat muslimah semakin jauh dari pemahaman Islam yang benar. Pertanyaannya, apa iya kita masih juga terlena dengan solusi yang jelas-jelas makin menjauhkan kita dari Islam?

Islam dengan seluruh aturan hidup yang lengkap, memberi rambu-rambu bagi perempuan dan manusia seluruhnya untuk berbuat, bersikap dan beramal. Bila perempuan nonmuslim berjuang hanya sekadar untuk bisa ikut dalam pemilu di abad 19, Islam udah memberi hak itu sejak awal turunnya yaitu sekitar abad 6. Bila mereka protes untuk banyaknya pelecehan seksual pada diri perempuan, muslimah sudah dilindungi mulai dari cara berpakaiannya hingga harga dirinya. Masih ingat kan sejarah indah tentang bagaimana Khalifah al-Mu’tashim mengerahkan beribu-ribu pasukan ?hanya’ untuk membela kehormatan satu orang muslimah saja?

Nggak ada kemuliaan kecuali dengan Islam. Namun, Islam nggak ada artinya bila dijauhkan dari kehidupan. Maka ayo kita serukan Back to Islam, buang semua yang merusak Islam termasuk ide feminisme, kapitalisme, sosialisme dan semua isme yang batil itu. Hal ini hanya bisa terwujud bila Islam diterapkan dengan sempurna bukan hanya dalam akidah saja tapi juga syariahnya oleh institusi negara.

Gimana caranya? Langkah praktis, ayo ngaji, biar kamu jadi muslimah yang nggak kupeng (kurang pengetahuan). Biar kamu nggak jadi muslimah yang gampang tergiur ide feminisme yang seolah-olah memihak perempuan, padahal mencelakakan. Biar kamu nggak mudah dibodohi dan dikadalin. Karena sesungguhnya hanya Islam yang peduli dengan nasib perempuan dan umat manusia seluruhnya. Kita nggak butuh dengan semua isme (paham) selain Islam. Ayo perempuan (termasuk cewek ya), kita berjuang dengan dasar Islam saja, bukan yang lain. Jangan mau dijajah dan disiksa oleh gaya hidup selain Islam. Kamu, para cewek–para perempuan, hanya bisa mulia bersama Islam. Akur? So pasti dong! [ria: riafariana@yahoo.com]

Jangan Jadi “Negara Porno”

Add to Technorati Favorites

logo-gi-3.jpgedisi 024/tahun I (30 Rabiul Awal 1429 H/7 April 2008)
Ehm, jangan marah atau gondok duluan ya baca judul artikel gaulislam kali ini. Bukan maksud mo menjelek-jelekkan (backsound: karena udah jelek), tapi ini sebagai warning dan renungan aja buat kita semua. Gimana nggak, dari tahun jebot ampe sekarang, masalah pornografi dan perbuatan porno selalu hadir di tengah masyarakat kita. Di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani.

Bro, konten bernuansa pornografi sebenarnya udah tersebar banyak di media. Baik di media cetak maupun media elektronik. Oya, termasuk dalam hal ini adalah di internet yang kini lagi marak dibahas. Setelah lima tahun digodok, Rancangan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (RUU ITE) resmi disahkan dalam rapat paripurna DPR di Jakarta, Selasa (25/3/2008). Dengan adanya UU ini juga diharapkan dapat menjadi dasar bagi penerapan hukum di dunia maya di Indonesia. Situs porno atau pornografi di internet akan diblokir atau paling tidak kini diatur UU. Salah satu pasal yang dianggap krusial dalam UU ITE adalah diblokirnya situs-situs porno baik dari dalam maupun luar negeri.

Oya, kalo mo dijembrengin semuanya sih banyak banget, termasuk dalam kehidupan nyata kita, pornografi dan aktivitas yang dibalut porno sangat mudah dijumpai dan bahkan pelakunya sangat banyak. Nah, karena saking banyaknya dan dilakukan oleh hampir seluruh penduduk negeri, maka nggak heran dong kalo negeri ini dapetin sebutan negara porno. Gitu deh alasan kenapa nulis artikel ini dengan judul seperti di atas. Betul nggak sih?

Bagi yang nggak setuju jangan marah, dan yang setuju juga jangan seneng dulu. Karena sebenarnya ini adalah prestasi yang buruk. Sama buruknya dengan gelar “negeri terkorup se-Asia”, misalnya. So, tulisan ini sekadar buat ngingetin aja, buat ngajak merenung, sekaligus nyari solusi tuntas dari masalah yang dihadapi sekarang, khususnya tentang pornografi.

Mental porno!

Hehehe.. jangan ngambek dan cemberut kalo baca subjudul ini. Bukan maksud nuduh atau menghakimi. Tapi emang kenyataannya demikian. Mereka yang nggak punya mental porno, ketika mengembangkan kreativitas dia akan melakukan apa pun yang bernilai manfaat dan useful alias berguna bagi siapa pun.

Sebaliknya, bagi mereka yang punya mental porno–piktor gitu deh, maka kreativitasnya nggak jauh dari mentalnya itu. Bikin majalah, eh majalah bertabur pornografi. Bikin blog di internet, isinya pornografi. Ketika mengelola website, ya isinya nggak jauh dari situ. Kalo dia ngomong? Ya, pembicaraannya menjurus ke wilayah porno dan pornografi.

So, kalo udah jadi cara pandang dan kaidah berpikir, maka pelakunya akan melakukan apa yang memang menjadi pemahamannya. Gimana pun juga, tingkah laku orang itu bergantung kepada pemahamannya. Kalo memahami bahwa pornografi itu adalah seni, dan seni adalah ekspresi yang tidak boleh dikekang dan dibatasi, maka ia akan mewujudkannya dalam perbuatannya. Begitu pula kalo memahami bahwa bertaburannya konten pornografi di internet adalah bagian dari freedom of speech dan kebebasan berkreasi, maka dia akan mati-matian melakukannya en merasa nggak boleh ada pihak manapun-termasuk negara- yang melarang kreativitasnya tersebut.

Bayangin aja deh, kalo yang model begini jumlahnya banyak dan menguasai media informasi. Bisa bikin berabe. Mereka bukan saja melek teknologi, tapi juga melek terhadap peluang yang memungkinkan untuk melakukan kemaksiatan termasuk kejahatan. Padahal nih, gaul dengan teknologi nggak mesti error. Justru sebaliknya, gaul soal teknologi untuk memberantas kemungkaran dan menegakkan kebenaran dengan memanfaatkan teknologi.

Definisi pornografi

Yup, definisi emang penting banget, itu sebabnya Ibnu Sina pernah berkomentar: “Tanpa definisi, kita tak akan pernah bisa sampai kepada konsep.” Karena itu, definisi, menurut filsuf Iran itu, sama pentingnya dengan silogisme (baca: logika berpikir yang benar) bagi setiap proposisi (dalil atau pernyataan) yang kita buat.

Oya, definisi yang jelas bakalan menolong kita untuk menentukan keputusan dan penilaian. Nggak ragu en nggak bingung. Nggak kayak sekarang nih, menentukan definisinya aja sesuai persepsi masing-masing orang. Karuan aja hasilnya beragam. Ada yang bilang kalo berpose telanjang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya baru dibilang pornografi, ada juga yang bilang kalo masih mengenakan busana, meski kayak kekurangan bahan (terlihat auratnya) belum masuk definisi pornografi. Malah nih, kalo sesuai budaya ketimuran, belum dianggap porno. Misalnya kalo di Jawa pake kemben atau di Papua dengan kotekanya. Waduh, makin bingung aja tuh definisi pornografi.

Itu sebabnya, paling nggak kudu buka kamus nih. Biar bisa dapetin gambaran. Seperti disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks.

Dalam Microsoft Encarta Dictionary Tools, pornografi didefinisikan sebagai sexually explicit material: films, magazines, writings, photographs, or other materials that are sexually explicit and intended to cause sexual arousal. Tuh jelas banget kan, bahwa pornografi tuh adalah penggambaran secara tegas tentang seksual; bisa dalam film, majalah, tulisan, foto dan bahan lainnya yang bermaksud menimbulkan rangsangan seksual.

Oya, pornografi tuh nggak ada hubungannya dengan kebebasan berekspresi dan seni. Karena sejatinya, estetika (seni) tetap harus berdampingan dengan etika.

Bagaimana dengan Islam? Sebagai Muslim, tentu kita wajib menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita. Terus, nggak boleh juga kita setengah-setengah dalam mengamalkan Islam. Nggak boleh juga ada pilihan lain untuk ngatur urusan kehidupan kita dengan aturan selain Islam. Jadi intinya, apa kata Islam deh. Kita wajib taat kepada ketentuan Allah dan RasulNya dan harus secara menyeluruh (kaaffah). Allah Swt. Befirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 208)

Dalam? menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: “Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi sistem keyakinan Islam (?akidah) dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.”

Guys, Islam juga udah mengatur tentang aurat. Itu sudah cukup untuk memberikan definisi tentang pornografi atau pornoaksi. Batasan aurat ini memungkinkan kita untuk bisa menentukan apakah suatu perilaku, gambar, atau gaya berpakaian seseorang termasuk memamerkan aurat atau nggak ke khalayak umum.Oya, aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya (Ahkaamul Quran al-Jashash III/318).

Kalo anak laki, yang termasuk wilayah auratnya adalah dari pusar ampe lutut. Itu batasan auratnya. Jadi nih, kalo ada anak cowok pake koteka dan dipamerin di depan orang banyak, jelas termasuk membuka auratnya. Itu sudah terkategori bentuk pornoaksi. Begitu pun kalo ada anak cewek pake kemben (salah satu pakaian adat Jawa), dan dipake di depan umum, maka sudah terkategori pamer aurat (itu masuk pornoaksi). Membuka aurat di depan umum dalam pandangan Islam terkategori dosa. Nah, ini jelas kan definisinya.

Itu sebabnya, kayaknya ampir semua media massa yang ada saat ini bakalan dicap sebagai media massa penyebar pornografi kalo pake definisi Islam. Dan, seharusnya memang standar itulah yang dipake oleh setiap Muslim ketika menilai suatu fakta berupa perbuatan maupun pemikiran. Catet yo!

?Mengeksekusi’ pornografi

Kalo dibiarin aja nggak bakalan selesai-selesai. Lihat aja penanganan yang selama ini dilakukan oleh negeri ini, yang menganut ideologi Kapitalisme-Sekularisme, malah menjadikan kebebasan sebagai the way of life. Ideologi macam apa itu? Kok malah bikin rusak kepribadian umat manusia?

Sobat, sebagai sebuah ideologi, Islam punya cara penyelesaian terhadap masalah ini. Tentu, jika Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Menurut Abdurrahman al-Maliki, “Barangsiapa yang mencetak atau menjual, atau menyimpan dengan maksud untuk dijual atau disebarluaskan, atau menawarkan benda-benda perhiasan yang dicetak atau ditulis dengan tangan, atau foto-foto serta gambar-gambar porno, atau benda-benda lain yang dapat menyebabkan kerusakan akhlak, maka pelakunya akan dikenakan sanksi penjara sampai 6 bulan.” (Sistem Sanksi dalam Islam, hlm. 288-289)

Oya, hukuman tersebut termasuk dalam perkara ta’zir alias jenis dan bentuk hukumannya diserahkan kepada qadhi (hakim). Kalo emang tingkat bahayanya besar banget, bisa aja qadhi menghukum lebih lama atau bentuk hukuman lain, misalnya dicambuk.

Bro, untuk memelihara diri dan membebaskan diri dari jeratan pornografi secara teknis, coba deh lakukan mulai dari diri sendiri dan orang-orang terdekat kita: temen, keluarga. Tentu kita nggak mau kan diri dan lingkungan kita rusak karena racun pornografi. Percaya deh, pornografi nggak ada gunanya. Nggak perlu tuh ngintip-ngintip penasaran sama yang namanya pornografi. Jangan sampe kita berkoar-koar tentang pornografi tapi kalo nemu di depan mata diembat juga. Naudzubillah!

Kapan dan di mana pun kita menemukan media yang berbau pornografi, jangan ragu-ragu untuk menghancurkannya. Jaga diri, jaga keluarga, dan teman-teman. Saling mengawasi dan mengingatkan bukan berarti ikut campur urusan orang lho, tapi kita menjaga diri dan lingkungan untuk menghindari kerusakan dan maksiat. Ok, guys?

BTW, kalo nanti Islam udah diterapkan sebagai ideologi negara, mereka yang ada di pedalaman seperti di Papua dan suku dayak lainnya, nggak bakalan dijadikan sebagai obyek wisata. Nggak kayak sekarang, mereka dianggap sebagai warisan budaya bangsa. Itu dzalim, karena seharusnya pemerintah memberikan pembinaan dan mendakwahi mereka agar mau hidup lebih mulia. Tapi nyatanya, malah dipelihara agar tetap jahiliyah seperti itu. Kasihan banget kan?

Terus nih, nggak kayak sekarang, pemerintah hendak menerapkan pemblokiran situs-situs porno aja masih banyak yang menolak dengan alasan melanggar prinsip demokrasi itu sendiri yang memang memberikan kebebasan tanpa batas kepada siapa pun. Halah, hari gene masih memuja dan membela demokrasi? Padahal, sistem ini udah ketahuan lemot, bobrok, dan membahayakan manusia.

Oke deh, kalo nggak mau negeri ini jadi negara porno, maka mulai sekarang jauhkan demokrasi-sekulerisme-kapitalisme dan antek-anteknya dari pikiran kita. Sebaliknya, kita wajib cinta Islam, pelajari Islam, dan kampanyekan agar Islam diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Insya Allah akan berkah dan menyelamatkan seluruh umat manusia. Bukan hanya kaum muslimin. Percayalah! [osolihin: sholihin@gmx.net]

AKSI SEJUTA UMAT - NEVER GIVE UP TO BURN AHMADIYAH!!!

Category:Other
UNDANGAN TERBUKA UNTUK UMUM

AHMADIYAH TETAP TIDAK BERUBAH.
Mereka tetap pada keyakinannya kepada Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi dan Tadzkirah sebagai kitab suci mereka. Karena itu, tepat 3 bulan setelah proses pemantauan oleh pemerintah terhadap pelaksanaan 12 kesepakatan antara PB Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dengan pemerintah, Forum Umat Islam (FUI) mengajak seluruh umat muslim untuk mengikuti:

APEL SIAGA
SEJUTA UMAT ISLAM UNTUK BUBARKAN AHMADIYAH

Ahad, 20 April 2008 / 13 Rabiuts Tsani 1429 H
Pukul : 08.00 – 12.00 WIB
Start Masjid Istiqlal
Longmarch ke Depan Istana Negara
Jl. Merdeka Utara Jakarta Pusat

Orasi tokoh:
KH.A. CHOLIL RIDWAN (MUI)
KH. ABU BAKAR BA’ASYIR (MMI)
HABIB RIZIEQ SHIHAB (FPI)
KH. ABDUL RASYID AS (Asy Syafi’iah)
H.MASHADI (FUI)
DAN TOKOH-TOKO ISLAM LAINNYA

kiriman : El Jundi - Hambos Community

http://thufailalghifari.multiply.com/reviews/item/10

Mencari “Idola Cilik” Sejati

logo-gi-3.jpg edisi 025/tahun I (7 Rabiul Akhir 1429 H/14 April 2008)

Setelah kontes idol-idol remaja yang pamornya semakin tergusur karena satu dan lain hal, Idola Cilik muncul memberi warna baru pada tayangan TV Indonesia. Dengan peserta anak-anak usia 7 - 12 tahun, pihak stasiun TV, dalam hal ini RCTI, berusaha menjaring potensi olah vokal adik-adik kita. Tak terhitung banyaknya calon peserta yang mendaftar untuk audisi, berharap terpilih agar bisa tampil di panggung pertunjukkan di Jakarta.

Boys and Gals, menjadi terkenal dan banyak uang adalah jawaban seragam yang diberikan oleh adik-adik kita yang begitu bernafsu mengikuti audisi (mungkin juga atas desakan dan dukungan ortunya). Jika ini yang dituju, maka rusaklah generasi mendatang.

Adik-adik lugu, tapi…

Usia yang dibidik pihak produser adalah usia dini yang masih sangat labil. Usia yang masih hijau untuk mengerti sebuah makna idola dan diidolakan. Pada usia ini anak-anak cenderung pasrah akan dibentuk menjadi apa dan siapa oleh orangtua dan lingkungannya.

Anak-anak adalah kertas putih yang polos dan bersih. Ia akan mudah sekali ?ditulisi’ oleh sesuatu: bisa baik dan buruk. Ia akan menerima apa saja yang diberikan oleh orang lain terhadap dirinya. Daya tolak mereka lemah sekali.

Anak-anak ini mudah sekali menjadi korban hasrat orangtua yang terpendam. Bila orangtuanya tidak bisa menjadi terkenal, maka anaknya saja yang dipersiapkan menjadi selebritis. Bila orangtuanya tidak bisa bernyanyi, maka anaknya saja yang diikutkan les menyanyi dan ikut lomba ini dan itu agar menang dan terkenal. Syukur-syukur ada produser yang tertarik untuk mengajak rekaman. Lebih hoki lagi bila ada pencari bakat yang mengajak anaknya main sinetron. Wuih…pundi-pundi uang orangtuanya bisa dipastikan akan penuh sesak tuh.

Lucunya, saat ada orang yang peduli dan prihatin dengan kondisi ini, malah dengan entengnya orangtua si anak yang sudah silau dengan uang menjawab, “Ah, itu kan pendapat orang-orang yang iri dengan popularitas anak saya. Itu karena anaknya tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi kaya dan terkenal.”

Orangtua seperti ini tak lagi memikirkan kebutuhan anak. Kebutuhan asasi yang dipunyai seorang anak adalah kebutuhan bermain dan berkembang dengan maksimal dalam koridor yang positif. Bagaimana mungkin seorang anak bisa berkembang dengan alami dan maksimal bila sejak kecil ia sudah berkenalan dengan sejumlah make-up, dandanan meniru orang dewasa, aktivitas bejibun seputar konser sana-sini, pemotretan dan syuting sana-sini, dll.

Anak-anak ini kehilangan ruang pribadinya, waktu bermain dan mudah stres atau tertekan karena berada di area dewasa secara mendadak. Apalagi bila umur popularitas itu tak bertahan lama, maka hal ini akan menyebabkan si anak merasa kehilangan perhatian dari khalayak. Peran orangtua dalam hal ini sangat besar dalam membentuk kepribadian anak, apakah akan menjadi sosok rapuh dan semu ataukah menjadi pribadi yang tangguh dan kokoh.

Adik kecil sebagai korban

Idola Cilik menciptakan sebuah dunia lain yang penuh imitasi, semu, dan palsu. Anak-anak pun menjadi besar dalam balutan tubuh yang kecil. Mereka dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Mereka menjadi ?orang dewasa mini’. Menurut seorang psikolog perkembangan anak dari UI, anak-anak seperti ini mengalami loncatan kehidupan dari bermain menjadi bekerja. Gimana nggak, bila sebagian besar waktu mereka habis di lokasi syuting mulai dari persiapan konser, latihan-latihan, permintaan iklan, rekaman untuk nada sambung, atau bahkan main sinetron. Nggak jarang mereka harus bekerja hingga larut malam bila jadwal sudah sedemikian padat. Tak peduli badan yang sudah sangat lelah hingga suara serak dan habis, jadwal syuting harus tetap dijalankan.

Mereka menjadi produk karbitan demi nafsu serakah oknum-oknum budak kapitalis. Gimana nggak, lagu-lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu yang sangat tidak sesuai dengan usia dan perkembangan jiwa anak-anak. Di bawah ini saya kutip dari sebuah mailing list yang prihatin terhadap fenomena idola cilik ini. Berikut tingkah mereka:

“Tak pelnah kulagu dan slalu kuingat kelingan matamu dan sentuhan hangat. Saat itu aku telbawa cinta. Menghilup lindu yang sesakkan dada.. [dinyanyiin sama keponakannya Mona Ratuliu, Kisha]

Yang lebih mengenaskan adalah lirik lagu di bawah ini yang dinyanyikan dengan cadel pula: “Otakmu seksi, itu telbukti dali calamu memikilkan aku. Bibilmu seksi, itu telbukti dali calamu mencium pipiku. Kamulah mahluk Tuhan yang telcipta yang paling seksi. Cuma kamu yang bisa membuatku telus menjelit. Aw aw aw ah ah ah…aw aw aw ih ih ih …” Ancur deh!

Jangankan dinyanyikan oleh anak kecil, sedangkan judul lagunya aja sudah cukup untuk bikin kita merinding. Belum lagi aksi penyanyi aslinya di video klip yang udah terkategori pornografi itu. Bisa dipastikan adik-adik kecil itu telah menontonnya berulang-ulang sebelum akhirnya bisa menghapal lirik lagunya. Sedih rasanya memikirkan sosok generasi mendatang bila fenomena seperti ini yang dijadikan idola.

Sungguh menggiriskan hati. Adik-adik kita menjadi korban dari sebuah gaya hidup fana dan semu. Masih belum puas merusak remaja, perempuan dan ibu atau mama kita dieksploitasi sedemikian rupa, eh adik-adik pun dimangsanya pula. Bukan tak mungkin esok atau lusa, nenek-nenek kita atau bahkan bayi-bayi yang imut diembat juga selama itu bisa mendatangkan materi. Dasar kapitalis!

Materi ini pula yang menjadi penyangga gaya hidup semu ini. Karena sesungguhnya ideologi yang diemban juga nggak jauh-jauh dari sini, Kapitalisme. Kapital atau modal adalah hal yang dikejar dan dipuja melebihi apapun juga. Ditunjang dengan akidah berupa sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), klop sudah ideologi ini merajalela melahap generasi muda untuk menuju jurang kebinasaan. Duhh… akankah semua ini dibiarkan saja?

Idola cilik sejati

Dunia anak adalah dunia bermain, berteman dan belajar memahami sesuatu dari sudut pandang yang baik saja. Nggak boleh mengganggu teman, patuh pada orangtua, rajin belajar demi cita-cita, dan yang utama adalah mengenal Allah dan RasulNya. Inilah seharusnya dunia anak-anak. Dunia yang dibangun penuh keceriaan di atas fitrah kanak-kanak mereka, tanpa polesan yang akan merusak jiwa mereka.

Peradaban yang dibangun di atas pondasi yang rusak pastilah menghasilkan generasi semu seperti halnya adik-adik kita di atas. Peradaban yang dibangun di atas pondasi kuat dan kokoh, pastilah menghasilkan generasi tangguh dan kuat pula. Peradaban mulia ini adalah Islam dengan segenap kisah anak-anak teladan yang seharusnya menjadi idola sejati adik-adik kita.

Ali bin Abi Thalib adalah seorang sahabat Rasulullah yang paling muda. Beliau ini masuk Islam di saat usianya masih 8 tahun. Saat itu ia datang ke hadapan Rasulullah untuk menyatakan dirinya beriman pada Allah dan RasulNya. Tapi Rasulullah sempat menyuruhnya pulang untuk meminta ijin kepada kedua orangtuanya lebih dulu karena usianya yang masih sangat belia. Namun apa jawab Ali ra?

“Ya Rasulullah, bila dulu Allah menciptakanku tidak perlu izin dari kedua orangtuaku, mengapa pula ketika aku ingin beriman padaNya harus meminta ijin pula?” Keren jawabannya!

Tidak berhenti di situ aja, setiap Rasulullah saw. berceramah dan menyampaikan wahyu serta mengadakan majelis ilmu, Ali bin Abi Thalib yang masih sangat imut itu selalu berada di barisan terdepan untuk mendengarkan. Ali pun menjadi tempat rujukan para sahabat lain yang usianya jauh lebih tua bila mereka menginginkan pendapat dan nasihat.

Bila di kalangan cowok ada anak-anak sekaliber Ali bin Abi Thalib, di kalangan cewek ada sebuah nama indah yaitu Asma binti Abu Bakar. Beliau ini dijuluki sebagai Dzatun Nithaqain atau wanita yang memiliki dua ikat pinggang. Itu karena ikat pinggang yang biasa dipakainya, ia belah menjadi dua supaya beban yang ada di atasnya menjadi ringan dan bisa digunakan untuk menyembunyikan makanan dan minuman yang akan dibawa ke gua Hira untuk Rasulullah saw. dan ayahnya ketika hijrah.

Tidak itu saja, ketika Asma masih kanak-kanak pun, jiwa keberanian itu telah nampak pada dirinya. Satu hari, Abu Jahal mendatanginya untuk membujuknya agar mau membuka rahasia di mana posisi ayahnya berada. Tetapi meskipun ia masih kecil, rasa tanggung jawab telah kokoh pada dirinya. Ia tahu apa pun yang keluar dari bibirnya, hal itu akan membahayakan posisi ayahnya dan Rasulullah saw., maka ia memilih diam ketika ditanya dan dibujuk oleh Abu Jahal. “Saya tidak tahu”, adalah jawaban yang diberikannya. Karena keteguhannya memegang tanggung jawab, Abu Jahal pun menampar Asma dengan keras hingga anting-antingnya jatuh. Subhanallah banget tuh!

Bandingkan dua kisah ini dengan ?perjuangan’ adik-adik kita di Pentas Idola Cilik. Bila sudah, sekarang bayangkan masa 20 tahun ke depan ketika mereka ini sudah menjadi besar dan dewasa. Jangan heran bila kondisi bangsa ini tak akan pernah bangkit bila bibit yang ditanam adalah selevel Idola Cilik yang di benaknya cuma popularitas semu dan uang. Jangan heran pula bila nantinya mereka memegang tampuk jabatan sebagai pimpinan negara, maka popularitas dan uang pula yang menjadi tujuan, bukan kesejahteraan rakyat.

Apa peran kita?

Kita nggak akan pernah rela membiarkan perusakan generasi ini berjalan mulus-mulus saja. Kita nggak mau dong adik-adik kecil kita menjadi mangsa kaum kapitalis yang cuma uang dan materi saja tujuannya. Harus ada langkah nyata dilakukan untuk perubahan.

How? Mulai dari diri sendiri dulu dengan sadar bahwa ini semua adalah perangkap dan bagian dari penjajahan bentuk halus. Terus, sadarkan adik-adik kita, keponakan-keponakan kita, anak-anak tetangga plus ortunya tentu saja. Karena yang namanya anak kecil, pembinaan utama masih di tangan orangtua dan guru bagi yang sudah sekolah. Bisakah dikerjakan sendiri-sendiri? Kayaknya nggak mungkin deh. Kita butuh berjamaah, kita butuh bekerjasama, kita butuh saling percaya, dan kita butuh persatuan. Semua itu hanya ada dalam ikatan akidah dan ukhuwah Islamiyah yang kuat nan kokoh.

Yuk, kita sama-sama bahu-membahu untuk menyadarkan umat. Kita campakkan kapitalisme dan sekularisme, terus ambil Islam saja sebagai solusi pembentukan generasi cerdas dan berkualitas. Idola cilik sejati kita persiapkan sejak dini supaya kelak, mental dan karakternya kuat dan tangguh dalam balutan akidah Islam dan tuntunan syariatnya.

Sobat, kita punya Islam yang akan menjadikan pemeluknya berwibawa dan punya harga diri. Bukan Islam sebatas ritual aja, tapi Islam sebagai sistem hidup dan ideologi. Bila ini yang diterapkan, ditanggung pasti populer di dunia-akhirat, insya Allah. Ditanggung pasti oke dah. So, idola cilik? Boleh, tapi dengan standar Islam saja ya sebagai ukurannya. Seeepppp ah! [ria: riafariana@yahoo.com]

Apel Siaga Sejuta Umat Islam

apelsiagafui_1.jpg

apelsiagafui_2.jpg

pamfletapelsiagafui.jpg

apelsiagafui.jpg

Pemerintah Harus Bertanggung Jawab Atas Kenaikan Harga!

[EDISI 401]

Dalam hitungan hari selama bulan Maret dan April 2008 ini, harga sebagian besar barang keperluan sehari-hari melonjak tajam. Di beberapa pasar tradisional di Pekanbaru, misalnya, harga minyak goreng menembus Rp 13 ribu/kg, dari sebelumnya Rp 11 ribu/kg. Minyak goreng kemasan yang biasa dijual Rp 12 ribu/liter, kini dijual Rp 12.500/liter. Harga cabai merah sempat mencapai level tertinggi, yaitu mencapai Rp 40 ribu/kg, sementara sebelumnya Rp 20 ribu/kg. (Riau Pos, 6/3/ 2008).

Gula pasir pun mengalami lonjakan harga dan sampai sekarang masih berlanjut; dari harga eceran Rp 6.800/kg, lalu naik menjadi Rp 7.000/kg, dan kemudian saat ini dijual Rp 7.400/kg. (Wapada Online, 3/4/2008).

Harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional di Bandung juga naik. Harga telur menjadi Rp 12.800/kg, padahal beberapa pekan sebelumnya harganya masih Rp 12.000/kg. (Tribunjabar, 6/42008). Tak ketinggalan pula harga daging ayam. Di sejumlah pasar tradisional di Yogyakarta, misalnya, kenaikan harga ayam mengakibatkan omzet penjualan turun hingga 50 persen. Bahkan beberapa pedagang mengaku sering tidak mengantongi keuntungan sama sekali. Di Pasar Bringharjo, harga daging ayam potong masih dalam kisaran Rp 16.500/kg, padahal minggu sebelumnya hanya Rp 15 ribu/kg. (MetroTV, 7/4/2008).

Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi rakyat kecil. Sudahlah untuk barang-barang kebutuhan pokok semakin lama semakin mahal, rakyat pun harus antri berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mendapatkan bahan-bahan untuk memasak kebutuhan pokok, yakni minyak tanah. Di Makasar, dalam sebuah acara live di TV swasta nasional, seorang ibu bercerita bagaimana kelangkaan minyak tanah terjadi di sana. Hanya untuk mendapatkan minyak tanah 5 liter, ia harus berebut mendapatkan ‘kupon’ jatah pengambilan. Permasalahan belum selesai, ibu tadi harus rela antri panjang untuk mendapatkan jatah minyak tanah. Bahkan sering terjadi, karena tidak kebagian jatah hari itu, banyak yang harus antri lagi hari berikutnya. Kondisi ini merata terjadi hampir di seluruh daerah.

Lalu, seiring dengan kebijakan Pemerintah untuk mengkonversi pemakaian minyak tanah ke gas, di pasaran harga tabung gas dan isinya justru meroket. Di beberapa daerah di Jakarta, misalnya, tabung dan isinya yang 12 kg mencapai Rp 700 ribu-750 ribu. Sudah begitu, barangnya pun sulit didapat (Kompas, 15/4/2008).

Alhasil, bukan hanya kelangkaan minyak tanah saja yang semakin merajalela, namun juga gas. Mahal dan langkanya BBM dan gas saat ini jelas karena BUMN-BUMN yang bergerak dalam sektor energi—yang nyata-nyata menguasai hajat hidup orang banyak—dijual atas nama privatisasi kepada para pemilik modal (kapitalis) asing yang berkolaborasi dengan para kompradornya.


Menambah Utang Negara?

Melihat kondisi di atas, apa yang dilakukan Pemerintah justru jauh dari harapan. Di tengah badai krisis ini, Pemerintah malah berkomitmen untuk menambah utang luar negerinya. Pemerintah dan Panitia Anggaran DPR menyepakati untuk menambah target utang luar negeri dalam menutup defisit APBN Perubahan 2008 dari Rp 19.1 triliun jadi Rp 26.4 triliun. Sumber utamanya diharapkan akan diperoleh dari tiga kreditor utama Indonesia: Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan Pemerintah Jepang. Pinjaman yang dicari adalah utang paling mudah dengan persyaratan paling ringan. Upaya untuk mencari utang luar negeri akan dimulai pada 11 April 2008, dalam pertemuan Bank Dunia di Washington, Amerika Serikat. (Pajak.go.id, 10/4/2008)

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulvani Indrawati juga akan mengusahakan pinjaman pada pertemuan Bank Pembangunan Asia di Madrid, Spanyol. “Kami akan mencari dukungan dari lembaga-lembaga keuangan itu, terutama dikaitkan dengan defisit APBN-P 2008 yang bertambah…,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan, Anggito Abimanyu. (Kompas, 10/4/2008).

Upaya Pemerintah menambah utang luar negeri sebenarnya akan membawa Indonesia pada jebakan utang yang semakin dalam. Selain itu, bukankah harga-harga semua kebutuhan pokok yang melonjak tajam adalah akibat persyaratan dari utang kepada IMF yang mengharuskan dicabutnya subsidi-subsidi terhadap kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat?


Pemerintah Wajib Mensubsidi Rakyat

Selain karena sektor energi, khususnya BBM dan gas, yang dikuasai swasta dan asing, yang turut menambah beban rakyat adalah kebijakan pencabutan subsidi, khususnya BBM, oleh Pemerintah. Subsidi untuk rakyat bahkan seolah kebijakan yang harus segera ’dikubur’ oleh Pemerintah di tengah terus membengkaknya defisit APBN saat ini akibat kenaikan harga minyak dunia.

Dalam sistem ekonomi kapitalis yang semakin liberal saat ini, subsidi memang merupakan kebijakan yang tidak populer bahkan dianggap kontraproduktif dengan semangat liberalisasi ekonomi. Indonesia yang saat ini tampak semakin bergerak ke arah ekonomi neoliberal sepertinya semakin berhasrat untuk mencabut subsidi ini. Apalagi besarnya subsidi sering dituduh sebagai penyebab terjadinya defisit APBN.

Jika ekonomi neoliberal cenderung ’mengharamkan’ subsidi, Islam justru sebaliknya. Islam memandang subsidi bukan hanya boleh, bahkan dalam kondisi tertentu wajib atas Pemerintah untuk mensubsidi rakyatnya. Subsidi dapat dianggap salah satu cara (uslûb) yang bisa dilakukan negara (Khilafah), karena termasuk pemberian harta milik negara (i’thâ’u ad-dawlah) kepada individu rakyat. Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah memberikan harta dari Baitul Mal (Kas Negara) kepada para petani di Irak agar mereka dapat mengolah lahan petanian mereka. (An-Nabhani, 2004:119).

Atas dasar itu, negara bisa memberikan subsidi kepada individu rakyat yang bertindak sebagai produsen, seperti subsidi pupuk dan benih bagi petani, atau subsidi bahan baku kedelai bagi perajin tahu dan tempe, dan sebagainya. Bisa juga negara memberikan subsidi kepada individu rakyat yang bertindak sebagai konsumen seperti subsidi pangan (sembako murah), atau subsidi minyak goreng, dan sebagainya.

Subsidi boleh juga diberikan negara untuk sektor pelayanan publik (al-marafiq al-’ammah) yang dilaksanakan oleh negara misalnya: (1) jasa telekomunikasi (al-khidmat al-baridiyah) seperti telepon, pos, fax, internet; (2) jasa jasa transportasi umum (al-muwashalat al-’ammah) seperti kereta api, kapal laut, dan pesawat terbang. (Zallum, 2004: 104).

Subsidi untuk sektor energi (seperti BBM dan listrik) dapat juga diberikan negara kepada rakyat. Namun perlu dicatat, bahwa BBM dan listrik dalam Islam termasuk barang milik umum (milkiyah ‘âmmah). Dalam distribusinya kepada rakyat, Khalifah tidak terikat dengan satu cara tertentu. Khalifah dapat memberikannya secara gratis, atau menjual kepada rakyat dengan harga sesuai ongkos produksi, atau sesuai harga pasar, atau memberikan kepada rakyat dalam bentuk uang tunai sebagai keuntungan penjualannya, dan sebagainya. Di sini subsidi dapat juga diberikan agar BBM dan lisrik yang didistribusikan itu harganya semakin murah dan bahkan gratis jika memungkinkan. (Zallum, 2004: 83).

Semua subsidi yang dicontohkan di atas hukum asalnya boleh/mubah. Semua ini adalah hak Khalifah berdasarkan pertimbangan syariah sesuai dengan pendapat dan ijtihadnya demi kemaslahatan rakyat. (An-Nabhani, 2004: 224).

Namun, dalam kondisi terjadinya ketimpangan ekonomi, pemberian subsidi yang asalnya boleh/mubah ini menjadi wajib hukumnya, karena mengikuti kewajiban syariah untuk mewujudkan keseimbangan ekonomi (at-tawazun al-iqtishadi) (Thabib, 2004: 318; Syauman, t.t.: 73). Ini karena Islam telah mewajibkan beredarnya harta di antara seluruh individu dan mencegah beredarnya harta hanya pada golongan tertentu:

كَيْ لاَ يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ اْلأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian. (QS al-Hasyr [59]: 7).

Nabi saw. pernah membagikan fai` Bani Nadhir (harta milik negara) hanya kepada kaum Muhajirin, tidak kepada kaum Anshar, karena Nabi saw. melihat ketimpangan ekonomi antara Muhajirin dan Anshar. (An-Nabhani, 2004: 249).

Karena itu, di tengah naiknya harga minyak mentah dunia sekarang dan lonjakan harga-harga kebutuhan pokok rakyat, subsidi bagi rakyat bukan hanya boleh/mubah, namun sudah menjadi wajib hukumnya atas Pemerintah, agar ketimpangan di masyarakat antara kaya dan miskin tidak semakin lebar.

Khusus untuk sektor pendidikan, keamanan dan kesehatan, Islam bahkan telah mewajibkan negara menyelenggarakan pelayanan ketiga sektor tersebut secara cuma-cuma bagi rakyat (Abdul Ghani, 2004).


Wahai Kaum Muslim:

Sudah saatnya negeri ini melepaskan diri dari berbagai kebijakan ekonomi neoliberal—seperti privatisasi, utang luar negeri, pencabutan subsidi, dll—yang nyata-nyata merugikan rakyat banyak. Sudah saatnya negeri Indonesia yang kaya-raya ini diatur oleh sistem ekonomi yang berbasis syariah, yang akan menjamin kemakmuran, kesejahteraan pemerataan dan keadilan bagi masyarakat. Itulah sistem ekonomi Islam; sebuah sistem yang hanya mungkin ditegakkan dalam wadah sistem politik dan pemerintahan Islam. Itulah Khilafah Islamiyah yang menerapkan syariah Islam secara total dalam kehidupan.

Ingatlah, penerapan syariah Islam secara total dalam kehidupan adalah wujud nyata ketakwaan kita kepada Allah SWT. Hanya dengan itulah keberkahan hidup akan dirasakan oleh semua:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Andai saja penduduk bumi beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan menurunkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatannya itu (QS al-A‘raf [7]: 96).

Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []

Komentar:

Utang Pemerintah bertambah Rp 97,7 triliun (Kompas, 15/4/2008).

Krisis ekonomi Indonesia antara lain karena Utang LN. Masihkah tidak mau belajar?

 

© Copyright AL-FATIH ZONE 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.