Blogger Themes

News Update :

Kemarin Nabi Saw. Dihina, Kini Islam Dilecehkan

Kamis, 03 April 2008

[Edisi 399]

Penghinaan terhadap Nabi saw. dan Islam memang penuh kesengajaan. Buktinya, penghinaan terhadap Nabi, al-Quran, dan Islam itu sendiri terus dilakukan. Beberapa tahun lalu, Ayaan Hirsi Ali, mencari popularitas dan jabatan politik dengan menghina Islam. Politisi Belanda kelahiran Somalia ini mengecam Islam sebagai agama terbelakang dan merendahkan wanita. Dia juga menuduh Rasulullah Muhammad saw. sebagai orang yang sesat karena menikahi Aisyah ra. yang masih kanak-kanak. Dengan sangat keji, dia menuduh Rasulullah saw. itu pervers (mempunyai kelainan seksual). Hirsi juga membantu Theo Van Gogh membuat film yang berjudul, ”Submission”. Dalam film itu dia menuduh al-Quran mendorong kekacauan dan pemerkosaan terhadap seluruh anggota keluarga. Dalam film itu terdapat adegan seorang Muslimah yang sedang menunaikan shalat dengan berpakaian tembus pandang dan di tubuhnya tertulis ayat-ayat al-Quran.

Luka masih menganga. Pada tahun 2005 lalu, Koran Jyllands-Posten Denmark menerbitkan kartun-kartun Kanjeng Nabi Muhammad saw. Dalam kartun itu digambarkan Rasulullah saw. membawa pedang dan menenteng bom. Bahkan dalam salah satu kartunnya, Rasulullah saw. digambarkan sebagai orang yang bersorban. Di sorbannya terselip bom (terlihat dari bentuk dan sumbunya). Lalu Januari 2006 kartun-kartun itu dimuat di media massa Norwegia. Bahkan karikatur-karikatur tersebut muncul di berbagai koran harian Prancis, seperti France Soir. Februari 2008, kartun-kartun tersebut dimuat kembali oleh sebelas media massa terkemuka di Denmark dan televisi nasional; juga sedikitnya tiga harian di Eropa, yaitu Swedia, Belanda dan Spanyol mencetak karikatur penuh kebencian itu.

Hati umat Islam masih sakit! Kini bukan hanya Nabi saw. yang dihina, al-Quran dan Islam juga dilecehkan. Akhir Maret 2008, beredarlah film Fitna. Dalam tayangan awal film tersebut dimunculkan kartun Nabi saw. berserban dan di kepalanya terselip bom. Kartun ini dimuat sebelumnya di berbagai media. Lalu ditayangkan ayat al-Quran dan terjemahannya. Berikutnya digambarkan peristiwa Peledakan WTC dan berbagai peledakan lainnya. Secara keseluruhan, film berdurasi 15 menit tersebut menyebarkan pesan bahwa al-Quran adalah sumber kekerasan, Nabi Muhammad saw. adalah teroris dan Islam adalah agama pemicu kerusakan.

Sebelumnya banyak pihak yang meminta agar film itu tidak diedarkan. Namun, atas nama kebebasan, Geert Wilders, anggota Parlemen Belanda yang membuat film itu, tetap ngotot mengedarkan film itu. Ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukannya penuh kesadaran dan kesengajaan. Film berjudul ”Fitna” itu pun menuai kecaman dari berbagai pihak. Negara-negara Muslim seperti Iran, Bangladesh, Pakistan, dan Yordania langsung bereaksi keras mengecam film ini. Indonesia pun mengutuknya. Kecaman yang sama muncul dari Uni Eropa dan Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-Moon. Menurutnya, film Wilders merupakan film jahat.

Pemerintah Belanda dan Barat Hanya Diam!

Pemerintah Belanda mengaku tidak bisa berbuat banyak melarang film itu. Perdana Menteri Belanda Dr. Jan Peter Balkanende, seperti yang tertulis dalam surat yang ditujukan kepada Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi, mengatakan bahwa Wilders tidak mewakili Belanda. Masih menurut PM Jan Peter, hukum Belanda tidak bisa menindak tegas pemutar film apabila aspek yang ditimbulkan dari film itu belum terlihat. Aparat baru bisa melakukan investigasi apabila film tersebut sudah berdampak pada aspek kriminal di tengah-tengah masyarakat. Sikap seperti ini hanyalah dalih belaka. Bukankah Wilders adalah anggota parlemen yang merupakan salah satu wakil rakyat Belanda? Bukankah kalau Pemerintah Belanda diam berarti membiarkan penghinaan terhadap Islam terus berlanjut? Lihatlah, penghinaan terhadap Islam yang dilakukan di Belanda, bahkan oleh anggota parlemen yang sama bukan kali pertama. Wilders pernah mengatakan al-Quran adalah buku fasis yang menyebarkan kebencian dan kekerasan. Dia juga menyerukan agar al-Quran dilarang, sebagaimana dilarangnya Mein Kampf, buku Hitler. “Muslim yang tinggal di Belanda harus menyobek setengah dari al-Quran. Jika Muhammad tinggal di sini (Belanda) sekarang, aku akan menyuruhnya keluar dari Belanda dengan belenggu,” hina Wilders. Ucapannya itu terdokumentasi dengan baik dalam berbagai situs internet.

Jika dalam faktanya Pemerintah Belanda dan negara-negara Eropa tidak melarang penghinaan terhadap Islam itu dengan dalih kebebasan berpendapat, menunjukkan mereka telah menerapkan standar ganda. Di Eropa siapapun yang meragukan atau mengkritik kebenaran Hollocaust (Pembantaian Massal) yang dilakukan oleh Nazi terhadap orang-orang Yahudi di Eropa akan diseret ke pengadilan sebagai tindakan kriminal. Bukankah mengkritik Hollocaust juga adalah bagian dari kebebasan berpendapat? Mengapa kritik terhadap Hollocaust dilarang, sementara penghinaan terhadap Islam dibiarkan atas nama kebebasaan?

Inkonsistensi dan standar ganda yang demikian mencolok semakin menjelaskan bahwa nilai-nilai Kapitalisme Barat yang sering diklaim sebagai peradaban terbaik dunia saat ini hanyalah dusta belaka. Sungguh sangat mengerikan kalau kebebasan diartikan sebagai bebas menghina agama dan keyakinan orang lain. Jika mereka mengatakan, atas nama kebebasan boleh menghina nabi., kitab dan agama lain, bukankah ini bukti bahwa Kapitalisme yang mereka serukan adalah ideologi kebencian? Bukankah ini fakta lagi bahwa ideologi sekulerisme yang mereka elu-elukan adalah ideologi permusuhan dan karenanya tidak akan mungkin menjadikan dunia penuh dengan kedamaian dan keamanan? Bukankah hal ini pun menjadi bukti bahwa slogan perdamaian dunia hanyalah dusta belaka dan hanya untuk mereka, bukan untuk umat Islam? Bukankah ini juga menegaskan bahwa demokrasi yang mereka bangga-banggakan adalah memecah-belah umat manusia? Jika demikian, bukankah demokrasi, kebebasan dan perang melawan terorisme hanyalah alat mereka untuk menghancurkan dan menghinakan umat Islam? Ini semua menunjukkan kegagalan peradaban Barat yang sangat kronis.

Berdasarkan hal ini juga patut dipertanyakan kampanye yang menolak radikalisme dan mendorong umat Islam menjadi Muslim yang moderat dan toleran terhadap nilai-nilai Barat. Sebabnya, pada saat yang sama Pemerintah Barat justru membiarkan pemikiran ekstrem dan radikal yang menghina Islam dan kaum Muslim atas nama kebebasan. Tidak hanya itu. Tindakan radikal juga dilakukan AS dan Israel terhadap negeri-negeri Islam yang telah menimbulkan banyak korban jiwa. Walhasil, dialog antar peradaban dan dorongan agar menjadi Muslim moderat terkesan dilakukan sekadar untuk membungkam perlawanan umat Islam terhadap negara-negara Barat yang menindas umat Islam dan mendorong umat Islam untuk mau diperlakukan secara semena-mena oleh mereka. Wahai, umat Islam sadarlah!

Kebencian

Penghinaan dan pelecehan Islam yang terjadi berulang-ulang hanyalah menunjukkan kebencian mereka kepada Islam. Itu lahiriahnya. Apa yang ada di dalam hatinya sungguh lebih besar daripada itu. Allah SWT berfirman:

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. (QS Ali ‘Imran [3]:118).

Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut, menyatakan bahwa kebencian telah tampak dari wajah, sikap mereka serta ucapan mereka; namun apa yang mereka tunjukkan tidak mencakup semua kebencian yang ada di dalam dada mereka. Karenanya, jangan heran bila kebencian mereka berulang-ulang dan tidak akan berhenti hingga ada yang menghentikannya. Realitas menunjukkan negara-negara yang ada tidak dapat menghentikan. Aksi, protes dan kutukan pada pelakunya berlalu begitu saja. Hanya Khilafah yang dapat menghentikan para penghina Nabi saw., al-Quran dan Islam secara keseluruhan.

Wahai Umat Islam:

Belumkah tiba saatnya umat Islam untuk sungguh-sungguh berjuang bagi tegaknya Khilafah Islam? Tanpa Khilafah umat menjadi sangat lemah. Ini bukti ke sekian kali, betapa penghinaan terhadap Islam, Nabi Muhammad dan al-Quran menunjukkan bahwa umat Islam dewasa ini memang dalam keadaan yang sangat lemah sehingga gampang diperlakukan secara semena-mena. Khilafah akan menyatukan umat. Dengan persatuan umat, Islam akan menjadi kuat kembali sehingga mampu menegakkan ’izzul Islam wal Muslimin, termasuk melindungi kehormatan ajaran Islam, al-Quran dan Nabi Muhammad saw yang mulia. []

Komentar:

Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, ”Islam menghalalkan homoseksualitas.” (The Jakarta Post, 28/3/2008).

Semoga Allah SWT melaknat siapapun yang menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan.

Leaflet KTT Damaskus 29-30/03/08

بسم الله الرحمن الرحيم

Wahai Sekalian Manusia:
Para Penguasa Anda Tidak Tahu Malu!
Amerika Menyeru Mereka Sebagai Satu Barisan ke Annapolis, Maka Riyadh dan Syam Tidak Ketinggalan …
Amerika Menginginkan Mereka Sebagai Dua Barisan Di KTT Damaskus, Maka Riyadh dan Syam Pun Segera Saling Menjauh!

Hari ini, Konferensi Tingkat Tinggi ke-20 para Penguasa Arab telah selesai diselenggarakan di Damaskus selama dua hari, Sabtu dan Ahad 29–30 Maret 2008. Para peserta KTT telah berdatangan ke Syam. Mereka saling berjabat tangan. Karpet merah pun dihamparkan untuk menyambut mereka. Mereka lalu difoto, makan-makan dan minum-minum. Mereka kemudian berbicara, menulis dan mengeluarkan keputusan… Selanjutnya mereka pulang tanpa membawa manfaat dan faedah. Mereka merasa cukup tanpa membawa “ghanimah”. Bahkan, mereka merasa cukup dengan menimpakan kerugian yang besar terhadap harta milik umat yang digunakan untuk mendanai mereka, dan mendanai penyelenggaraan KTT! Mereka menyebut KTT mereka sebagai jaminan, layaknya mengatakan kepada orang yang terluka, bahwa dia telah sembuh dan orang buta dikatakan sudah bisa melihat!

Siapa saja yang mencermati keputusan-keputusan mereka, pasti tidak akan menemukan sesuatu yang baru, atau bahkan yang mirip baru sekali pun. Mereka hanya mengeluarkan kembali inisiatif lama mereka, mengulang-ulang ungkapan mereka dan memoles kata-kata mereka. Semua itu untuk membuat masyarakat berpikir bahwa mereka selalu kukuh di atas tekad-tekad mereka. Padahal mereka sesungguhnya menelantarkan negeri dan rakyatnya… Meski demikian, mereka kembali berpegang kepada inisiatif Arab yang menghinakan. Mereka menyerukan solusi melalui jalan perundingan dengan Yahudi. Bahkan dengan jalan memaksa Yahudi untuk melakukan perundingan! Padahal mereka sebelumnya lebih paham dibanding yang lain, bahwa negeri mereka yang dicaplok tidak dikembalikan oleh para delegasi perundingan di lobi-lobi pertemuan. Tetapi yang akan mengembalikan negeri mereka adalah mobilisasi pasukan ke medan pertempuran.

Wahai kaum muslim, sesungguhnya mereka, para penguasa itu, sungguh menikmati ketundukan, kehinaan, dan kerendahan, baik mereka yang menghadiri KTT ataupun yang tidak. Hingga seandainya mereka tidak menemukan tuan yang bisa memimpin mereka, pastilah mereka berputar mengelilingi diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa membedakan mana jalan masuk dan mana jalan keluarnya. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak akan bisa kembali (ke jalan yang benar). Seandainya Amerika mempunyai rencana yang disodorkan kepada mereka agar mereka menandatanganinya, lalu Amerika menyerukan mereka, pastilah mereka akan segera menyambutnya. Begitulah yang dilakukan Amerika pada saat mengumpulkan mereka di KTT Beirut untuk menandatangani inisiatif penjualan Palestina 1948 kepada Yahudi dengan restu dari para penguasa Arab. Maka mereka bergegas datang ke Beirut. Mereka berkumpul dan membubuhkan tanda tangan. Akhirnya Palestina 1948 bagi mereka menjadi sesuatu yang telah dilupakan. Sebagai harapan penggantinya akan dihargai dengan Palestina 1967.

Begitulah yang dilakukan Amerika ketika mengumpulkan mereka (para penguasa Arab) di Anapolis. Maka mereka pun bergegas datang ke Anapolis. Tidak ada bedanya antara mereka yang berlabel moderat dengan mereka yang berlabel oposisi. Mereka semuanya pergi ke Anapolis!

Tetapi Amerika hari ini sedang sibuk dengan pemilu. Maka Amerika tidak membebankan rencana yang mendesak untuk mereka tanda tangani, supaya nanti Amerika bisa menyerukan mereka lalu mereka berkumpul untuk seruan itu. Karena itu Amerika menginginkan mereka demikian, sebagai dua barisan. Sebagian mengumumkan diri sebagai pihak yang menentang. Hal itu untuk mengulur waktu hingga Amerika longgar. Sehingga Amerika akan bersegera menyodorkan rencana-rencananya dan pada saat itu mereka akan berkumpul… dan akan berkumpul!

Wahai kaum muslim, apakah Anda sekalian tidak ingin berlepas diri, demi Allah, dari para penguasa itu, mengingkari kemungkaran mereka, mengubah mereka dan menegakkan Khalifah yang mendapat petunjuk yang bisa dijadikan pelindung dan berperang di belakangnya, sehingga penduduk langit dan bumi pun berharap bisa seperti Anda semua? Sesungguhnya para penguasa itu sungguh telah melampaui batas kemunafikan. Mereka mengerahkan kreatifitas dalam memutarbalikkan kebenaran. Mereka menjadikan perundingan yang hina dengan Yahudi sebagai perjuangan. Mereka menjadikan upaya menenangkan front-front di wilayah pendudukan sebagai keteguhan. Mereka menjadikan penjualan negeri melalui kesepakatan pengkhianatan sebagai amanah dan politik yang baik. Mereka pun menciptakan goncangan terhadap tekad mereka, namun mereka berteriak bahwa mereka tetap menjaga tekad mereka! Sungguh benar Rasulullah saw menggambarkan mereka dalam sabda Beliau:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipuan. Di dalamnya para pendusta dianggap benar dan orang yang jujur dianggap bohong. Orang yang berkhianat justru mendapatkan kepercayaan, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat-saat seperti itu, orang ruwaibidhah pun berbicara. Ketika ditanya, “Siapakah ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab: ”Orang pandir (idiot) yang mengurusi urusan masyarakat (HR. Ibn Majah)

Kemudian, wahai kaum muslim, apakah Anda sekalian tidak merasa takut jika Anda tidak mengingkari para penguasa itu, sebaliknya Anda justru diam terhadap mereka dan menaati mereka. Apakah anda tidak takut akan ditimpakan kepada Anda firman Allah Swt:

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ. فَلَمَّا ءَاسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ

Maka Fir`aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut) (TQS. az-Zukhruf [43]: 54-55)

Tidakkah Anda sekalian merasa takut wahai kaum Muslim?

23 Rabiul Awal 1329 H
30 Maret 2008
Hizbut Tahrir

2 Responses “Leaflet KTT Damaskus 29-30/03/08”

  1. iman ti bandung Says:
    April 3rd, 2008 at 12:25 pm

    Inilah Penguasa yang kita bisa dibikin muntah dan eneg karenanya…

  2. Abu Sy@mil Al Pangandarani Says:
    April 3rd, 2008 at 3:20 pm

    Wahai kaum muslimin, andaikan kalian takut untuk menentang penguasa dzolim dan menggantinya dengan kholifah, maka sekali-kali tidak akan menambah rizki dari Alloh dan memperlambat kematian kalian. Begitu pula bila kalian berani menentang dan menghancurkan penguasa dzolim, maka hal itu pun tidak akan mengurangi rizki dan mempercepat kematian kalian. maka, manakah yang mau kalian pilih, menjadi penakut atau pemberani?

http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/04/03/leaflet-ktt-damaskus-29-300308/

Imam Mahdi dan Khilafah

Soal:

Keyakinan kaum Muslim akan kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah semakin meningkat. Namun, ada sebagian yang percaya, bahwa Khilafah akan berdiri sendiri, karena sudah merupakan janji Allah. Caranya, dengan menurunkan Imam Mahdi. Pertanyaannya, benarkan Imam Mahdi yang akan mendirikan Khilafah? Ataukah kaum Muslim yang mendirikannya, kemudian lahirlah Imam Mahdi?

Jawab:

1- Kalaupun ada hadits yang menunjukkan Imam Mahdi akan mendirikan, maka hadits tersebut tetap tidak boleh dijadikan alasan untuk menunggu berdirinya Khilafah. Karena berjuang untuk menegakkan Khilafah hukumnya tetap wajib bagi kaum Muslimin, sebagaimana hadits Nabi:

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةِ اللهِ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَحُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Siapa saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya dia akan menjumpai Allah pada Hari Kiamat dengan tanpa mempunyai hujah. Dan, siapa saja yang mati sedangkan di atas pundaknya tidak terdapat bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (Hr. Muslim)[1]

Manthuq hadits di atas menyatakan, bahwa “Siapa saja yang mati, ketika Khilafah sudah ada, dan di atas pundaknya tidak ada bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” Atau “Siapa yang mati, ketika Khilafah belum ada, dan dia tidak berjuang untuk mewujudkannya, sehingga di atas pundaknya ada bai’at, maka dia pun mati dalam keadaan mati jahiliyah.” Karenanya, kewajiban tersebut tidak akan gugur hanya dengan menunggu datangnya Imam Mahdi.

2- Memang banyak hadits yang menuturkan akan lahirnya Imam Mahdi, namun tidak satupun hadits-hadits tersebut menyatakan, bahwa Imam Mahdilah yang akan mendirikan Khilafah. Hadits-hadits tersebut hanya menyatakan, bahwa Imam Mahdi adalah seorang Khalifah yang saleh, yang akan memerintah dengan adil, dan akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan penyimpangan. Dari Abi Sa’id al-Hudhri ra. berkata, dari Nabi saw. bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَمْتَلِيءَ الأَرْضُ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا، ثُمَّ يَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ أَوْ عِتْرَتِيْ فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا

Hari kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah bumi ini dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Setelah itu, lahirlah seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlu al-Bait), atau keturunanku, sehingga dia memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. (Hr. Ibn Hibban)[2]

Dalam riwayat lain, dari Abdullah, dari Nabi Rasulullah saw. beliau bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمْلِكَ النَّاسَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِىءُ اسْمَهُ اسْمِي وَاسْمَ أَبِيْهِ اسْمُ أَبِيْ فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا وَعَدْلاً

Hari kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah manusia ini diperintah oleh seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlu al-Bait), yang namanya sama dengan namaku, dan nama bapaknya juga sama dengan nama bapakku. Dia kemudian memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan. (Hr. Ibn Hibban)[3]

3- Hanya saja, terdapat riwayat yang menyatakan, bahwa Imam Mahdi tersebut lahir setelah berdirinya Khilafah, bukan sebelumnya. Diriwayatkan dari Ummu Salamah, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

يَكُوْنُ اخْتِلاَفٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ المَدِيْنَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيَخْرُجُوْنَهُ وَهُوَ كاَرِهٌ فَيُبَايِعُوْنَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنَ الشَّامِ فَيُخْسِفَ بِهِمْ بِالبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالمَدِيْنَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أهْلِ العِرَاقِ فَيُبَايِعُوْنَهُ، ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ الشَّامِ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيُظْهِرُوْنَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةِ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيْمَةَ كَلْبٍ فَيُقَسِّمُ المَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ.. وَيُلْقِيَ الإِسْلاَمَ بِجِرَانِهِ فِي الأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِيْنَ ثُمَّ يَتَوَفَّى وَيُصَلِّى عَلَيْهِ الُمسْلِمُوْنَ وَفِي رِوَايَةٍ فَيَلْبَثُ تِسْعَ سِنِيْنَ

“Akan muncul pertikaian saat kematian seorang Khalifah. Kemudian seorang lelaki penduduk Madinah melarikan diri ke kota Makkah. Penduduk Makkah pun mendatanginya, seraya memintanya dengan paksa untuk keluar dari rumahnya, sementara dia tidak mau. Lalu, mereka membai’atnya di antara Rukun (Hajar Aswad) dengan Maqam (Ibrahim). Disiapkanlah pasukan dari Syam untuknya, hingga pasukan tersebut meraih kemenangan di Baida’, tempat antara Makkah dan Madinah. Tatkala orang-orang melihatnya, dia pun didatangi oleh para tokoh Syam dan kepala suku dari Irak, dan mereka pun membai’atnya. Kemudian muncul seorang (musuh) dari Syam, yang paman-pamannya dari suku Kalb. Dia pun mengirimkan pasukan untuk menghadapi mereka, hingga Allah memenangkannya atas pasukan dari Syam tersebut, hingga al-Mahdi merebut kembali daerah Syam dari tangan mereka. Itulah suatu hari bagi suku Kalb yang mengalami kekalahan, yaitu bagi orang yang tidak mendapatkan ghanimah Kalb. Al-Mahdi lalu membagi-bagikan harta-harta tersebut dan bekerja di tengah-tengah masyarakat… menyampaikan Islam ke wilayah di sekitarnya. Tidak lama kemudian, selama tujuh atau, dia pun meninggal dunia, dan dishalatkan oleh kaum Muslim. Dalam riwayat lain dinyatakan, tidak lama kemudian, selama sembilan tahun. ” (Hr. At-Thabrani)

Hadits di atas, dengan jelas menyatakan, bahwa akan lahir Khalifah baru setelah meninggalnya Khalifah sebelumnya. Sebagaimana yang dinyatakan dalam lafadz:

يَكُوْنُ اخْتِلاَفٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ

“Akan muncul pertikaian saat kematian seorang Khalifah. Kemudian keluarlah seorang lelaki..” (Hr. At-Thabrani)

Dengan demikian, pandangan yang menyatakan, bahwa Imam Mahdilah yang akan mendirikan Khilafah Rasyidah Kedua jelas merupakan pandangan yang lemah. Demikian juga pandangan yang menyatakan, bahwa tidak perlu berjuang untuk menegakkan Khilafah, karena tugas itu sudah diemban oleh Imam Mahdi, sehingga kaum Muslim sekarang tinggal menunggu kedatangannya, adalah juga pandangan yang tidak berdasar.

Jadi jelas sekali, bahwa Imam Mahdi bukanlah orang yang mendirikan Khilafah, dan dia bukanlah Khalifah yang pertama dalam Khilafah Rasyidah Kedua yang insya Allah akan segera berdiri tidak lama lagi. Karena itulah, tidak ada pilihan lain bagi setiap Muslim yang khawatir akan mati dalam keadaan jahiliyah, selain bangkit dan berjuang bersama-sama para pejuang syariah dan Khilafah hingga syariah dan Khilafah tersebut benar-benar tegak di muka bumi ini. Allah Akbar.



[1] Lihat, Muslim, Sahih Muslim, juz , hal.

[2] Lihat, Ibn Hibban, Sahih Ibn Hibban, Mu’assasah ar-Risalah, Beirut, cetakan II, 1993, juz XV, hal. 236.

[3] Lihat, Ibn Hibban, Sahih Ibn Hibban, Mu’assasah ar-Risalah, Beirut, cetakan II, 1993, juz XV, hal. 236.

7 Responses “Imam Mahdi dan Khilafah”

  1. iman ti bandung Says:

    Makin Kangen Khilafah…dan tak bisa kucegah!

  2. indonesian revolter Says:

    bring back khilafat. we want indonesia become the next khilafat capital. indonesia is heaven for dawah, indonesia is freedom country, indonesia has the biggest muslim population in this world, indonesia has many natural and human resources, and almost there is no racial problem in indonesia. so those are our reasons why indonesia will be the next khilafat capital, insha Allah. it’s not telling abt nationalism. but it’s telling abt the true and the best condition to build khilafat in the future.
    we must struggle for khilafat, everywhere it will be began. keep fighting ! we just offer indonesia as the next khilafat capital. that’s all :) mmmuuuaaahhhh

  3. allen Says:

    Ingatkah perjuangan sahabat Nabi meluaskan pengaruhnya sampai ke spanyol?? mereka berjuang dengan seluruh kekuatannya untuk mewujudkan hadist nabi

  4. abdullah_gmpl Says:

    Insyallah,KHILAFAH akan tegak sebentar lagi…….,ALLAHU AKBAR!!!!!!

  5. Kabayan Says:

    Subhanallah, walhamdulillah, La ilaha ilallah, Allahu Akbar… insya Allah Khilafah Rasyidah akan segera tegak kembali… AYO UMMAT ISLAM SELURUHNYA SAMBUT KEDATANGANNYA DENGAN PENUH SUKACITA ALLAHU AKBAR…!!!

  6. abu khair Says:

    ya, Khilafah akan Segera Tegak Kembali.
    Yakinlah dengan Janji Allah SWT.
    Marilah Kokohkan Perjuangan Untuk Meraih Kemenangan.
    Allahu Akbar…

  7. ibnuachmadaljirbani Says:

    Allahumma anjizlana maa wa’adtana ‘ala rosulika min ‘audatil khilaafatirroosyidatitstsaaniyati ‘ala minhaajinnabiyika..
    Allahummaj’alnaa min man aqoomahaa biaydiinaa..

http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/04/01/imam-mahdi-dan-khilafah/

Protes Keras Film Fitna

htilogo.jpg

بسم الله الرحمن الرحيم

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Nomor: 128/PU/E/03/08 Jakarta, 31 Maret 2008 M

PERNYATAAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA
“Protes Keras Film Fitna”

Akhirnya film yang menghina Islam itu jadi dirilis. Diantaranya di situs internet liveleak.com. Sebelumnya banyak pihak yang meminta agar film itu tidak diedarkan. Tapi atas nama kebebasan berpendapat Geert Wilders, anggota parlemen Belanda yang membuat film itu, tetap ngotot mengedarkan film berdurasi 15 menit itu. Film berjudul Fitna itu pun menuai kecaman dari berbagai pihak. Negara-negara Muslim seperti Iran, Bangladesh, Pakistan, dan Yordania langsung bereaksi keras mengecam film ini. Kecaman yang sama muncul dari Uni Eropa dan Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-Moon. Menurutnya film Wilders merupakan film jahat.

Tapi pemerintah Belanda mengaku tidak bisa berbuat banyak melarang film itu. Perdana Menteri Belanda Dr Jan Peter Balkanende —seperti yang tertulis dalam surat yang ditujukan kepada Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi— mengatakan Wilders tidak mewakili Belanda. Dan, masih menurut PM Jan Peter, hukum Belanda tidak bisa menindak tegas terhadap pemutar film, apabila aspek yang ditimbulkan dari film itu belum terlihat. Aparat baru bisa melakukan investigasi apabila sudah berdampak pada aspek kriminal di tengah masyarakat.

Penghinaan terhadap Islam bukan kali pertama. Wilder pernah mengatakan Al-Qur’an adalah buku fasis yang menyebarkan kebencian dan kekerasan. Dia juga menyerukan agar Al-Qur’an dilarang, sebagaimana dilarangnya Mein Kampf, buku Hitler. “Muslim yang tinggal di Belanda harus menyobek setengah dari Al-Qur’an. Jika Muhammad tinggal di sini (Belanda) sekarang, aku akan menyuruhnya keluar dari Belanda dengan belenggu“, hina Wilders.

Beberapa tahun sebelumnya, Ayaan Hirsi Ali, mencari popularitas dan jabatan politik dengan menghina Islam. Politisi Belanda kelahiran Somalia ini mengecam Islam sebagai agama terbelakang dan merendahkan wanita. Dia juga menuduh Rasulullah Muhammad saw sebagai orang yang sesat karena menikahi Aisyah ra yang masih kanak-kanak. Dengan sangat keji, dia menuduh Rasulullah saw itu pervers (mempunyai kelainan seksual). Hirsi juga membantu Theo Van Gogh membuat film yang berjudul Submission. Dalam film itu dia menuduh Al-Qur’an mendorong kekacauan dan pemerkosaan terhadap seluruh anggota keluarga. Dalam film itu terdapat adegan seorang Muslimah yang shalat, tapi berpakaian tembus pandang dan di tubuhnya tertulis ayat-ayat Al-Quran.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Memprotes keras pembuatan dan penayangan serta pengedaran film Fitna tersebut. Dan menuntut agar peredaran film itu dihentikan dan Greet Wilders dihukum berat. Bila dalam faktanya, pemerintah Belanda dan negara-negara Eropa tidak melarang penghinaan terhadap Islam itu dengan dalih kebebasan berpendapat, menunjukkan mereka telah menerapkan standard ganda. Di Eropa siapapun yang meragukan atau mengkritik kebenaran Hollocaust (pembantaian massal) yang dilakukan oleh Nazi terhadap orang-orang Yahudi di Eropa akan diseret ke pengadilan sebagai tindakan kriminal. Bukankah mengkritik Hollocaust juga adalah bagian dari kebebasan berpendapat? Mengapa untuk kritik terhadap Hollocaust dilarang, sementara penghinaan terhadap Islam dibiarkan atas nama kebebasaan?

Demikian juga di Perancis, pemakaian kerudung dilarang di sekolah-sekolah umum. Padahal memakai kerudung bagi umat Islam adalah bagian dari kewajiban beragama. Pelarangan ini jelas bertentangan dengan hak kebebasan beragama seorang Muslim. Artinya, sebenarnya negara-negara Barat mengakui, bahwa tidak ada kebebasan yang benar-benar bebas, tanpa ada pembatasan. Terbukti pula bahwa negara mereka sebenarnya bisa bertindak untuk melarang seperti dalam kasus Hollocaust. Sikap pemerintah Belanda yang tidak melarang penghinaan terhadap Islam menunjukan pemerintah Belanda membiarkan terjadinya kejahatan, yakni penghinaan terhadap agama.

Standar ganda seperti ini sering sekali terjadi, terutama pada perkara yang berkaitan dengan Islam dan umat Islam. Hamas yang berjuang membebaskan negerinya dari penjajahan Israel disebut teroris. Sementara tindakan Israel yang menduduki dan membunuh rakyat sipil di Palestina dengan peralatan tempur canggih dan bom berkuatan dahsyat disebut aksi membela diri. Kemudian siapapun yang mengkritik kebijakan Israel ini akan dituduh anti semit.

Inkonsistensi dan standar ganda yang demikian mencolok, membuat kita wajib meragukan nilai-nilai Kapitalisme Barat yang sering diklaim sebagai peradaban terbaik dunia saat ini. Sungguh sangat mengerikan kalau kebebasan diartikan sebagai bebas menghina agama dan keyakinan orang lain. Betapa bahayanya, jika atas nama demokrasi, kebebasan, perang melawan terorisme, siapapun boleh melakukan apapun, termasuk menahan tanpa tuduhan, menyiksa, sampai membunuh orang lain bahkan juga menyerbu, menduduki dan menghancurkan negara lain. Ini semua menunjukkan kegagalan peradaban Barat yang sangat kronis.

2. Sikap pemerintah Barat terhadap umat Islam sekarang ini membuat slogan dialog antar peradaban dan saling menghargai (mutual respect) yang sering dikampanyekan Barat layak dipertanyakan. Di satu sisi, Barat menyerukan dialog peradaban, tapi pada saat yang sama Barat membiarkan penghinaan terhadap peradaban lain seperti penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad saw dan Al-Qur’an. Mereka berbicara tentang dialog peradaban, akan tetapi Barat memaksakan peradaban Barat di negeri-negeri Islam bahkan dengan kekuatan militer seperti yang kini tengah terjadi di Irak.

Dialog peradaban semacam ini dan dalam kondisi seperti ini tidak bisa diterima. Sebab antara Peradaban Barat dan Islam tidak dalam keadaan yang sama posisinya (equal). Peradaban Barat merasa lebih tinggi dan dipaksakan untuk mendominasi peradaban lain.

Juga patut dipertanyakan kampanye yang menolak radikalisme dan mendorong umat Islam menjadi Muslim yang moderat dan toleran terhadap nilai-nilai Barat karena di saat yang sama pemerintah Barat justru membiarkan pemikiran ekstrim dan radikal atas nama kebebasan, menghina Islam dan kaum Muslim. Tidak hanya itu. Tindakan radikal juga dilakukan AS dan Israel terhadap negeri Islam yang telah menimbulkan banyak korban jiwa. Walhasil, dialog peradaban dan dorongan agar menjadi Muslim moderat, terkesan dilakukan sekedar untuk membungkam perlawanan umat Islam terhadap negara-negara Barat yang menindas umat Islam dan mendorong umat Islam untuk mau diperlakukan secara semena-mena oleh mereka.

3. Menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk menekan pemerintah Belanda agar menghentikan peredaran film itu. Serta menyerukan kepada umat Islam untuk sungguh-sungguh berjuang bagi tegaknya khilafah Islam. Tanpa khilafah umat menjadi sangat lemah. Ini bukti ke sekian kali bahwa penghinaan terhadap Islam, nabi Muhammad dan Al-Qur’an menunjukkan bahwa umat Islam dewasa ini memang dalam keadaan yang sangat lemah sehingga gampang diperlakukan secara semena-mena. Khilafah akan menyatukan umat, dan dengan persatuan umat, Islam akan menjadi kuat kembali sehingga mampu menegakkan izzul Islam wal Muslimin, termasuk melindungi kehormatan ajaran Islam, Al-Quran dan nabi Muhammad saw yang mulia.

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796 Email: Ismaily@telkom.net

Gedung Anakida Lantai 7
Jl. Prof. Soepomo Nomer 27, Jakarta Selatan 12790
Telp / Fax : (62-21) 8353253 Fax. (62-21) 8353254
Website : http://www.hizbut-tahrir.or.id

April Mop, Tragedi Pembantaian Umat Islam Spanyol

alhambra.jpgTiap tanggal 1 April, ada saja orang—terutama anak-anak muda—yang merayakan hari tersebut dengan membuat aneka kejutan atau sesuatu keisengan. April Fools Day, demikian orang Barat menyebut hari tanggal 1 April atau lebih popular disebut sebagai ‘April Mop’. Namun tahukah Anda jika perayaan tersebut sesungguhnya berasal dari sejarah pembantaian tentara Salib terhadap Muslim Spanyol yang memang didahului dengan upaya penipuan? Inilah sejarahnya yang disalin kembali sebagiannya dari buku “Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Halloween: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2005)

SEJARAH APRIL MOP

Perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kegembiraan dan kepuasan itu sesungguhnya berawal dari satu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan. April Mop atau The April’s Fool Day berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 atau bertepatan dengan 892 H. Sebelum sampai pada tragedi tersebut, ada baiknya menengok sejarah Spanyol dahulu ketika masih di bawah kekuasaan Islam.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah bisa dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walau sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah Barat yang berupa pegunungan.

Islam telah menerangi Spanyol. Karena sikap para penguasa Islam begitu baik dan rendah hati, maka banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan hanya beragama Islam, namun mereka sungguh-sungguh mempraktekkan kehidupan secara Islami. Mereka tidak hanya membaca Al-Qur’an tapi juga bertingkah laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun mereka selalu gagal. Telah beberapa kali dicoba tapi selalu tidak berhasil. Dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam di Spanyol. Akhirnya mata-mata itu menemukan cara untuk menaklukkan Islam di Spanyol, yakni pertama-tama harus melemahkan iman mereka dulu dengan jalan serangan pemikiran dan budaya.

Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirim alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari ketimbang baca Qur’an. Mereka juga mengirim sejumlah ulama palsu yang kerjanya meniup-niupkan perpecahan di dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan Salib. Penyerangan oleh pasukan Salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang idbantai, juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua, semuanya dihabisi dengan sadis.

Satu persatu daerah di Spanyol jatuh, Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Kristen terus mengejar mereka.

Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara Salib mengetahui bahwa banyak Muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara Salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar dari Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka. “Kapal-kapal yang akan membawa kalian keluar dari Spanyol sudah kami persiapkan di pelabuhan. Kami menjamin keselamatan kalian jika ingin keluar dari Spanyol, setelah ini maka kami tidak lagi memberikan jaminan!” demikian bujuk tentara Salib.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Beberapa dari orang Islam diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah dipersiapkan, maka mereka segera bersiap untuk meninggalkan Granada bersama-sama menuju ke kapal-kapal tersebut. Mereka pun bersiap untuk berlayar.

Keesokan harinya, ribuan penduduk Muslim Granada yang keluar dari rumah-rumahnya dengan membawa seluruh barang-barang keperluannya beriringan jalan menuju pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai tentara Salib bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumahnya. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara Salib menggeledah rumah-rumah yang telah itinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika para tentara Salib itu membakari rumah-rumah tersebut bersama orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.

Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan hanya bisa terpana ketika tentara Salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang tentara Salib itu telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara Salib itu segera membantai dan menghabisi umat Islam Spanyol tanpa perasaan belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Dengan buas tentara Salib terus membunuhi warga sipil yang sama sekali tidak berdaya.

Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman. Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The Aprils Fool Day).

Bagi umat Islam April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas jika ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Sebab dengan ikut merayakan April Mop, sesungguhnya orang-orang Islam itu ikut bergembira dan tertawa atas tragedi tersebut. Siapa pun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, beberapa abad silam.(rizki)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita

April Mop Merupakan Perayaan Pembantaian Umat Islam, Tak Pantas Dirayakan

Umat Islam sangat tidak pantas merayakan “April Mop” atau “The April Fool Day” karena kebiasaan itu dilatarbelakangi peringatan peristiwa pembantaian umat Islam di Spanyol pada 1 April 1487 Masehi.

“Umat Islam banyak yang “latah” dan merayakan April Mop tanpa mengetahui dasar dan asal muasal peristiwa tersebut, ” kata Cendikiawan Muslim Ir.H.Asmara Dharma dalam tulisannya yang dirilis, di Medan, kemarin.

Ia menjelaskan, perayaan April Mop itu diawali peristiwa penyerangan besar-besaran oleh tentara Salib terhadap negara Spanyol yang ketika itu di bawah kekuasaan kekhalifahan Islam pada Maret 1487 Masehi.

Kota-kota Islam di Spanyol seperti Zaragoza dan Leon di wilayah Utara, Vigo dan Forto di wilayah Timur, Valencia di wilayah Barat, Lisabon dan Cordoba di Selatan serta Madrid di pusat kota dan Granada sebagai kota pelabuhan berhasil dikuasai tentara Salib.

Umat Islam yang tersisa dari peperangan itu dijanjikan kebebasan jika meninggalkan Spanyol dengan kapal yang disiapkan di pelabuhan Granada. Tentara Salib itu berjanji keselamatan dan memperbolehkan umat Islam menaiki kapal jika mereka meninggalkan Spanyol dan persenjataan mereka.

Namun, ketika ribuan umat Islam sudah berkumpul di pelabuhan, kapal yang tadinya sandar di pelabuhan langsung dibakar dan kaum muslim dibantai dengan kejam sehingga air laut menjadi merah karena darah.

Peristiwa pembantaian dan pengingkaran janji tersebut terjadi pada 1 April 1487 Masehi dan dikenang sebagai “The April Fool Day.”

Selanjutnya, Dharma menjelaskan, peristiwa “The April Fool Day” itu dipopulerkan menjadi April Mop dengan “ritual” boleh mengerjai, menipu dan menjahili orang lain pada tanggal tersebut tetapi bernuansa gembira.

“Ritual tersebut disyaratkan dengan tidak bolehnya orang yang ditipu dan dijahili itu marah dan membalas, ” katanya. (novel/ant)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/nas


http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/04/01/april-mop-tragedi-pembantaian-umat-islam-spanyol


Musdah Mulia : Islam Mengakui Lesbianisme

Aktivis liberal Siti Musdah Mulia mengatakan, lesbian dan homosekstual diakui dalam Islam. Diskusi juga menyalahkan para ulama yang melarang perilaku menyimpang ini

Hidayatullah.Homosek dan homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam, demikian salah satu ucapan Musdah Mulia dalam sebuah diskusi di Jakarta pada hari Kamis, 27 Maret 2008 kemarin.

Homoseks-Homoseks dan homoseksualitas bersifat alami (wajar) yang diciptakan oleh Allah, seperti itu diizinkan dalam Islam, demikian hasil diskusi yang diselenggarakan di Jakarta itu.

Dalam diskusi itu juga disebutkan, sarjana-sarjana Islam moderat mengatakan tidak ada pertimbangan untuk menolak homoseks dalam Islam, dan bahwa pelarangan homoseks dan homoseksualitas hanya merupakan tendensi para ulama.

Selain diskusi menyalahkan para ulama, juga menuduh banyak Muslim lainnya didasarkan pada penafsiran-penafsiran berfikir sempit dalam pengajaran-pengajaran Islam.

Siti Musdah Mulia wakil Indonesia Conference of Religions and Peace mengutip Surat al-Hujurat (49:3) yang mengatakan bahwa salah satu berkah untuk manusia adalah bahwa semua para laki-laki dan perempuan bersifat sama, dengan mengabaikan etnisitas, kekayaan, posisi-posisi sosial atau bahkan orientasi seksual.

“Tidak ada perbedaan antara lesbian dan tidak lesbian. Dalam pandangan Allah, orang-orang dihargai didasarkan pada keimanan mereka,” dia juga mengatakan dalam diskusi yang diorganisir oleh NGO, Arus Pelangi.

“Dan membicarakan tentang keimanan adalah hak istimewa Allah untuk menghakimi,” ujarnya dikuti koran The Jakarta Post.

“Inti sari dari agama (Islam) adalah memanusiakan manusia, rasa hormat dan memuji mereka.”

Musdah juga mengatakan homoseksualitas dari Tuhan dan sebaiknya dianggap sebagai suatu kelaziman, menambahkan tidak didorong hanya oleh nafsu.

Redaktur Majalah Mata Air, Soffa Ihsan juga mengatakan, penghakuan heterogenitas Islam juga sebaiknya memasukkan homoseksualitas.

Dia mengatakan orang Muslim perlu terus melakukan ijtihad untuk menghindari paradigma lama dengan tanpa mengembangkan interpretasi yang berpandangan terbuka.

Nurofiah dari NU mengatakan yang menyebabkan pelarangan gender akibat kontruk sosial.

“Seperti prasangka bias jender atau patriarchy, prasangka penyimapangan sosial dibuat. Akan benar-benar berbeda jika kelompok yang menguasai menjadi pelaku homoseksualitas, “ katanya.

Selain Musdah Mulia, permbicara yang ikut hadir adalah Nurofiah dari Nahdlatul Ulama (NU), wakil Hizbut Tahrir Indonesia, dan wakil Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kelompok Arus Pelangi mengatakan, di beberapa tempat, di Indonesia, perilaku homosek sudah diakui. “Kita mengetahui bahwa di Ponorogo (Jawa Timur)telah ada pengakuan homoseksualitas,” ujar pemimpin Arus Pelangi, Rido Triawan.

Sementara itu, Wakil MUI dan HTI mengutuk perilaku yang termasuk hombreng ini.

“Ini merupakan suatu dosa. Kita tidak akan mempertimbangkan, menganggap homoseks sebagai musuh, tetapi kita akan membuat mereka sadar bahwa apa yang mereka sedang lakukan adalah salah,” ujar Wakil Ketua MUI, Amir Syarifuddin.

Rokhmat, dari HTI, beberapa kali meminta peserta-peserta homoseksual yang hadir dalam acara itu segera untuk menyesali dan secara berangsur-angsur kembali ke jalan yang benar.

Arus Pelangi dibentuk pada tanggal 15 Januari 2006 di Jakarta dengan kantor secretariat di Jalan Tebet Dalam 4 no 3 Jakarta Selatan. Arus Pelangi, sesuai namanya, adalah NGO tempat mangkalnya kaum lesbian dan, gay, bisexual dan transgender (LGBT).

Dalam pasal keanggotan AD/ART Arus Pelangi disebutkan, “Individu yang mempunyai orientasi seksual LGBT dan/atau individu yang mempunyai orientasi heterosexual yang mempunyai komitmen dalam memperjuangkan hak-hak dasar LGBT.” [jp/cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com; 31/03/2008]


http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/04/01/musdah-mulia-islam-mengakui-lesbianisme/

Piagam Madinah dan Klaim Pluralisme

inside_mosque.jpgPluralisme merupakan paham yang menyatakan bahwa kekuasaan negara harus diserahkan kepada berbagai golongan dan tidak dibenarkan dimonopoli oleh satu golongan. Pluralisme juga sering diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya ragam pemikiran, agama, kebudayaan, peradaban dan lain-lain. Pluralisme membolehkan berdirinya partai apapun sekaligus membolehkan partai-partai itu menyebarkan pemikirannya, Maka pluralisme membolehkan berdirinya partai kufur dan yang menyebarkan ide-ide kufurnya. Kaum Pluralis mengklaim bahwa Piagam Madinah mengakui pluralisme. Penelaahan terhadap piagam Madinah secara seksama akan memberikan kejelasan dalam masalah ini. Piagam Madinah dapat kita rujuk dalam buku-buku sirah dan tarikh karya para ulama terdahulu.[1]

Ketika Rasul saw mendirikan negara Madinah, masyarakat madinah terdiri dari beberapa kelompok.
Pertama, kelompok kaum muslim dari kalangan kaum muhajirin dan anshar, dan ini adalah kelompok mayoritas.
Kedua, kelompok musyrik yang berasal dari kabilah-kabilahn yang ada di Madinah. Mereka sudah terwarnai oleh opini Islam. Mereka sudah tidak nampak sebagai masyarakat tersendiri.
Ketiga, kelompok Yahudi dari berbagai kabilah yang tinggal di wilayah Kota Madinah, termasuk Yahuni Bani Qainuqa, dan kelompok yahudi yang tinggal di luar kota madinah yaitu Yahudi Bani Nadhir dan Bani Quraidzah.Kelompok Yahudi ini merupakan komunitas yang terpisah dengan komunitas kaum muslim, pemikiran dan perasaan mereka berbeda dengan kaum muslim. Begitu pula metode pemecahan masalah diantara mereka. Sehingga mereka merupakan kelompok masyarakat tersendiri yang terpisah dari masyarakat Madinah.

Yahudi sejak lama telah mengintimidasi masyarakat Madinah. Oleh karenanya mereka merupakan masalah yang mungkin muncul paling awal ketika negara Madinah baru berdiri. Masalah ini memerlukan solusi. Rasulullah saw menyusun teks perjanjian yang mengatur interaksi antar kaum muslim dan sesama warga negara, hak dan kewajiban warga negara dan hubungan luar negeri. Piagam ini diawali dengan :[2]

Bismillâh ar-Rahmân ar-Rahîm, ini adalah kitab (ketentuan) dari Muhammad, Nabi saw, untuk mengatur hubungan antara kaum mukmin dan muslim yang terdiri dari orang-orang Quraisy dan penduduk Yatsrib serta siapa saja yang mengikuti, bekerja sama dan berjuah (berjihad) bersama mereka. ….

Secara garis besar Piagam Madinah ini mengatur :

Pertama, interaksi antar kaum mukmin (klausul no. 1-15 dan 17-24)

Kedua, Interaksi kaum mukmin (muslim) dengan warga negara non muslim (Yahudi) yang tunduk kepada hukum Islam sebagai seorang kafir dzimmi.
Antara lain :
“dan bahwa orang-orang Yahudi yang mengikuti langkah kami, maka mereka memperoleh perlindungan dan hak yang sama, mereka tidak akan dimusuhi dan tidak pula dianiaya”(klausul 16);
“dan bahwa orang Yahudi akan mendapat pembagian harta bersama kaum mukmin selama mereka ikut berperang (bersama kaum mukmin)” (klausul 25)

Ketiga, hukum yang diterapkan adalah hukum Islam, Jika terjadi perselisihan maka solusi dan hukumnya dikembalikan kepada hukum Islam. “dan bahwa kalian, apapun yang kalian berselisih tentang sesuatu maka tempat kembalinya adalah kepada Muhammad saw”.(klausul 24)

Keempat, interaksi kaum muslim dengan komunitas yahudi yang ikut menandatangani Piagam Madinah (Yahudi Bani ‘Awf, Bani an-Najjâr, al-Hârits, Sâ’adah, al-Aws, Tsa’labah, Jusyam, Jufnah Buthn min Tsa’labah, Bani asy-Syatîbah, Sekutu Tsa’labah dan teman-teman dekat mereka). Diantaranya :
Kedekatan dan Kekerabatan Yahudi berlaku antar mereka (klausul 35, 36)

“Tidak seorangpun dari mereka boleh keluar (dari Madinah) kecuali dengan izin Muhammad saw” (Klausul 37)
Mereka tidak boleh bekerja sama dengan dan atau memberi bantuan kepada kafir Quraisy (klausul 45-47)
Kota Madinah harus menjadi kota suci (harus dijaga) oleh semua orang yang menandatangai Piagam Madinah, (kalusul 41-43).
“Bahwa peristiwa atau perselisihan yang terjadi diantara orang-orang yang menandatangai piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan kerusakan, maka tempat kembalinya kepada Allah ‘Ajja wa Jalla dan kepada Muhammad Rasulullah saw, dan bahwa Allah menjaga dan berbuat baik kepada orang-orang yang menandatangani piagam ini.” (Klausul no. 44)

Dalam piagam ini belum disebutkan Yahudi Bani Qainuqa’, Bani Nadhir dan Bani Quraidzah. Hal itu karena pada awalnya mereka menolak menandatangani perjanjian Piagam Madinah itu. Namun tidak lama kemudian mereka ikut menyetujui dan menandatanganinya, dan dibuat perjanjian khusus dengan mereka semisal perjanjian Piagam Madinah ini.

Bukan Dalil Pluralisme
Dari paparan singkat ini, jelas bahwa dari sisi komposisi masyarakat Madinah yang diakui dalam Piagam Madinah itu memang terdiri dari beberapa kelompok komunitas. Namun semua kelompok itu tunduk kepada sistem dan hukum Islam. Orang-orang musyrik dan komunitas Yahudi, semuanya tunduk kepada sistem dan hukum Islam, sekalipun mereka masih memegang keyakinan masing-masing dan tidak memeluk Islam.

Mereka juga tidak bebas membentuk kelompok atau kerjasama dengan komunitas lain, tanpa perkenan dari Rasul saw sebagai kepala negara. Bahkan mereka tidak boleh keluar dari Madinah tanpa ijin Rasulullah saw. Menurut piagam Madinah itu, kekuasaan ada ditangan Rasul dan kaum muslim. Karena komunitas kaum musyrik dan komunitas kaum Yahudi justru tunduk kepada Rasulullah saw.

Nampak jelas dari Pagam Madinah bahwa seluruh orang yang terlibat di dalamnya, bukan hanya kaum muslim tetapi juga kaum musyrik dan kaum yahudi dari berbagai kabilah yang disebutkan, tidaklah bebas semaunya, tetapi semuanya terikat dengan sistem dan hukum Islam. Semuanya memiliki tanggung jawab menjaga kota Madinah.

Dari semua itu, sangat jelas bahwa Piagam Madinah tidaklah mengakui pluralisme. Bahkan Pluralisme bertentangan dengan klausul-klausul Piagam Madinah itu sendiri. Dengan demikian masyarakat Madinah yang dibangun oleh Rasulullah bukan masyarakat yang tegak diatas asas pluralisme dan kebebasan. Kenyataan ini sedemikian jelas bagi siapapun, kecuali bagi mereka yang hendak mengingkari fakta nyata yang ada di depan matanya.(Yahya Abdurrahman)


[1] Lihat, Ibn Hisyam, Sirah an-Nabawiyah, cet.i, juz iii, hal. 31-35, Dar al-Jayl, Beirut, 1411; Ahmad bin ‘Abd al-Halim bin Taymiyyah al-Harâni, Abu al-‘Abbas, Ash-Shârim al-Maslûl ‘alâ Syâtim ar-Rasûl, cet I, juz ii, hal. 129-133, Dar Ibn Hazm, Beirut. 1417; Ibn Katsir, al-Bidâyah wa an-Nihâyah, juz iii, hal. 224-226, Maktabah al-Ma’arif. tt; Abu ‘Ubaid al-Qasim, al-Gharîb, no. 517; Ibn Ishaq, Sîrah Ibn Ishaq, hal. 101; Ibn Zanzawayh, al-Amwâl, dari az-Zuhdi, lembaran no 70A-71B, ‘Umar al-Mushili, Wasîlât al-Muta’âbidîn, juz viii, hal. 32B; Sîrah Ibn Sayyid an-Nâs (dari Ishhaq dan Ibn Khutsaymah), juz I, hal. 198. Penggalan-penggalan Piagam Madinah itu banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits shahih. Dalam analisis ini didasarkan pada teks Piagam madinah yang tercantum dalam Sirah an-Nabawiyyah Ibn Hisyam.

[2] Ibn Hisyam, Sirah an-Nabawiyah, cet.i, juz iii, hal. 31-35, Dar al-Jil, Beirut, 1411


http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/04/01/piagam-madinah-dan-klaim-pluralisme/

Kejayaan Khilafah (1) : Bimaristan , Konsep Ideal Rumah Sakit Islam

hospital4.jpgSeperti yang ditulis dalam kitab Ajhizatu Daulah al Khilafah (Struktur Negara Khilafah) , Khilafah adalah negara yang manusiawi (daulah basyariah). Karena itu sangat mungkin terjadi kekurangan atau penyimpangan dalam sejarah perjalanan Khilafah. Meskipun sejarah bukanlah dalil hukum syara’, namun dari sejarah kita bisa mengambil pelajaran, setiap penyimpangan dari syariah Islam akan menyebabkan persoalan. Sekali lagi , persoalan muncul , bukan karena sistem Khilafahnya, justru karena penyimpangan dari sistem Khilafah. Walhasil, menolak sistem Khilafah dengan mengutip penyimpangan dalam sistem ini, tidaklah obyektif dan rasional, dan tentu saja tidak jujur. Mengingat,sejarah Khilafah lebih banyak diisi dengan kegemilangan dan kejayaan. Berikut ini kami akan tampilkan beberapa kejayaan di era keemasan Khilafah Islam. (Redaksi)

Sebelum Islam datang dan mencapai masa kejayaannya, dunia ternyata belum mengenal konsep rumah sakit (RS), seperti saat ini. Bangsa Yunani, misalnya, merawat orang-orang yang sakit di petirahan yang berdekatan dengan kuil untuk disembuhkan pendeta. Proses pengobatannya pun lebih bersifat mistis yang terdiri dari sembahyang dan berkorban untuk dewa penyembuhan bernama Aaescalapius.

Menurut Ketua Institut Internasional Ilmu Kedokteran Islam, Husain F Nagamia MD, sederet RS baru dibangun dan dikembangkan mulai awal kejayaan Islam. Pada masa itu tempat mengobati dan merawat orang yang sakit dikenal dengan sebutan `Bimaristan’ atau ‘Maristan’. ”Ide membangun RS sebagai tempat merawat orang sakit mulai diterapkan pada awal kekhalifahan Islam,” papar Husain.

RS pertama dibangun atas permintaan Khalifah Al-Walid (705 M - 715 M) - seorang khalifah dari Dinasti Umayyah. Tempat perawatan yang dikenal dengan nama `Bimaristan’ itu disediakan tak hanya pagi penderita leprosoria tapi juga bagi penderita lepra yang saat itu merajalela. Untuk merawat para pasien itu, khalifah menggaji tenaga perawat dan dokter.

”RS Islam pertama yang sebenarnya dibangun pada era kekuasaan Khalifah Harun Al-Rasyid (786 M - 809 M),” ungkap Husain. Setelah berdirinya RS Baghdad, di metropolis intelektual itu mulai bermunculan RS lainnya. Konsep pembangunan beberapa RS di Baghdad itu merupakan ide dari Al-Razi, dokter Muslim terkemuka.

Dalam catatan perjalanannya, seorang sejarawan bernama Djubair sempat mengunjungi Baghdad pada 1184 M. Ia melukiskan, RS yang ada di Baghdad seperti sebuah `istana yang megah’. Airnya dipasok dari Tigris dan semua perlengkapannya mirip istana raja. Menurut Dr Hossam Arafa dalam tulisannya berjudul Hospital in Islamic History pada akhir abad ke-13, RS sudah tersebar di seantero Jazirah Arabia.

Pada era keemasan, RS Islam yang tersebar di kawasan Arab itu memiliki karakteristik yang khas. Pertama, RS Islam melayani semua orang tanpa membedakan warna kulit, agama, serta latar belakang asal usul lainnya. RS Islam dikelola pemerintah. Direkturnya biasanya seorang dokter. Di RS itu semua dokter dengan keyakinan agama yang berbeda bahu-membahu bekerja sama untuk menyembuhkan pasiennya.

Kedua, sudah menerapkan pemisahan bangsal. Pasien pria dan wanita menempati bangsal yang terpisah. Penderita penyakit menular juga dirawat di tempat yang berbeda dengan pasien lainnya. Ketiga, pembagian perawat. Perawat pria bertugas merawat pria dan perawat wanita merawat pasien wanita.

Keempat, memperhatikan kamar mandi dan pasokan air. Shalat lima waktu merupakan rukun Islam yang wajid bagi setiap Muslim. Baik dalam kondisi sehat maupun sakit, shalat tetap merupakan sebuah kewajiban. Meski begitu, orang yang sakit mendapat keringan untuk melaksanakan shalat berdasarkan kemampuan fisiknya.

Bagi mereka yang tak mampu, bisa shalat sembari tidur di atas kasur. Sebelum menunaikan ibadah shalat, setiap Muslim harus berwudhu membersihkan muka, tangan, kepala dan kaki. Untuk memenuhi kebutuhan itu, RS menyediakan air yang melimpah dengan dilengkapi fasilitas kamar mandi.

Kelima, tak sembarang dokter bisa berpraktik di RS. Hanya dokter-dokter yang berkualitas yang diizinkan untuk mengobati pasien di RS. Khalifah Al-Mugtadir dari Dinasti Abbasiyah sangat memperhatikan betul kualitas dokter yang bertugas di RS. Untuk memastikan semua dokter berkualitas, khalifah memerintahkan kepala dokter istana, Sinan Ibn-Thabit untuk menyeleksi 860 dokter yang ada di Baghdad.

Dokter yang mendapat izin praktik di RS hanyalah mereka yang lolos seleksi yang ketat. Tak hanya di Baghdad, khalifah juga memerintahkan Abu Osman Sa’id Ibnu Yaqub untuk melakukan seleksi serupa di wilayah Damaskus, Makkah dan Madinah. Hal itu dilakukan, lantara dua kota suci itu setiap tahunnya dikunjungi jamaah haji dari seluruh dunia.

Keenam, RS Islam pada zaman kekhalifahan tak hanya sekedar tempat untuk merawat dan mengobati orang sakit. RS juga berfungsi sebagai tempat menempa mahasiswa kedokteran, tempat pertukaran ilmu kedokteran, dan pusat pengembangan dunia kesahetan dan kedokteran secara keseluruhan. RS besar dan terkemuka dilengkapi dengan perpustakaan mewah yang memiliki koleksi buku-buku terbaru. Selain itu, RS Islam zaman kekhalifahan juga dilengkapi auditorium untuk pertemuan dan perkuliahan. Di kompleks RS juga berdiri mess atau perumahan untuk mahasiswa kedokteran serta staf RS.

Ketujuh, untuk pertama kalinya dalam sejarah, RS Islam menyimpan data pasien dan rekam medisnya. Konsep itu hingga kini digunakan RS yang ada di seluruh dunia. Kedelapan, selama era Islam ilmu farmasi dan prpfesi apoteker telah berkembang menjadi ilmu dan profesi terkemuka.

Apotek dan apoteker sudah berkembang pesat. Tak heran, jika obat-obatan baru tiap waktu terus bermunculan. Pada saat itu, umat Islam yang menguasai perdagangan telah menjalin kontak dengan bangsa-bangsa terkemuka di dunia. Ilmu kimia yang menopang farmasi juga berkembang pesat.

RS di era keemasan Islam bertugas untuk merawat seluruh pasien baik laki-laki maupun perempuan sampai benar-benar sembuh. Tak hanya itu, seluruh biaya ditanggung pihak RS. Mereka yang dilayani secara prima dan cuma-cuma itu bisa pendatang, orang asing, orang pribumi, kaya atau miskin, bekerja atau pengangguran, bodoh atau pintar, cacat atau normal diperlakukan secara sederajat dan adil.

Tak ada persyarakat tertentu dan pembayaran. Tak ada pasien yang ditolak untuk dirawat dan berobat. Semua pelayanan di RS itu dilakukan dengan mengharap keridhaan Sang Pencipta, Allah SWT. Lagi-lagi, Islam lebih dulu unggul dan maju dibanding Barat.

Konsep RS Islam di era keemasan yang begitu modern itu kemudian ditiru dan dijadikan model oleh bangsa-bangsa di Eropa. Tak cuma itu, Barat juga banyak mempelajari kitab-kitab kedokteran yang dihasilkan para dokter Muslim. Adakah RS Islam di Indonesia yang meniru konsep RS di era keemasaan Islam itu? (Republika; 18/03/2008)


http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/03/31/kejayaan-khilafah-1-bimaristan-konsep-ideal-rumah-sakit-islam/

 

© Copyright AL-FATIH ZONE 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.